RABU , 13 DESEMBER 2017

Teliti Pendidikan Terbaik di Dunia, IYL ke Finlandia

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Senin , 09 Oktober 2017 10:55
Teliti Pendidikan Terbaik di Dunia, IYL ke Finlandia

(ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Tak lengkap rasanya jika studi komparasi tentang pendidikan dasar tidak menyertakan Finlandia. Pasalnya di salah satu negara yang terletak di Eropa ini, sejak dulu sistem pendidikannya dikenal terbaik di dunia.

Itu sebabnya, Ichsan Yasin Limpo (IYL) yang melakukan penelitian di tujuh negara untuk penyusunan disertasi gelar doktornya, memasukkan Finlandia sebagai salah satu negara yang patut dibandingkan sistem penerapan pendidikannya, demi bahan masukan kualitas pendidikan di Indonesia yang lebih baik kedepannya.

Ichsan yang selama beberapa hari melakukan penelitian di Belanda, menjadwalkan akan bertolak ke Helsinki, Finlandia untuk merampungkan penelitiannya sebelum menyusun disertasi tentang pendidikan dasar dari perspektif hukum di Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.

Sesuai informasi, IYL yang sengaja mengikutkan beberapa guru besar di bidang pendidikan di Indonesia untuk bersama membandingkan penerapan pendidikan di luar negeri, akan berangkat ke Finlandia, Senin (09/10/2017) waktu setempat, melalui Bandara Praha Republik Ceko ke Bandara Helsinki.

“Insya Allah, besok (hari ini), saya melanjutkan penelitian ke Finlandia. Jadwal berkunjung ke sekolah maupun instansi terkait di bidang pendidikan, itu sudah dijadwalkan selama dua hari kedepan,” terang IYL saat dikonfirmasi, Senin (09/10/2017) dinihari waktu Indonesia.

Selama berada di Finlandia, IYL akan mendalami beberapa inovasi pendidikan di negara tersebut. Mulai dari batas umur untuk masuk ke SD, tidak menjadikan ujian dan PR sebagai evaluasi guru, hanya satu tes standar yang diterapkan saat berusia 16 tahun, beasiswa selama 9 tahun, maupun sekira 66 persen anak di Finlandia yang mengeyam pendidikan sampai perguruan tinggi.

Di samping itu, IYL yang memang sangat peduli terhadap pendidikan juga akan membandingkan mengenai tak ada jurang pemisah antar siswa yang pandai dengan siswa yang paling tertinggal di kelas, kelas sains yang hanya diisi maksimal 16 siswa, jumlah mata pelajaran yang diterapkan di SD, SMP-SMA, maupun waktu yang digunakan untuk belajar serta praktek bagi siswa.


div>