SELASA , 16 OKTOBER 2018

Ada Mahar di Transfer Caleg

Reporter:

Iskanto

Editor:

Lukman

Selasa , 24 Juli 2018 14:20
Ada Mahar di Transfer Caleg

ILUSTRASI

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Perpindahan politisi populer saat pengajuan Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) tengah disorot. PAN membuka borok adanya mahar terhadap beberapa legislatifnya yang hijrah ke parpol lain, diantaranya ke NasDem. Nilai transfer bahkan diduga mencapai Rp5 miliar.

Transfer caleg juga terjadi di beberapa parpol di Sulsel. Legislator Golkar Yaqkin Padjalangi dan Mariogi Idris hijrah ke PDIP, Thita YL hengkang dari PAN ke NasDem, Wabup Jeneponto, Mulyadi Mustamu pindah dari Hanura ke Demokrat.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PAN Sulsel, A Irwandi Natsir yang dikonfirmasi membenarkan mengenai isu mahar yang ditawakan ke kader PAN agar pindah parpol. Sebut saja, anggota DPR RI fraksi PAN, Indira Chunda Tihta yang pindah ke NasDem lantaran di isukan diberi sejumlah uang untuk mencaleg melalui partai besutan Surya Paloh itu.

“Kalau berdasarkan penyampaian Ketum PAN (Zulkifli Hasan) itu sudah terkonfirmasi dengan baik bahwa itu benar,” kata dia.

PAN sendiri kata Irwandi, sangat menolak atau tidak melakukan hal-hal seperti itu hanya untuk mendapatkan kursi di legislatif dengan menjaring figur-figur potensial. Ia mengaku untuk mendapatkan figur-figur potensial PAN memiliki cara tersendiri yang tidak merusak integritas partai.

“Alhamdulillah, dalam rangka pemenangan partai, untuk merebut kursi di legislatif masih menjaga integritas moral. Bahwa segalanya tidak harus dilakukan dengan cara seperti itu. Setiap partai punya cara, dan kami tidak menempuh cara-cara seperti itu,” jelasnya.

Untuk menjaring figur potensial, kata dia, PAN melakukan pendekatan dengan para bacalegnya. Dengan cara seperti itu lebih mudah untuk melihat potensi dari bacaleg.

“Pendekatan yang paling utama kita di PAN, jadi intinya kita mendorong orang, mendorong kader yang memang memiliki potensi. Memiliki tingkat ketokohan dan keterpilihan yang bagus,” paparnya.

Sementara itu, Sekretaris PDIP Sulsel, Rudy Pieter Gony yang dikonfirmasi menampik hal itu. Bahkan ia mengaku PDIP merupakan partai yang bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Ia mengatakan, kader partai lain yang pindah ke PDIP karena melihat potensi yang baik yang dimiliki oleh partai berlambang banteng moncong putih ini.

“PDIP tidak ada begal, tidak KKN. Kita mencalonkan kader kami yang kami rasa terbaik dan tidak ada hubungan keluarga dengan pimpinan partai. Tapi berdasarkan kemampuan kita lihat,” kata Rudy.

Ia bahkan mengaku sejumlah figur yang bergabung dengan PDIP lantaran memiliki visi dan misi yang sama untuk membangun dan menghadirkan apa yang menjadi cita-cita bangsa.

“Kami sudah menjalankan apa dicita-citakan oleh bangsa ini. Bukan karena dia anak siapa. Tapi karena prestasi dan dedikasi yang dimiliki. Boleh ditanya lah sama pak Yasmin dan Andi Yaqin Padjalangi,” jelasnya.

Ia menegaskan, tidak ada mahar atau imbalan apapun bagi kader partai lain yang bergabung dengan PDIP. Karena memang menurutnya PDIP adalah partai modern yang tidak menganut hal-hal seperti itu.

Lebih jauh Rudy Petaer mengatakan, PPP dalam penjaringan dilakukan sangat terbuka dan memilih bacaleg yang benar-benar punya potensi.

“Kita juga nda langsung terima apakah termasuk dengan kader partai, kalau nda sesuai ya ditolak. Yang kami terima ya mereka-mereka yang kami rasa berintegritas. Tidak ada pembicaraan kami. Pembicaraan mengenai uang,” tandasnya. (*)


div>