SABTU , 22 SEPTEMBER 2018

4 Faktor Angka Kematian Pasien Jantung Wanita Lebih Tinggi

Reporter:

Editor:

dedi

Jumat , 10 Maret 2017 23:10
4 Faktor Angka Kematian Pasien Jantung Wanita Lebih Tinggi

dr. Siska Suridanda Danny, Sp.JP (K)

RAKYATSULSEL.COM – Kaum hawa usia lebih tua berisiko terkena penyakit kardiovaskular. Berbagai risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK) di antaranya adalah hipertensi, diabetes, kolesterol, genetik, dan merokok. Angka kematian pasien wanita akibat PJK lebih tinggi ketimbang kaum adam.

Sayangnya sampai saat ini, belum ditemukan jawaban pasti terkait hal ini. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Pusat Jantung Nasional RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, dr. Siska Suridanda Danny, Sp.JP (K), Jumat (10/3) menyebutkan empat faktor yang diduga memicu angka kematian pasien jantung wanita lebih tinggi.

1. Penyakit Penyerta
Pasien wanita cenderung datang dalam usia lebih tua. Itu berarti mereka datang dengan penyakit penyerta atau faktor risiko yang sudah terlihat. Misalnya fungsi ginjal tak bagus, diabetesnya sudah mulai nyata, begitu pula hipertensi. Sehingga profil risikonya saat datang dengan serangan jantung lebih tinggi daripada laki-laki. Kategori usia tua di Indonesia berbeda dengan Amerika Serikat. Usia tua di Indonesia rata-rata 55-55 tahun, sedangkan di AS yaitu 60-63 tahun.

2. Profil Pembuluh Darah
Profil pembuluh darah perempuan berbeda dengan laki-laki. Ukuran pembuluh darah perempuan lebih kecil daripada laki-laki karena tubuh perempuan juga lebih kecil dibanding laki-laki. Sehingga pembuluh darah koroner dengan ukuran lebih besar akan lebih mudah penanganannya dibanding diameter ukuran yang lebih kecil.

3. Sumbatan Pembuluh Darah
Pembuluh darah wanita lebih banyak mengalami sumbatan di pembuluh cabang. Padahal penanganan lebih mudah dilakukan di pembuluh darah utama. Kondisi ini disebut mikrovaskular, di mana  sumbatan terjadi di pembuluh darah yang lebih kecil.

4. Bias Gender
Selama ini obat-obat yang dipakai untuk serangan jantung dan stroke sebelumnya diuji coba di dalam kelompok laki-laki. Pengembangan obat jarang diuji ke perempuan, perbandingannya 80:20. Karena perempuan mempertimbangkan usia reproduksi, hamil dan menyusui.

Sehingga hampir semua obat diuji coba pada populasi laki-laki. Hasil uji ini digeneralisir ke seluruh gender laki-laki dan perempuan. Namun ini baru teori atau hipotesa sejumlah peneliti yang menduga adanya bias populasi data. (cr1/JPG)


div>