SELASA , 20 NOVEMBER 2018

72 Tahun

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 18 Agustus 2017 14:05
72 Tahun

Arifuddin Saeni

Berabad-abad yang lampau, kita pernah dilingkupi sejarah yang hitam. Kaum kolonial, menenggelamkan kita dalam lumpur sejarah. Negeri ini hampir berhenti bernafas, tenggelam dalam air mata kehidupan dan derita yang seakan tiada henti, memutus harapan. Dalam lorong sejarah kita yang lampau, kadang hadir kepengecutan dan yang tak setia. Anak negeri yang kadang diperalat dengan janji-janji, sebab memang kita tak punya apa-apa, juga mungkin harga diri.

Tapi, sejarah kadang menulis lakonnya sendiri. Seperti yang dikatakan Karl Max, bahwa sejarah adalah tragedi. Dia bukan hanya meninggalkan jejak hitam, juga begitu banyak anak yatim dan para perempuan yang menjadi janda, yang menangisi suami-suami mereka, dan sanak saudara. Itulah  sejarah, ia tak selamanya  melahirkan senyum, apalagi lelucon.

Kesadaran masa lampau yang terjajah, yang rela menumpahkan darah, dan tak takut meregang nyawa menghadapi desingan peluru, adalah sebuah kesadaran mutlak. Sebab, diam tak melahirkan apa-apa.

Dan, ketika mereka membawa negeri ini pada sebuah masa, membumikan harga diri, melepaskan diri dari cengkeraman para penjajah. Tidak ada angan-angan yang lain, kecuali bahwa negara ini harus lepas dari cengkeraman kaum imperialis. Bau mesiu yang menyengat, dentuman meriam dan bom-bom yang berjatuhan, tak pernah menyurutkan langkah untuk melawan. Sebab, negeri ini harus merdeka dan membangun dirinya.

Tapi kita! Ada di mana sekarang? Apakah kita, yang orang bilang generasi millenia, justru tak lebih dari hitungan jari yang tahu nama pahlawan mereka. Mereka lebih hafal yang namanya naruto, power rangers ataukah ipin-upin. Sejarah bagi mereka telah kehilangan makna. Sikap pragmatis dan hidup hedonisme, telah membawa bangsa ini pada satu titik, untuk melakukan intropeksi diri.

Karena itu, di hari-hari yang riang seperti ini. Ketika bendera merah putih melambai dengan aneka bentuk dan rupa, di usia 72 tahun negeri ini, jasad para pahlawan kita yang telah menjadi debu, dan darah yang mengering, tapi semangat mereka tetap hidup hingga kini, untuk memagari dan menjaga negeri ini.

Merawat kebhinekaan dan menjaga perbedaan, sesungguhnya menjadi begitu sangat berarti bagi mereka, meski pun kita tahu itu tak cukup, atas apa yang mereka korbankan. Mereka juga tak menuntut banyak kepada generasi kini dan mendatang, selain menjaga idealisme untuk negeri ini. (*)


div>