Minggu, 20 Agustus 2017

Arifuddin Saeni (Wartawan)

Agama dan Politik

Jumat , 21 April 2017 09:59
Arifuddin Saeni
Arifuddin Saeni

KITA sekarang ini diperhadapkan dengan banyak cerita yang berkembang di tengah masyarakat, yang sesungguhnya bisa menjadikan kita, sebagai sebuah bangsa yang boleh jadi kehilangan identitas, yang begitu menghormati keberagaman, saling menghargai satu dengan lainnya.

Apakah kita akan terus memperdebatkan, bahwa seseorang tak bisa jadi pemimpin karena berasal dari negeri antah berantah, ataukah karena kamu dari suku terpinggirkan atau barangkali karena kelompokmu selama berkuasa selalu melakukan korupsi. Tentu tidak, karena negeri ini mengajarkan kepada kita semua tentang toleransi, saling menghargai, dan bukan bangsa yang acuh.

Agama bukan hanya menuntun kita kepada hal-hal yang baik, seperti yang diajarkan kepada kita sejak kecil, surga negara serta adanya kehidupan setelah ini—lebih dari itu, agama meletakkan perbedaan sebagai suatu rahmat, yang sudah barangtentu perdebatan akan melahirkan ujung penyelesaian.

Tapi di banyak tempat, agama bukan hanya dinilai sebagai sesuatu yang absur, sehingga kadang-kadang dianggap eksklusif, sehingga tidak boleh dibawa ke ranah lain. Ukuran yang dipakai, adalah tidak perlunya campur aduk dengan yang lainnya, dan mungkin politik.

Lalu apakah kita harus mengatakan bahwa membangun piramida politik tanpa moralitas, sehingga saling mencerca, sikut menyikut dan bisa saja saling telikung adalah hal yang wajar. Kondisi ini, tentu saja menjadikan agama disampirkan pada lengan baju kita yang sewaktu-waktu akan kita pakai sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita.

Padahal, agama telah mengatur banyak hal dalam kehidupan ini, utamanya dalam konteks bernegara. Kita tentu saja tidak ingin negara kuat karena penindasan, atau memunculkan rasa takut. Tapi negara harus kuat dengan memegang nilai-nilai kebenaran yang dikandungnya, memberikan garis batas yang jelas antara benar dan salah, bukan abu-abu.

Karena itu, konstruksi berpikir yang mencoba memisahkan agama dan politik, mungkin saja ada pesan yang ingin disampaikan, untuk tidak menjadikan agama sebagai alat politik yang menyesatkan—-tapi apakah kita juga kita harus percaya bahwa kamu jujur yang bicara di atas podium, ataukah memang kita membiarkan diri kita dalam perdebatan yang tak tentu arah. Entahlah. (*)

Berita Terkait