SENIN , 18 JUNI 2018

Abaikan PKS dan PDIP, NA Justru Dukung Keluarganya di Pilkada Bantaeng

Reporter:

Jejeth

Editor:

Lukman

Jumat , 08 Juni 2018 19:33
Abaikan PKS dan PDIP, NA Justru Dukung Keluarganya di Pilkada Bantaeng

Nurdin Abdullah dengan Andi Sugiarti selepas berbuka puasa di rumah pribadi NA di Bonto Atu, Kecamatan Bisappu, Kamis (7/6).

BANTAENG, RAKYATSULSEL.COM – Bupati Bantaeng non aktif dan sekaligus Calon Gubernur nomor urut 3 Nurdin Abdullah (NA) kini kembali lagi memperlihatkan sifat tidak komitmennya.

Sebelumnya, pada tanggal 3 Juni, NA menghadiri rapat koordinasi kader Partai Keadilan Sejahtera ( PKS) di Makassar yang dihadiri oleh seluru kader PKS se Sulsel. Dalam rapat tersebut, NA menyatakan arah dukungannya kepada kader – kader PKS yang berlaga di Pilkada serentak 2018.

Namun berbeda dengan di Bantaeng, NA malah mendukung keluarganya, yaitu sepupunya sendiri yang maju sebagai calon wakil Bupati, Andi Mappatoba yang berpasangan dengan Calon Bupati Andi Sugiarti.

Hal ini dapat dibuktikan dengan foto – foto yang memperlihatkan kedekatan NA dengan Andi Sugiarti selepas berbuka puasa di rumah pribadi NA di Bonto Atu, Kecamatan Bisappu, (7/6) kemarin. Sambil menunjukkan simbol salam dua jari untuk Andi Sugiarti – Andi Mappatoba (Sumanga’NA) yang bernomor urut 2 dan salam tiga jari untuk NA – ASS yang bernomor urut 3.

Tidak hanya itu, masih banyak lagi bukti berupa foto, seperti saat NA kampanye di Lapangan Banyorang, Kecamatan Tompobulu, Bantaeng dan Kampanye terbuka NA di Bone.

Padahal Paslon Sumanga’NA yang di usung oleh PKB dan PPP yang sudah jelas bukanlah partai pengusung NA. ini juga sudah menunjukkan sifat NA yang tidak mau mendukung usungan PDIP di Pilkada Bantaeng.

Tim Media NA – ASS, Bunyamin Putra, mengatakan bahwa NA belum menyatakan dukungan kepada salah satu Paslon di Bantaeng.

“Prof belum menyatakan dukungan kepada calon di Bantaeng. Kalau Prof Nurdin Abdullah mau keluarga, cukup banyak tokoh masyarakat yang meminta ibu Lies atau anaknya untuk menggantikan Prof Nurdin Abdullah. Prof Nurdin menjelaskan kepada tokoh masyarakat jabatan bupati tidak harus diwariskan,” katanya. (*)


div>