RABU , 17 OKTOBER 2018

Adu Nasib Enam Srikandi di Pilkada

Reporter:

Suryadi - Iskanto - Fahrullah

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 27 Januari 2018 12:15
Adu Nasib Enam Srikandi di Pilkada

Dok. RakyatSulsel

– Persoalan Gender Bukan Jaminan

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 sudah di depan mata. Dari 12 kabupaten/kota yang akan melaksanakan pilkada, tercatat ada enam orang perempuan yang akan beradu nasib.

Di Pilwalkot Makassar, dua srikandi Partai NasDem, A Rachmatika Dewi dan Indira Mulyasari Paramastuti bakal saling sikut. Cicu–sapaan akrab Rachmatika Dewi maju sebagai wakil mendampingi calon Wali Kota Munafri Arifuddin. Sementara Indira menjadi wakil sang petahana Moh Ramdhan “Danny” Pomanto.

Di Pilbup Sidrap, ada nama Hj Fatmawati Rusdi. Anggota DPR RI itu bahkan maju sebagai calon bupati dan menggandeng Abd Majid sebagai wakilnya. Di Pilbup Bantaeng, Andi Sugiarti Mangun Karim juga maju sebagai calon bupati. Andi Ugi–sapaan akrabnya menggandeng Andi Mappatoba sebagai pasangannya.

Di Kabupaten Sinjai, Andi Kartini Ottong maju sebagai calon wakil bupati berpasangan dengan Andi Seto Gadhista Asapa. Dan srikandi terakhir yang mencoba peruntungannya di pilkada, yakni pengurus DPP Partai Golkar Emmy Tallesang yang maju di Pilbup Luwu mendampingi Patahuddin.

Saat dikonfirmasi, calon Wakil Wali Kota Makassar, Rachmatika Dewi (Cicu) mengaku sudah mempersiapkan diri sejak dulu untuk maju bertarung di Pilwakot Makassar 27 Juni mendatang.

Menurutnya, dorongan maju tidak lain demi mengabdi untuk masyarakat Kota Makassar serta membangun Makassar lebih baik lagi. “Dari dulu siap, apalagi niat untuk membangun Makassar serta kesejahteraan rakyat,” singkatnya.

Calon Bupati Bantaeng, Sugiarti Mangun Karin menegaskan jika dirinya maju di pilkada tidak untuk menjadi penguasa, namun adanya dorongan dari masyarakat Bantaeng sekaligus niat mengabdi untuk kampung halaman.

“Begitu banyak tokoh meminta saya kembali ke Bantaeng untuk meneruskan pembangunan yang sedang jalan dan ini juga merupakan sebuah pengabdian terbaik untuk daerah kelahiran saya,” kata Andi Ugi.

Persoalan gender, Andi Ugi mengaku tidak mempermasalahkannya. “Orang yang ingin berbuat baik untuk daerah mereka telah dijamin oleh undang-undang jika itu memenuhi syarat,” ucapnya.

Politis PPP itu pun optimis mampu terpilih menjadi kepala daerah di Bantaeng. “Kami yakin bisa menang. Kita sudah bekerja secara maksimal dan itu sudah terstruktur, baik itu tim, partai pengusung maupun tim keluarga,” jelasnya.

Sementara itu, calon Wakil Bupati Luwu, Emmy Tallesang yang dikonfirmasi menuturkan, menjadi salah seorang srikandi di pelaksanaan pilkada khususnya di Luwu harus memiliki visi-misi yang jelas. Terutama dalam peningkatan pemberdayaan perempuan-perempuan untuk dapat lebih produktif.

“Saya punya visi misi kedepan bagaimana membangun tanah Luwu ini melalui pemberdayaan perempuan, melalui kemampuan meningkatkan keterampilan,” kata Emmy.

Pengurus DPP Golkar ini menjelaskan, selama ini perempuan setelah berkeluarga lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurus rumah tangga. Sehingga, ia bertekad bagaimana perempuan-perempuan yang selama ini kurang produktif dapat menciptakan peluang usaha rumahannya sendiri.

“Karena perempuan itu kan memiliki potensi, bisa melakukan kegiatan ekonomi meskipun hanya di rumah. Seperti mereka bisa membuat kuliner, bisa membuat kostum dan yang lain sebagainya,” jelasnya.

Sehingga, perempuan-perempuan tidak dianggap lagi sebagai orang yang hanya menghabiskan waktu di rumah. Tetapi dengan adanya usaha rumahan nantinya dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarganya pula.

“Itukan bisa meningkatkan ekonomi keluarga, jadi kalau perempuan itu bisa membantu meningkatkan ekonomi keluarga kan bisa sejahtera. Saya ingin perempuan mapan dan ada kemandirian, melalui keterampilan dan nanti kita akan adakan pendidikan non formal keterampilan,” terang Emmy.

