MINGGU , 16 DESEMBER 2018

2017, Harga Rumah di Makassar Bakal Melonjak

Reporter:

rakyat-admin

Editor:

Senin , 14 November 2016 09:30
2017, Harga Rumah di Makassar Bakal Melonjak

int

AKHIR tahun 2016 jadi momentum terbaik untuk membeli rumah. Harga properti cenderung bertahan. Banyak pula kemudahan.

Rata-rata suku bunga perbankan saat ini, mengarah ke single digit, mulai 8 hingga 9,75 persen. Sementara, pengembang, lebih memilih menahan harga lantaran penjualan rumah sedang lesu. Lewat akhir tahun, ada peluang kenaikan harga.

Wakil Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Sulsel, Simon Rahman mengatakan, akhir tahun pengembang jor-joran jual rumah. Menurut Simon, awal tahun depan, rumah subsidi pun harganya bakal naik. Kenaikannya menjadi sekitar Rp129 juta-Rp300 juta.

“Tiap tahun pasti naik. Lebih untung beli sekarang. Apalagi uang muka cukup murah,” kata Simon, Minggu (13/11/2016). Sementara untuk rumah komersial, kata dia, dipastikan akan mengalami kenaikan antara 10-25 persen.

Kenaikan itu, kata dia, disesuaikan dengan harga material dan lahan perumahan. Menurutnya, momentum serba mudah dan murah saat ini sebagai timing yang pas untuk konsumen membeli rumah secara KPR.

“Harga rumah tidak pernah turun, semakin lama merencanakan, semakin mahal pula yang didapatkan,” bebernya.

Branch Manager BTN Syariah Cabang Makassar, Hery Sarjito, menawarkan uang muka hingga 10 persen, namun penawaran ini hanya berlaku hingga akhir November 2016.
Selain itu, kata dia, BTN Syariah juga menawarkan angsuran dengan sistem bagi hasil setara dengan bunga 8 hingga persen di bank konvensional.

“Cukup murah, makanya manfaatkan sebelum program ini berakhir,” tutur Hery. Kepala Kantor Perwakilan Wilayah (KPw) BI Sulsel, Wiwiek Sisto Widayat mencatat, posisi September 2016 Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) di Sulsel sebesar Rp13,64 triliun, tumbuh 4,86 persen. Tumbuh tipis dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 4,54 persen.

Namun pertumbuhan itu hanya rumah dibawah tipe 70. “Harga properti juga relatif tidak berubah, pengembang memilih menahan harga,” katanya.

Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR), pada triwulan ketiga 2016, memperlihatkan harga properti relatif tidak berubah. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) relatif stabil (0,13 persen, qtq). Hal sama juga terjadi pada IHPR rumah tipe kecil, tumbuh 0,30 persen (qtq), sementara IHPR rumah tipe menengah tumbuh 0,10 persen (qtq).

“Sedangkan IHPR rumah tipe besar tidak mengalami perubahan. Belum seimbangnya antara permintaan dan pasokan membuat harga masih cenderung stagnan,” ujar Wiwiek. (fo/rso)


div>