JUMAT , 19 OKTOBER 2018

Aktivis Palestina, Tamimi Mengaku Senang Kembali ke Pelukan Keluarga

Reporter:

Editor:

pkl uim

Senin , 30 Juli 2018 13:00
Aktivis Palestina, Tamimi Mengaku Senang Kembali ke Pelukan Keluarga

int

RAKYATSULSEL.COM – Aktivis remaja Palestina Ahed Tamimi yang dihukum delapan bulan karena menampar dan memukul tentara Israel akhirnya dibebaskan dari penjara. Seperti dilansir Al Jazeera pada Minggu, (29/7), Tamimi menangis ketika keluarganya secara emosional menyambutnya di Desa Nabi Saleh pada Minggu, (29/7).

Ia dibebaskan bersama ibunya, Nariman, yang juga dijatuhi hukuman delapan bulan. Tamimi berterimakasih kepada para aktivis dan media atas dukungan mereka selama masa tahanannya.

Dia mengatakan, dia sangat senang berada dalam pelukan keluarganya. Namun kebahagiaannya tidak penuh ketika yang lain masih di belakang jeruji Israel.

Aktivis Palestina, Tamimi Mengaku Senang Kembali ke Pelukan Keluarga
Perjuangan melawan Palestina terus berlangsung (The Jerusalem Post)
“Kebahagiaan saya tidak lengkap tanpa saudara perempuan saya tahanan perempuan Palestina lain. Saya berharap mereka juga akan bebas,” kata Tamimi.

Remaja berusia 17 tahun itu juga menyampaikan pesan yang disampaikan kepadanya oleh tahanan politik perempuan Palestina. Ia mengatakan, mereka menyerukan persatuan nasional di dalam Palestina agar rakyat Palestina tetap kuat dan bersatu dalam perlawanan mereka, agar semua orang berdiri bersama hak-hak tahanan politik dan bekerja untuk pembebasan mereka.

Ia berencana untuk mengejar karir di bidang hukum untuk meminta pertanggungjawaban Israel. “Pada akhirnya saya ingin mengatakan bahwa kekuatan adalah dengan rakyat, dan orang-orang akan dan dapat memutuskan nasib mereka dan memutuskan masa depan,” ujar Tamimi.

Menurutnya, perempuan adalah bagian penting dari perjuangan Palestina untuk kebebasan. Peran perempuan akan terus berkembang, tidak hanya dalam perjuangan tetapi dengan menghasilkan generasi baru yang dapat melanjutkan perjuangan.

Sementara itu, sang ibunda, Nariman Tamimi mengatakan, sebagai orangtua, kita tidak perlu takut pada anak-anak kita dan kita harus mendukung mereka dalam apa pun yang mereka pilih.

Ayah Tamimi, Bassem Tamimi menggambarkan pembebasan mereka sebagai momen yang sangat membahagiakan. “Kami sangat merindukan mereka. Tapi saya juga khawatir karena pendudukan Israel terus berlanjut dan masih dalam hidup kami,” ujarnya.

Tamimi dan ibunya ditangkap oleh pasukan Israel pada bulan Desember 2017 setelah sebuah video menjadi viral menunjukkan Ahed Tamimi memukul dan menampar dua tentara bersenjata Israel di luar rumahnya di Desa Nabi Saleh. Pada saat itu, remaja itu bereaksi terhadap berita bahwa sepupunya yang berusia 15 tahun, Mohammed, ditembak di muka oleh pasukan Israel dengan peluru baja berlapis karet pada hari sebelumnya, membuat sepupunya dalam kondisi kritis. (ina/JPC)


div>