Dengan jumlah pemilih perempuan yang cukup besar, Emmy yakin dengan pendekatan-pendekatan feminisme dapat menarik simpati dari kaum hawa ini. Bahkan, ia sangat yakin akan hal itu lantaran dia merupakan satu-satunya perempuan dari Kabupaten Luwu yang berani mengangkat derajat wanita sebagai seorang kepala daerah.

“Saya sangat optimis menang, karena saya satu-satunya perempuan. Karena pemilih perempuan kan banyak, jadi nanti perempuan pilih perempuan. Dan saya yakin perempuan-perempuan yang ada di Luwu akan memilih saya,” tuturnya.

Sementara Fatmawati Rusdi mengaku maju di pesta demokrasi lima tahunan itu lantaran ingin membangun Sidrap lebih baik lagi. “Saya ingin memperbaiki kampung halaman saya lebih baik lagi,” jelasnya.

Lantas seperti apa pelang kaum perempuan di Pilkada?. Manajer Konsultasi CRC, Saiful Bahri, dalam analisisnya mengatakan, adanya srikandi-srikandi yang berani ambil bagian dalam perebutan kursi tertinggi disuatu daerah tidak menjadi jaminan langkahnya akan mulus.

Karena dalam pelaksanaan pilkada menurutnya gender bukan menjadi alasan untuk menarik simpati masyarakat.

“Pada prinsipnya dunia elektoral itu pemilihan kepala daerah langsung bias gender jarang orang main isu perempuan dan laki-laki. Jadi isu sentimen gender itu dalam pengalaman kita tidak terlalu signifikan pengaruhnya,” kata Ipung,–sapaan akrabnya.

Ia menjelaskan, bukan gender melainkan untuk menarik simpati masyarakat kandidat saling bertarung pada kefigurannya. Berbagai aspek-aspek dalam kefiguran itulah yang menjadi magnet bagi figur.

“Yang penting itu pemilih dalam memilih figur lebih kepada pertarungan kefigurannya. Jadi kriteria yang jadi daya magnet pemilih pada figur itu biasanya aspek kejujuran, kesederhanaan, merakyat, bersih dari korupsi, kinerja dan punya pengalaman,” terangnya.

Sehingga menurut Ipung, perspektif bahwa perempuan dapat menarik suara dari pemilih perempuan tidak selalunya dapat berjalan sesuai dengan harapan. Hal itu merujuk kembali kepada kefiguran masing-masing kandidat.

“Jadi soal apakah dia perempuan ataukah laki-laki dugaan saya tidak terlalu punya pengaruh yang signifikan,” tuturnya.

Terpisah, Pakar Politik UIN Alaudin Makassar, Firdaus Muhammad menuturkan, bargaining politik perempuan cukup tinggi ditandai majunya sejumlah elite politik perempuan di Pilkada serentak 2018.

“Di Makassar head to head dua politisi perempuan dalam posisi calon wakil wali kota. Begitu juga di beberapa daerah di Sulsel. Tentu sangat berpeluang,” ujarnya.

Menurutnya, isu gender sebagai modal utama kaum perempuan maju di pilkada. Selain itu, lanjut dia, ditopang aturan partai yang menganjurkan 30 persen perempuan akan membuat perempuan leluasa bergerak di dunia politik. “Isu gender cukup relevan dan menjual tetapi harus proporsional dan tidak provokatif,” katanya.

Firdaus menambahkan, isu gender sangat penting dan menjual selama dikemas proporsional. Juga dijual sebagai wujud kemampuan perempuan berkiprah baik pada posisi 01 maupun 02. “Namun dikhawatirkan kalau isu gender condong memojokkan perempuan sehingga perlu diantisipasi,” jelasnya.

Sementara itu, Pakar Politik Unibos Makassar, Arief Wicaksosno mengatakan, hadirnya perempuan di kanca perpolitikan memberikan keleluasaan kepada publik bahwa kesetaraan gender sudah benar terwujud.

“Menurut saya, sudah bagus sekali itu, dan sudah banyak para perempuan yang maju dan bahkan menang dalam kontestasi demokrasi seperti pilkada. Ini membuktikan bahwa di Makassar dan umumnya Sulawesi Selatan, para perempuan ini menjadi simbol bahwa mereka setara, sederajat, atau bahkan lebih daripada kaum lelaki,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, isu gender memang kerap kali menjadi isu yang seksi, sekaligus sensitif, bagi para perempuan yang maju di pilkada. Tapi, substansi yang sebenarnya adalah persamaan hak dalam berpolitik.

“Isu gender itu substansinya kesetaraan, persamaan hak. Isu itu dapat menjawab situasi dan kondisi perpolitikan kita yang dari dulu sangat dominan maskulinitasnya,” pungkasnya. (*)


div>