SENIN , 19 NOVEMBER 2018

Ada Apa, Sidang Widya Empat Kali Ditunda

Reporter:

Irsal

Editor:

Ridwan Lallo

Selasa , 10 April 2018 17:31
Ada Apa, Sidang Widya Empat Kali Ditunda

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sudah empat kali, sidang kasus dugaan penipuan yang melibatkan Widyiastuti Alamsyah Mile sebagai terdakwa batal dilaksanakan di Pengadilan Negeri (PN) Makassar.

Sedianya, sidang kasus tersebut digelar setiap hari Selasa. Pihak pengadilan beralasan jika sidang tersebut kembali ditunda lantaran salah satu hakimnya berhalangan hadir dengan alasan kerabatnya sedang sakit.

Hal tersebut dibenarkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menangani kasus tersebyt, Andi Patriani.

“Ia betul ditunda, karena ketua majelisnya berhalangan, sidang akan digelar kembali pekan depan,” bebernya saat ditemui.

Ia juga mengaku jika sidang itu sudah empat kali ditunda sejak bergulirnya kasus ini. “Agenda sidang kali ini adalah pemeriksaan terdakwa, dalam persidangan ini terdakwa akan dimintai keterangannya terkait kasus yang menjeratnya. Namun kembali ditunda, ini sudah yang ke empat kalinya,” sesalnya.

Sementara Pakar Hukum Israhuddin sangat menyesalkan penundaan sidang kasus penipuan itu. “Ini saya kira penegak hukum tidak serius menangani kasua ini,” ujarnya.

Ia pun mempertanyakan alasan penundaan sidang kasus itu. “Ini patut dipertanyakan, ada apa?. Sehingga sidangnya ditunda sebanyak empat kali,” tegasnya.

Menurutnya, dengan tertundanya, penegak hukum telah mengabaikan asas hukum yang efisien, murah dan cepat. “Apa lagi kasus ini telah menjadi buah bibir di masyarakat,”ungkapnya.

Sekadar diketahui, Widya menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Makassar sebagai terdakwa dalam kasus dugaan penipuan miliaran rupiah lantaran urusan proyek APBN.

Widya sebelumnya dilaporkan oleh Dameria ke Direktorat Kriminal Umum Polda Sulsel. Dameria sendiri adalah seorang komisaris sebuah Persereon Terbatas (PT) yang pernah menjalin hubungan bisnis dengan Widya.

Kasus dugaan penipuan ini bermula saat Dameria dan Widya menjalin hubungan bisnis setelah diperkenalkan oleh seseorang pada tahun 2014 silam. Keduanya kemudian terlibat dalam pengurusan sebuah proyek APBN untuk pembangunan dermaga di Makassar.

Pada proses pengurusan, mereka kemudian menjalin komunikasi dengan Maulana, pria yang dinilai bisa memuluskan proyek di salah satu kementerian.

Belakangan, uang ‘pelicin’ proyek pun yang mengalir ke Maulana untuk memuluskan proyek yang sedang diurus oleh korban diduga mandek di tangan tersangka. Apalagi, proyek yang dibidik tak kunjung didapat. Korban yang merasa telah ditipu akhirnya melapor ke Mapolda Sulsel. Laporan korban tertuang dalam BP/89B/VII/2017.

Polda Sulsel pada tanggal 07 September 2017 mengeluarkan surat dan menyatakan kalau penyelidikan kasus ini dinyatakan lengkap. Oleh Kejaksaan Tinggi Sulsel, berkas perkara kemudian dilimpahkan ke PN Makassar. (*)


div>