RABU , 26 SEPTEMBER 2018

Aksi Polisi Bongkar Prostitusi Terselubung di Medsos, Tarifnya Perjam

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Rabu , 26 April 2017 12:39
Aksi Polisi Bongkar Prostitusi Terselubung di Medsos, Tarifnya Perjam

ilustrasi

RAKYATSULSEL.COM – Selasa (25/4) dini hari, di sebuah penginapan di Samarinda, Kaltim, MK turun dari kendaraan yang ditumpanginya. Wanginya parfum terus menyerbak dari tubuh MK yang kala itu mengenakan pakaian serbahitam.

Ya, perempuan itu akan meladeni kencan singkat (short time) pria hidung belang. Namun, dara berwajah oval dengan rambut sebahu itu terkejut, ketika pria yang dikencani adalah petugas berpakaian sipil.

Matanya terbelalak ketika melihat pucuk senjata api melekat di pinggang. “Om polisi ya, aku enggak ditangkap ‘kan,” ucapnya dengan nada menggoda. Pikiran buruknya agar tak dibawa ke kantor polisi berubah 180 derajat. Belum sempat berhubungan badan, MK yang janji temu di sebuah penginapan di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Pelabuhan, Kecamatan Samarinda Kota, tak berdaya kala dibawa aparat. Anggota polisi itu ternyata sudah menunggu kedatangan perempuan yang menjajakan diri lewat media sosial.

“Kamu ikut saja dulu, nanti dijelaskan di kantor,” ujar petugas berpakaian sipil. Dibalut jaket kuning, perempuan dengan kulit mulus putih dan pakaian mini itu pasrah dibawa ke kantor polisi. Nasib sial memang tengah menghampiri ‘daun muda’ itu. Berharap bisa mendapatkan uang dari pria hidung belang yang menyewa jasa seksnya, kiprah MK akhirnya berakhir.

Tak ingin merasakan dinginnya lantai penjara seorang diri, remaja yang masih di bawah umur itu lantas menyebutkan sejumlah akun media sosial perempuan yang menjajakan diri melalui Twitter. “Saya tidak tahu, yang jelas ada,” ungkap MK kepada petugas. Tak lama kemudian, satu lagi perempuan yang menjual diri via dunia maya ditangkap polisi pagi itu.

Lokasinya tak jauh dari tempat janji temu MK dengan petugas yang menyamar demi membongkar kasus prostitusi online di Kota Tepian. Masih di jalan yang sama, JU (22), juga dibuat tak berdaya. Perempuan dengan rambut bergaya emo itu pun pasrah saat petugas yang sudah menyebar lantas menangkapnya. Keduanya lantas dibawa ke Polresta Samarinda untuk menjalani pemeriksaan.

Diperiksa secara terpisah, MK dan JU pun menyebut tak saling kenal dan tak pernah bertemu. “Mereka murni beraktivitas sendiri, tanpa ada muncikari yang terlibat,” sebut Kanit Eksus Sat Reskrim Polresta Samarinda AKP Nono Rusmana. Perwira polisi berpangkat balok tiga itu menyebut, penelusuran tim khusus Sat Reskrim Polresta Samarinda untuk mengungkap aktivitas prostitusi terselubung via media sosial itu memang sudah dilakukan beberapa hari terakhir.

Sejak dikeluarkan perintah pengungkapan kasus prostitusi online oleh Ditkrimsus Polda Kaltim awal tahun lalu. “Memang sudah lama, karena kami memastikan juga akun-akunnya apakah asli atau bodong,” imbuh Nono. Mantan Kasat Tahti Polresta Samarinda itu semringah, kinerja jajarannya berbuah manis. Dua perempuan sekaligus diciduk di lokasi yang tak berjauhan.

Khusus JU, selain menjajakan diri untuk pria hidung belang, ada kemungkinan dirinya juga menawarkan beberapa rekannya. “Ini masih kami dalami lagi keterangannya,” tambah Nono. Beberapa saat kemudian, MK, perempuan yang putus sekolah sejak bangku sekolah menengah pertama (SMP) terkejut ketika melihat kedatangan orang tuanya di ruang pemeriksaan.

Sedih bercampur malu, perempuan yang tengah menjadi sorotan kasus khusus itu dibuat tak bisa banyak bicara di hadapan petugas. Kepalanya hanya mengangguk. Sesekali perempuan berperawakan kurus itu menyebut kata “Ya”. Kepada petugas, MK menyebut, aktivitasnya menjajakan diri di dunia maya sudah dilakukannya sejak setahun silam.

Lewat akun khusus ‘Cewe BO Samarinda’, MK memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya dengan gaya seksi. Selain itu, akun khusus MK adalah @naylanaz022 juga meng-upload gambar-gambar vulgar dan tulisan genit. Kepada polisi, setiap kencan, MK mematok tarif Rp 800 ribu per jam. “Biasanya tidak lebih dari dua kali berhubungan badan,” ucapnya.

Diutarakan Nono, keduanya dianggap melanggar Pasal 27 ayat 1 UU Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) atau Pasal 29 UU RI No 44/2008 tentang pornografi dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara. “Kami masih fokus di dua pasal tersebut, untuk lebih jauh kami belum bisa beberkan,” tegas Nono.

Terkait adanya perempuan lain dengan aktivitas serupa, Nono pun enggan merinci. Pasalnya, butuh pemeriksaan dan analisis mendalam untuk mengungkap jaringan prostitusi via media sosial yang semakin menjamur.


div>