SELASA , 17 JULI 2018

AHOK

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 16 Maret 2016 11:00
AHOK

int

Nama Ahok menjadi fenomenal, setelah resmi maju dalam perhelatan demokrasi memilih DKI 01 pada 2017 dengan mengabaikan Partai Politik sebagai kendaraan. Tapi mempergunakan jalur perseorangan.

Dan rata-rata pendukung Ahok adalah anak mudah yang lihai berselancar di dunia maya. Mereka mencoba melawan oligarki Partai yang selama ini begitu dominan dalam memberikan restu untuk menjadi calon Kepala Daerah.

Tidak tanggung-tanggung Ahok pun menolak pinangan partai pemenang Pemilu yaitu

PDIP. Dengan alasan yang sangat simple Ahok tidak ingin mengecewakan pendukung dan simpatisannya yang jauh hari telah bekerja untuk Ahok.

Menurut Ahok hanya Nasdem Partai yang mendukung tanpa syarat. Kalkulasi kasar ahok memperkirakan untuk didukung dua partai saja, dengan memaksimalkan mesin Partai pada masa kampanye bisa menghasilkan biaya ratusan milyar untuk kelas Gubernur DKI. Dari pernyataan Ahok dapat dipahami kemudian jika Ahok lebih memilih jalur perseorangan ketimbang Parpol.

Ahok tentunya punya nyali untuk “melawan” Partai di Parlemen Daerah. Ini sudah diperlihatkan Ahok dengan perseteruannya dengan DPRD dalam pengesahan APBD. Sehingga Ahok dengan entengnya tidak akan tersandera dengan Parpol dalam menuju DKI 1.

Apalagi Partai yang merasa kecewa atas sikap Ahok yang lebih memilih jalur perseorangan ketimbang Partai, juga telah pasang kuda-kuda untuk melawan Ahok. Dengan mempersiapkan calon yang dianggap sepadan menyaingi kepopuleran Ahok, misalnya tokoh seperti Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ih?a Mahendra, Mantan Menpora Adhyaksa Dault, Anggota DPR.RI Desy Ratnasari, Walikota Bandung Ridwan Kamil, tapi yang bersangkutan kemudian menyatakan sikap tidak akan maju dan ingin menelesaikan tugasnya selaku walikota Bandung. Dan banyak lagi figure yang diwacanakan oleh elit Partai.

Dengan banyaknya calon berarti banyak pilihan untuk memilih pemimpin DKI, tapi warga DKI pasti tidak ingin membeli kucing dalam karung. Mereka tidak ingin berjudi seperti Bupati dari Provinsi Sumatera Selatan yang “disangka berpesta sabu”.

Sebagaimana kita ketahui Partai Politik adalah instrument vital dalam penegakan demokrasi, namun nyatanya Partai Politik belum mewakili aspirasi rakyat kebanyakan malah merekahanya mewakili aspirasi segelintir elit partai. Sehingga tidak mengherankan kemudian jika banyak caleg yang terpilih dan bukan berasal dari kader tulen.

Siapapun yang terpilih menjadi DKI 1, kita berharap mereka akan berpihak pada warga DKI dan tidak sekedar mengeluarkan kebijakan yang populis tapi melukai hati warga. (*)


Tag
div>