SABTU , 21 JULI 2018

2017, Momen Rontoknya Toko Ritel di Indonesia

Reporter:

Editor:

irsad ibrahim

Senin , 25 Desember 2017 15:36
2017,  Momen Rontoknya Toko Ritel di Indonesia

int

RAKYATSULSEL.COM– Tahun 2017 sepertinya bukan milik para toko ritel konvensional atau lebih familiar disebut toko offline. Pasalnya, sepanjang 2017 ini, banyak toko ritel yang harus gulung tikar.

Alasannya beragam, mulai dari beban produksi yang tidak sesuai dengan margin, lokasi yang tidak lagi strategis, sampai ingin membuka bisnis baru. Bahkan, sebagian dari mereka menilai bisnisnya hancur karena perlahan konsumen mulai beralih ke belanja online.

“Survei kecil yang kita lakukan memang menunjukkan ada beberapa komoditas yang dipesan lewat online, dan komoditasnya tertentu salah satunya sandang, alat komunikasi, kemudian yang berkaitan pariwisata,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto beberapa waktu lalu.

Sementara bagi mereka para pengusaha, jebloknya bisnis ritel disebabkan karena adanya penurunan daya beli masyarakat. Sebagian dari mereka memilih menahan uang tersebut di bank (menabung) sampai digunakan untuk leisure atau melakukan kegiatan yang menyenangkan seperti jalan-jalan, makan di cafe, sampai dengan menginap di hotel.

“Sekarang masyarakat lebih smart, kalau belanja itu bukan segalanya, dan makanya menabung yang nanti untuk dinikmati lagi, makanya travel fair selalu penuh,” tutur Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Mandey.
 

Menyambut tahun baru 2018 yang sudah semakin dekat, JawaPos.com coba merangkum toko-toko ritel yang gulung tikar sepanjang tahun 2017 :

1. PT Modern Sevel Indonesia (MSI) resmi mengibarkan bendera putih tepat pada 30 Juni 2017. Perjalanannya dalam belantika ritel Indonesia dalam 8 tahun terakhir harus berakhir.

Meski memiliki banyak gerai, namun perjalanan bisnis usaha PT MSI ini mengalami persaingan ketat dengan beberapa ritel dengan konsep bisnis yang serupa seperti Lowson, Family Mart, Indomaret Poin, dan lainnya.

Persaingan yang ketat membuat Sevel mengalami kerugian yang cukup lama. Bahkan, adanya aturan-aturan seperti larangan penjualan minuman beralkohol juga menjadi salah satu Sevel ditinggalkan masyarakat.

Disamping itu, batalnya akuisisi oleh PT Charoen Pokphand Restu Indonesia (CPRI) yang merupakan entitas dari PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) Tbk, juga disebut menjadi masalah. Andai diakuisisi, mungkin Sevel masih bisa memperjuangkan nasibnya.

2. Matahari Pasaraya Blok M, Manggarai dan Taman Anggrek

Akhir September lalu menjadi titik balik ditutupnya dua gerai Matahari Departemen Store Pasaraya Blok M dan Manggarai tutup. Perusahaan memutuskan untuk menutup gerai tersebut karena margin keuntungan tidak sesuai dengan beban pengeluaran.

“Karena sepi, jadi memang kinerjanya tidak tutup hitung-hitungannya,” kata Corporate Secretary & Legal Director PT Matahari Departement Store, Miranti Hadisusilo.

Dua bulan berselang, atau tepatnya pada 3 Desember 2017 dan 31 Desember 2017 Matahari kembali menutup gerainya di Mal Taman Anggrek dan Lombok City Centre pada 31 Desember nanti. Matahari Mal Taman Anggrek yang tutup terlebih dahulu telah menggelar closing down sale yang diserbu oleh para pembeli.

“Karena kita mau buka toko baru di Sumatera Selatan, yakni di Baturaja dibuka pada 23 November 2017 dan Lahat pada 30 November 2017,” tuturnya.

3. GAP

Berbeda dengan kompetitornya yang telah tutup, gerai-gerai GAP rencananya akan ditutup secara keseluruhan di awal tahun depan. Di Indonesia, GAP memiliki 5 gerai yang berlokasi di Pondok Indah Mall 2, Grand Indonesia, Lippo Mall Puri, Kuta Beach Walk, dan Surabaya Tunjungan Plaza.

Saat ini, gerai yang di Bali dan di Pondok Indah Mall 2 sudah ditutup. Sementara gerai GAP di Grand Indonesia, Lippo Mall Puri, dan Surabaya akan ditutup pada Februari tahun depan.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada konfirmasi dari PT Gilang Agung Persada selaku pengelola ihwal tutupnya toko GAP.

4. Lotus Departement Store dan Debenhams

Anak usaha dari PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP) menambah deretan panjang toko ritel yang tutup. Periode Oktober hingga Desember menjadi masa penutupan Lotus dan Debenhams.

Head of Corporate Communication PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP), Fetty Kwartati, keputusan penutupan dua toko tersebut diambil manajemen setelah mempertimbangkan perubahan tren ritel secara global. Salah satunya adalah tren belanja yang mulai berubah dari offline menjadi online.

“Di seluruh dunia, tren berbelanja generasi milenial telah beralih dari department store, dan memilih untuk berbelanja di gerai specialty store. Hal ini juga terjadi tidak terkecuali di Indonesia,” ungkapnya.

(hap/JPC)


div>