SENIN , 22 OKTOBER 2018

Catat 4 Hal di Survei SMRC, Peneliti Australia Sebut jadi Ancaman buat Jokowi

Reporter:

Editor:

faisalpalapa

Senin , 18 April 2016 08:13
Catat 4 Hal di Survei SMRC, Peneliti Australia Sebut jadi Ancaman buat Jokowi

int

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM__ Presiden Joko Widodo diminta untuk tidak terlalu puas atas hasil capaiaannya seperti yang dirilis Saiful Mujani Research and Conslting (SMRC)‎. Hal itu disampaikan Peneliti Partai Politik asal Australia National University (ANU) Marcus Mietzner.

Kata dia, ada empat hal yang menjadi ancaman bagi kepemimpinan Jokowi. Pertama, terkait inflasi. Studi ilmuan politik menyatakan ada korelasi antara inflasi dengan kepuasan pemerintahan. Berpandangan dari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kala itu pemerintahannya seketika dianggap lemah lantaran inflasi merangkak naik yang disebabkan harga minyak dunia tinggi. Lantas, dukungan terhadap SBY ketika pemilu pun beralih ke Jokowi.

‎Hal ini bisa terjadi pula kepada Jokowi pada 2019 mendatang. Inflasi saat ini memamg menurun lantaran minyak dunia turun. Namun, bagaimana ketika minyak dunia kembali tinggi, tentu katanya situasi akan berubah. “Keadaan ini bukan sesuatu yang (bisa) membuat Jokowi puas,” ujarnya menjawab hasil survei Saiful Mujani Research and Conslting (SMRC)‎, Minggu (17/4).

Kedua, soal kestabilan politik. Pada prinsipnya, masyarakat puas bila politik stabil. Golkar, PAN, dan PPP telah bergabung dengan pemerintah. Ini bukanlah platform yang ditawarkan Jokowi di 2014. ‎

Sebab, kala itu, Jokowi mengatakan tidak ingin semua partai bergabung dengan pemerintah. Bahkan kala itu disampaikan tantangan terhadap elit dan oligarki. “Tapi (nyatanya) platform ditinggalkan. Sekarang seperti SBY saja. Stabil, tenang, padahal konflik penting bagi demokrasi. Tanpa konflik demokrasi tak akan berkembang,” tegas Marcus.

Ketiga, terkait BPJS Kesehatan. Dalam rilis survei dikatakan bahwa masyarakat puas terhadap asuransi kesehatan itu. Namun, ada satu masalah. Yakni, banyak orang baru yang mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS Kesehatan. Semakin bertambahnya peserta akan menjadi beban bagi pemerintah. Pemerintah perlu menyediakan anggaran besar untuk menambal iuran peserta BPJS yang terbilang rendah untuk pengobatannya.

“Nggak mungkin dengan 2 dollar bisa biayai kesehatan. Tiga tahun ke depan bagaimana? Apa deket pemilu orang akan puas? Sistem yang ada tak bisa layani semua orang. Atau sistem BPJS akan runtuh,” ucapnya mengingatkan. ‎

Terkahir, soal kepuasan terhadap infrastruktur. Jokowi terbilang ambisius dengan pembangunan infrastruktur. Ia pun menjanjikan sejumlah proyek insfrastruktur di rentang masa jabatannya itu.
Namun, menurutnya Jokowi jangan terlalu banyak mengumbar janji. “2018, satu tahun sebelum pemilu (Pilpres 2019), saya khawatir banyak warga bertanya proyek yang anda janjikan dimana. Banyak angka puas (dalam rilis SMRC) jangan terlalu percaya. Kalau dia percaya, akan aman, itu berbahaya,” pungkas Marcus (dna/JPG)


div>