SELASA , 21 AGUSTUS 2018

13 Mahasiswa UMI Diskorsing Satu Semester

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Senin , 25 April 2016 12:20
13 Mahasiswa UMI Diskorsing Satu Semester

ASEP/RAKYATSULSEL/D BUBARKAN DEMONSTRAN. Wakil Rektor III UMI, Prof Achmad Gani membubarkan mahasiswa yang unjuk rasa memperingati hari April Makassar Berdarah (Amarah) di depan Universitas Muslim Indonesia, Jl Urip Sumoharjo Makassar, Minggu (24/4).

RakyatSulsel.com — Momentum April Makassar Berdarah (Amarah) hampir tiap tahun diperingati di kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Berbagai kegiatan dilakukan, mulai dari zikir bersama hinga aksi solidaritas.

Menanggapi hal tersebut, Rektor UMI Makassar, Prof Dr Masrurah Mokhtar MA mengungkapkan sangat mendukung kegiatan mahasiswa dalam bentuk zikir dan do’a bersama untuk memperingati tragedi Amarah.

“Kalau kegiatan dalam bentuk zikir, doa kami rektorat dan yayasan sangat mendukung penuh. Bila perlu kami memberikan suport dan ikut andil,” ujarnya, Minggu (24/4).

Tak hanya itu, menurut Rektor dua periode ini, pihaknya setiap tahun mengeluarkan surat edaran (SE) agar mahasiswa tak boleh turun ke jalan maupun di area kampus melakukan akasi. Jika kedapatan akan diberikan sanksi. Namun SE ini kadang tidak diindahkan oleh mahasiswa UMI.

“Surat larangannya saya paraf, Rektor UMI mengeluarkan surat edaran untuk pelarangan aktivitas tanggal 23 dan 24 April 2016 dan pelarangan segala jenis atau bentuk kegiatan peringatan Amarah, tapi mahasiswa turun aksi bahkan mengganggu jalan ini akan kami berikan sanksi skorsing,” tuturnya.

Lebih lanjut, Prof Masrurah menegasakan, dalam menyikapi peringatan Amarah yang sering diperingati segelintir mahasiwa UMI tidak bisa dibiarkan. “Ada kamera menangkap muka sebagian dan kami akan berikan sanksi skorsing selama 1 semester,” tegasnya.

[NEXT-RASUL]

Sementara Wakil Rektor III UMI, Bidang Kemahasiswaan, Achmad Gani menyampaikan bahwa langkah-langkah telah dilakukan untuk pencegahan. Diawali dengan rapat koordinasi dengan wakil Dekan III di lingkup fakultas untuk menindaklanjuti surat edaran rektor UMI dan bersama-sama mengantisipasi setiap aktivitas yang mengarah kepada anarkis.

“Meski ada larangan memperingati Amarah, namun mahasiswa tetap membangkang. Pihak Rektor UMI pun segera menjatuhkan sanksi tegas kepada mahasiswa yang terlibat aksi. Dari total sekitar 150 orang, kami sudah mengantongi 13 nama mahasiswa yang akan diberi sanksi karena melanggar edaran larangan memperingati hari Amarah,” tegas Acmad.

Menurutnya, adapun mahasiswa yang melakukan aksi kebanyakan berasal dari fakultas Hukum dan teknik. Ia mengatakan, kebanyakan mahasiswa yang turun aksi ini sebenarnya belum mengentahui bagaimana sejarah Amarah.

“Tadi ada mahasiswa sempat ditanya dia tau tidak sejarah amarah, dengan spontan mahasiswa itu menjawab tidak tahu,” ungkapnya.

Dia menambahkan, dalam aksi mahasiswa ada pihak oknum lain yang menunggangi sehingga ingin membuat kekacauan di lingkup UMI.

“Dikuatirkan ada yang menunggangi aksi demonstrasi ini, hanya segelintir oknum senior yang memaksa juniornya untuk melakukan aksi demo peringati Amarah. Oknum senior ini memaksa bahkan mengancam,” tutupnya.

[NEXT-RASUL]
Terpisah, saat dikonfirmasi, salah seorang aktivis yang juga pelaku sejarah Amarah saat itu, dan saat ini menjadi pakar politik UMI Makassar Saifuddin Almughniy menjelaskan, heroisme gerakan mahasiswa di tahun 1996 adalah bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah dalam hal ini Walikota Ujungpandang saat itu.

“Dalam berbagai sudut pandang mungkin sebagian orang menilai bahwa ini hanya sebuah dongeng atau semacam legenda. Namun ini bukan legenda tetapi gerakannya yang menglegenda sebab perlawanan mahasiswa terhadap negara adalah ketika saat itu walikota hanya menaikkan tarif angkutan kota dari 100 rupiah menjadi 150 rupiah dan itu menciptakan penolakan dari semua elemen mahasiswa,” ujarnya.

Menurutnya, gerakan saat itu begitu massif sebab mahasiswa tak hanya berhadapan dengan walikota tetapi polisi dan tentara (TNI) telah memasuki kampus dengan panser di depan kampus Unhas dan UMI saat itu.

Konsolidasi Senat Mahasiswa tak luput dari intaian suruhan negara yaitu banpol dan BIN untuk melumpuhkan gerakan mahasiswa.

“Peristiwa itu begitu heroik, menyakitkan sekaligus menyedihkan, bisa dibayangkan bagaimana kekejian aparat yang memukul kami mahasiswa saat sholat dhuhur didalam mesjid 45 sehingga massa berhamburan dengan pukulan dan bahkan ada yang lompat dari jembatan ke sungai. Kesedihan mahasiswa setelah beberapa orang meninggal karena aksi tersebut,” ungkapnya.

Gerakan ini, kata Saifuddin, telah menjadikan shock terapi secara politik bagi gerakan mahasiswa diseluruh Indonesia. Dan UMI menjadi saksi sejarah dalam gerakan 24 April 1996 atau yang disebut April Makassar Berdarah (AMARAH). “Alfatihah bagi saudara seperjuangan kami, wassalam,” tutup aktifis tahun 90 an ini. (D)


div>