MINGGU , 21 OKTOBER 2018

Akademisi Sebut Peluang Eks Koruptor Sulit Diterima Pemilih di Pilkada

Reporter:

Editor:

MA

Senin , 30 April 2018 15:16
Akademisi Sebut Peluang Eks Koruptor Sulit Diterima Pemilih di Pilkada

int

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Calon kepala daerah yang memiliki rekam jejak sebagai eks koruptor diyakini sulit memenangkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Indonesia. Pasalnya, masyarakat di Indonesia masih sulit menerima keberadaan koruptor sebagai pemimpin.

Apalagi kalau mereka melakukan berulangkali dengan kasus yang berbeda. Sudah pasti, sebagai calon kepala daerah, eks koruptor akan kesulitan dalam menarik simpati masyarakat untuk memperoleh suara, dan justru akan menggerus perolehan suara itu sendiri.

“Itu sudah jelas, artinya kalau orang yang sudah pernah terjerat dengan orang yang tidak pernah terjerat kasus korupsi itu sangat berbeda. Walaupun misalnya, dia sudah jalani hukuman, karena ada namanya stigma cap yang diberikan masyarakat ke orang itu,” kata Akademisi Unhas, Andi Haris, belum lama ini.

Karena memang, menurut Andi Haris, catatan kelam di masa lalu apalagi persoalan korupsi akan sangat sulit diterima oleh masyarakat. Sehingga, akan muncul persepsi bahwa seorang koruptor tidak layak untuk menjadi seorang pemimpin.

Bahkan, menurutnya, persepsi akan hal itu akan ada secara turun temurun apalagi dalam dunia perpolitikan dan demokrasi. Untuk menghilangkannya pun tidak dengan satu atau dua tahun saja, tetapi butuh waktu yang sangat panjang untuk dapat dipercaya kembali oleh masyarakat.

“Jadi kalau orang sudah dicap ada catatan hitam di masa lampau itu susah dihilangkan, tidak semudah yang dibayangkan. Yang begitu dalam politik dari angkatan keangkatan berikutnya dari generasi ke generasi berikutnya secara turun temurun dan proses itu baru bisa hilang dalam waktu yang sangat lama. Dia harus ada generasi terputus dulu,” terang Andi Haris.


div>