RABU , 14 NOVEMBER 2018

Aktivis Soroti Pembangunan Smelter di Bantaeng

Reporter:

Editor:

MA

Rabu , 02 Agustus 2017 14:31
Aktivis Soroti Pembangunan Smelter di Bantaeng

Tampak suasana dialog Publik dengan tema "Menyoal Pembangunan di Kabupaten Bantaeng yang dilaksanakan oleh Aliansi Peduli Pembangunan Daerah (Ampera) Sulawesi Selatan, di Warkop Bundu, Makassar, Rabu (2/8).

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Ketua Umum Himpunan Aktivis Mahasiswa (HAM), Dedi Jalarambang mengungkapkan jika Bantaeng adalah kiblat dari seluruh Kabupaten Sulawesi Selatan, faktanya justru sangat memprihatinkan.

“Jika berdasarkan fakta, apa yang ada di Kabupaten Bantaeng sangat miris di dalamnya. Bantaeng itu indah hanya tampak dengan fisiknya saja, namun sumber dayanya sangat memprihatinkan,” ungkap Dedi saat menjadi pembicara dalam dialog Publik dengan tema “Menyoal Pembangunan di Kabupaten Bantaeng yang dilaksanakan oleh Aliansi Peduli Pembangunan Daerah (Ampera) Sulawesi Selatan, di Warkop Bundu, Makassar, Rabu (2/8).

Selain Dedy, Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut akademisi dari Universitas Indonesia Timur (UIT) Makassar, Irwan Patawari yang juga sebagai Direktur Indowacana dan aktivis Walhi, Muhammad Al Amin.

dedy mencontohkan, rencana pembangunan Smelter yang bisa saja menghilangkan satu kecamatan. menurutnya pembangunan Smelter perlu untuk dikoreksi, lantaran hanya dapat merugikan daerah. Terlebih lagi, hingga saat ini hanya sekedar menjadi wacana saja.

“Lebih dari enam triliun investasi yang diusulkan. Jika melihat pembangunan smalter di Kabupaten Bantaeng, masih banyak yang perlu dikoreksi terlebih dahulu. Lahan yang harus disediakan untuk pengembangan smalter itu lima ribu hektar, hampir sama luasnya dengan satu kecamatan,” tuturnya.

Tidak hanya itu. Menurutnya, pembangunan smelter harus jauh dari pemukiman penduduk, sehingga pembangunan yang ada di Bantaeng masih sangat diragukan. Jika Smelter terus dipaksakan maka warga sekitar area pembangunan terancam untuk digusur.

“Nah sementara pembangunan smelter (Bantaeng) sangat dekat dengan pemukiman penduduk. Jangan sampai lahan kita dijual ke jepang,” katanya. (**)


Tag
div>