MINGGU , 19 AGUSTUS 2018

10 Parpol “Keok” di Makassar

Reporter:

Armansyah - Fahrullah - Suryadi

Editor:

asharabdullah

Jumat , 29 Juni 2018 13:28
10 Parpol “Keok” di Makassar

Dok. RakyatSulsel

– Kawal Suara Rakyat, Panwaslu Amankan C1
– Tunggu Perhitungan KPU!

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kemenangan kolom kosong di Pemilihan Wali Kota (Piwalkot) Makassar versi hitung cepat, menjadi “tamparan keras” bagi sepuluh Partai Politik (Parpol) pengusung paslon tunggal, Munafri Arifuddin – Rachmatika Dewi (Appi – Cicu). Mulai dari Partai Golkar, NasDem, Hanura, PAN, PBB, PKPI, PDIP, Gerindra, PKS, dan PPP.

Sebelumnya, Ketua Umum DPP Partai NasDem, Surya Paloh, menegaskan, kemenangan kolom kosong di Pilwalkot Makassar versi quick count lembaga survei tersebut tamparan keras bagi pasangan calon tunggal Appi – Cicu. Walau begitu, Paloh tetap mengimbau paslon tunggal itu untuk introspeksi penyebab kekalahan mereka.

“Ada kaca besar yang bisa kita lihat wajah kita, bertanya pada diri kita, kepantasan kepatutan kalau kita mau menawarkan diri kita jadi pemimpin, sudah pantas atau kurang. Saya pikir itu tamparan ya. Bagaimana kita lawan kotak kosong dan kotak kosong yang lagi menang. Ya tetapi disinilah sebenarnya hikmahnya bahwa suatu proses pembelajaran politik yang baik sesuai menurut kita,” kata Surya Paloh.

Ketua DPD Golkar Makassar yang juga Ketua Tim Pemenangan Appi – Cicu, Farouk M Beta, masih yakin jika kemenangan ada pihak Appi – Cicu. Klaim tersebut disampaikan berdasarkan form C1 dan rekap yang dilakukan hingga Kamis (28/6) pukul 16.00 Wita, dimana Appi – Cicu unggul 51,45 persen dibanding kolom kosong yang hanya 45,55 persen.

“Dengan selesainya rekap C1, kami sangat optimistis jika pasangan yang diusung oleh sepuluh partai politik ini, sama dengan putusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Makassar. Apa yang mejadi data kami, pasti akan sama dengan 100 persen data KPU nanti,” kata Aru, sapaan akrab Farouk, Kamis (28/6).

Aru mengklaim unggul di lima kecamatan di Makassar. Diantaranya, Manggala dan Tamalate. Soal suara kolom kosong yang hampir menyamai suara paslon tunggal, ia menuding, yang menggerakkan kolom kosong adalah orang berpengaruh di Makassar. Iapun meminta publik tidak menyamakan antara Makassar dengan Bone dan Enrekang, yang pilkadanya juga hanya diikuti paslon tunggal.

“Anda sendiri tau siapa yang mengggerakkan kolom kosong. Dan kami tau bagaimana cara kerjanya. Jangan samakan yang ada di Enrekang dan Bone,” ujarnya.

Bendahara Partai Golkar Makassar, Rahman Pina, juga tak ingin mendahului hasil perhitungan resmi KPU. Ia meminta semua pihak menunggu dan menanti hasil resmi KPU Makassar.
“Kami tak mau mendahului KPU. Kami hargai apa keputusan KPU, sehingga tidak mau bicara teknis hukum ke tingkat lanjutan,” tegasnya.

Menurutnya, tim Appi – Cicu punya data valid di lapangan. Sehingga, apa yang disampaikan ke posko pemenangan sesuai data di lapangan.

“Besok masuk perhitungan di PPK. Yang bekerja hanya KPU, tak ada pemerintahan. Kami akan kawal secara ketat. Kami harap pemerintah kota jangan sibuk sendiri melakukan pengawasan,” pungkasnya.

