RABU , 13 DESEMBER 2017

Akademisi Sebut Beresiko Pemimpin Inkonsisten

Reporter:

Editor:

Sofyan Basri

Rabu , 11 Oktober 2017 20:35
Akademisi Sebut Beresiko Pemimpin Inkonsisten

ilustrasi (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Prinsip “Taro Ada Taro Gau”  yang ditanamkan para leluhur Bugis-Makassar, sejatinya tetap menjadi pegangan kita, khususnya bagi pemimpin dan calon pemimpin.

Karakter dan prinsip yang ditanamkan tak boleh diabaikan begitu saja hanya karena ambisi. Sebab para pendahulu selalu menekankan, bahwa salah satu yang membedakan manusia dan binatang adalah sikap. Manusia kata-katanya dipegang, dan binatang hanya talinya.

Hal ini diungkapkan oleh akademisi UIN Alauddin Makassar, Syahrir Karim tentang kepemimpinan. Menurutnya,  pemimpin yang suka “plin-plan” dalam bersikap bisa mempengaruhi efektifitas kepemimpinan. Belum lagi jika seorang pemimpin tak patuh pada pendiriannya.

“Orang bugis bilang ‘taro ada taro gau’. Pemimpin yang tidak konsisten bukanlah pemimpin yang baik. Bahayanya adalah, pemimpin seperti ini, visi pembangunanya tidak jelas,” kata Syahrir, Rabu (11/10/2017).

Pemimpin yang tidak konsisten juga sulit terhindar dari kehilangan kepercayaan. “Pemimpin yang suka plin-plan, biasanya dimiliki oleh mereka yang tidak tahu membedakan antara kepentingan kelompok atau publik dengan kepentingan pribadi,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Sulsel, Adi Suryadi Culla mengatakan sangat beresiko jika pemimpin tidak konsisten. Alasannya, kata dia, hal itu bisa menimbulkan ‘discard’ atau kehilangan kepercayaan.

“Konsistensi yang dimiliki itu sebenarnya bukan berpijak pada kepentingan individu, tapi pada kepentingan umum. Ini bisa menimbulkan kehilangan kepercayaan,” kata Adi.

Dia mengatakan, untuk menjadi seorang pemimpin, individu harus tahu membedakan antara kepentingan umum dan kepentingan pribadi, sehingga dua kepentingan ini tidak harus dicampur adukkan.

Selain itu, lanjutnya, pemimpin secara umum  mewakili orang banyak, bukan pribadi.  Sehingga untuk mengambil kebijakan atau keputusan harus berdasarkan keinginan orang banyak.

Olehnya itu, kata Adi, jika pemimpin tidak konsisten, maka dampak yang paling dekat adalah kehilangan arah dalam menyikapi berbagai masalah.

“Dampak yang paling dekat itu jadi gamang, kehilangan rujukan yang menjadi dasar di dalam menyikapi berbagai masalah. Disamping itu juga bisa menyebabkan kepemimpinan bisa berjalan tidak efektif, tidak bisa mengmabil patokan yang jelas di dalam kepemimpinan,” terangnya.

Apalagi, kata dia, dalam kepimpinan birokrasi sikap inkonsisten akan menimbulkan banyak masalah. Menurutnya, birokrat selalu berbasis edministrasi. Selain itu, kelembagaan birokrasi reverensinya di dalam bersikap dan berprilaku sebagai aparat.

“Karena itu mereka harus menunjukan sikap yang konsisten, karena ada aturan yang menjadi patokan pengambilan keputusan dan kebijakan, itu yang menjadi rujukan adalah sistem birokrasi itu sendiri,” tandasnya. (*)


div>