KAMIS , 15 NOVEMBER 2018

52 Guru SMA Makassar Siap Dimutasi

Reporter:

Al Amin

Editor:

Iskanto

Kamis , 13 September 2018 09:00
52 Guru SMA Makassar Siap Dimutasi

Para guru mengikuti upacara. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kota Makassar saat ini tercatat kelebihan guru sebanyak 52 orang. Mereka siap diredistribusi atau dimutasi ke daerah-daerah yang dinilai masih kekurangan tenaga pendidik.

Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel, Setiawan Aswad mengaku, sistem refsitribusi guru mengacu pada data keadaan guru per mata pelajaran. Sejak pendataan terakhir Mei 2018, didapatkan Makassar kelebihan guru 52 orang, khusus tingkat SMA.

Hanya saja dia menegaskan, total kelebihan guru ini dilihat dari kebutuhan per mata pelajaran yang ada berlebihan gurunya. Tapi di satu sisi mata pelajaran lain kekurangan guru.

Dia melanjutkan, sistem redistribusi guru yang sebelumnya mengacu pada data keadaan guru, mempertimbangkan zonasi. Kebijakan zona ini, kata Setiawan, tidak hanya terkait pada penerimaan peserta didik baru (PPDB). Tetapi juga terkait dengan distribusi guru dan sarana prasarana sekolah.

“Jadi target pertama soal distribusi guru ini pertimbangannya, misalnya bagi guru yangg masih jomlo (bujang). Itu target pertama, bisa ditempatkan dimana saja yang dinilai membutuhkan guru berdasarkan kebutuhan guru per mata pelajaran,” beber Setiawan, kemarin.

Namun, jika guru bersangkutan sudah berkeluarga, maka proses mutasinya dipertinbangkan pada lokasi sekolah terdekat dengan tempat tinggalnya. “Kalau (gurunya) di Makassar, mungkin (dimutasi) di Gowa, Maros, Pangkep, sekitar itu,” ungkapnya.

Dia menuturkan, data keadaan guru ini masih terus diperbaharui. Yang agak sulit, soal pendataan guru di SMK, karena memiliki spektrum keahlian yang cukup banyak. Meski begitu, data keadaan guru terbaru bisa diharapkan bisa rampung bulan ini, baik itu SMA/SMK/SLB, tidak hanya sekolah negeri, tapi juga swasta.

“Dengan begitu kita bisa memetakan kebutuhan guru sebenarnya. Kita memang lagi menunggu data akhir terkait keadaan guru karena dinamis ki ini pergerakannya. Yang jelas dalam kerangka distribusi guru itu maka filternya kita memindahkan guru supaya terdistribusi dengan baik, maka kita lihat data keadaan gurunya,” paparnya.

Untuk SMK, Setiawan belum bisa memastikan jumlah angka pastinya. Namun dibeberkan, secara umum SMK banyak kekurangan guru. Apalagi sudah banyak yang pensiun, sementara belum ada lagi pengangkatan guru hingga saat ini.

“Itupun yang dimaksud kelebihan guru, jangan digeneralisir bahwa jangan sampai tidak menerima mi guru di Makassar. Karena kan ini data keadaan guru berdasarkan per mata pelajaran sehingga bisa dideteksi kekurangannya,” jelas Setiawan.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan, penerapan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) merupakan upaya mempercepat pemerataan di sektor pendidikan. Dikutip dalam laman resmi Kemendikbud, dia menegaskan, sistem zonasi bukanlah kebijakan yang terpisah dengan kebijakan yang lain dan sesuai dengan arah kebijakan pemerintah.

Adapun beberapa tujuan dari sistem zonasi, menurut Mendikbud, diantaranya menjamin pemerataan akses layanan pendidikan bagi siswa; mendekatkan lingkungan sekolah dengan lingkungan keluarga; menghilangkan eksklusivitas dan diskriminasi di sekolah, khususnya sekolah negeri; membantu analisis perhitungan kebutuhan dan distribusi guru.

Sistem zonasi juga diyakini dapat mendorong kreativitas pendidik dalam pembelajaran dengan kondisi siswa yang heterogen; dan membantu pemerintah daerah dalam memberikan bantuan/afirmasi agar lebih tepat sasaran, baik berupa sarana prasarana sekolah, maupun peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan. (*)


Tag
div>