Optimisme kemenangan paslon tunggal juga disampaikan Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Makassar, Busranuddin Baso Tika. Menurutnya, hasil quick count yang mengunggulkan kolom kosong tidak bisa dijadikan patokan, karena hanya mengambil sampel di beberapa kecamatan di Kota Makassar. Sedangkan di Makassar, ada 2.670 Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Lembaga survei yang mengunggulkan kolom kosong hanya mengambil sampel secara acak dan mereka tidak bisa mengawasinya. Dan saat ini saya yakin dengan adanya C1 yang telah masuk 100 persen, yakin juga bisa menang 100 persen,” pungkasnya.

Terpisah, Relawan Kotak Kosong Komandan Rakyat Sektor Utara, Irwan, menantang kubu Appi – Cicu membuka data hasil pemungutan suara. Pasalnya, di Sektor Utara khususnya Kecamatan Tallo, berdasarkan data C2 kwk plano, memenangkan kolom kosong sebesar 52 persen. Justru berbeda data dimana tim paslon Appi-Cicu, menurut real count yang dilakukan sendiri, memperoleh suara khusus di Kecamatan Tallo mencapai 51 persen.

“Jika mereka (Appi-Cicu) mengklaim C1, maka kita (kolom kosong) buktikan dengan C1 kwk plano. Kalau tim Appi-Cicu mengklaim menang di Kecamatan Tallo 51 persen, kami tantang datanya dari mana?” ungkap Irwan.

Lanjut Irwan, jika tim Appi – Cicu menggunakan form C1, maka pihaknya memiliki pembanding yaitu C2 kwk plano yang digunakan untuk menghitung suara, dan dilakukan perubahan jika ada kesalahan dengan disaksikan anggota dan masyarakat umum.

“Tidak ada ruang untuk berbohong, form C1 bisa saja salah, tapi C2 jika ada kesalahan diperbaiki saat itu, dan kesalahannya itu dicoret dan disaksikam anggota dan masyarakat,” terangnya.

Ia pun memperingatkan tim paslon Appi – Cicu untuk menjaga agar Kota Makassar tetap kondusif dan menjaga kedamaian. Karena kalau memaksakan kehendak untuk menang, maka akan berhadapan dengan suara rakyat.

“Stop menyebar isu hoax tentang survei yang memenangkan anda, karena survei maupun real count anda tidak jelas metodologi sampai prosesnya. Jangan menggiring opini rakyat,” tantang Irwan.

Sementara, Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Makassar bergerak cepat mengambil salinan form C1 (surat suara) di setiap TPS. Tujuannya, untuk menghindari adanya potensi kecurangan yang kerap terjadi pasca pemilihan.

Ketua Panwaslu Kota Makassar, Nursari, mengatakan, pihaknya sudah mengamankan salinan form C1 atau surat suara di 2.670 TPS. Saat ini, seluruh Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di tiap TPS telah mengumpulkan kotak suara di tiap kecamatan, dan melakukan rekapitulasi. Pada saat bersamaan, anggota panwas juga melakukan pengawasan rekap tersebut.

“Teman-teman dari panwascam akan menjaga dan bertanggungjawab soal pendistribusian surat suara,” janji Nursari.

Anggota yang disiapkan untuk mengawas dan mengawal kotak suara, kata Nursari, diberikan porsi yang sama, sehingga pengawasan bisa berjalan maksimal. “Instruksi kita adalah bahwa semua bertanggung jawab dengan kecamatan dan kelurahannya masing-masing. Kalau ada apa-apa, pasti panwascam yang pertama dimintai tanggung jawab,” tegasnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan “Danny” Pomanto, menyerahkan pengawalan kotak suara ke masyarakat dan pihak terkait. Seperti RT/RW, Lurah, Camat dan Panwaslu.

“Seluruh masyarakat jadi pengawas dan kita hadir sebagai saksi dalam pilkada ini. Moment ini lima tahun sekali, dan harus dimanfaatkan dengan baik. Satu suara kita menentukan 1,7 juta nasib penduduk Kota Makassar,” kata Danny. (*)


div>