SELASA , 11 DESEMBER 2018

Alumni PSGBD Adukan Nasib Lewat Kongres Internasional III Bahasa Daerah

Reporter:

Editor:

Niar

Selasa , 25 September 2018 12:02
Alumni PSGBD Adukan Nasib Lewat Kongres Internasional III Bahasa Daerah

int

MAKASSAR, RAKSUL.COM-Alumni Pendidikan Sarjana Guru Bahasa Daerah (PSGBD) memanfaatkan momen mengadukan nasib dalam kegiatan Kongres Internasional III Bahasa-bahasa Daerah di Sulawesi Selatan yang digelar di Hotel Sahid Jaya, Makassar, Selasa, (25/9/2018).

Usai kegiatan pleno I pertama berakhir, sejumlah Alumni mendatangi Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, Irman Yasin Limpo yang hadir membawakan materi tentang Kebijakan Pemerintah Provinsi Sulsel di Bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah. 

Kepada Irman, alumni PSGBD yang merupakan luaran program realisasi rekomendasi Kongres Internasional I Bahasa-bahasa Daerah yang diprakarsai Pemprov Sulsel 2008 lalu ini mempertanyakan nasib mereka, khususnya dalam penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2018.

“Kami mempertanyakan tentang nasib kami, karena tidak adanya formasi Bahasa Daerah dalam penerimaan CPNS Pemprov Sulsel 2018,” ungkap Musyawal, salah seorang alumni Angkatan I.

Musyawal menyayangkan kebijakan Pemprov yang tidak membuka formasi bagi alumni bahasa daerah, sebagai tindak lanjut atas Memonrandum of Understanding (MoU) antara Pemprov Sulsel dan Unhas-UNM.

“Kami kuliah didanai Pemprov sebagai bentuk pengembangan Bahasa Daerah, khususnya di bidang pendidikan. Di akhir tahun perkuliahan akan dibukakan formasi, namun hingga kini, baru beberapa teman yang berhasil lolos CPNS, itupun berkat kebijakan daerahnya. Lalu bagaimana dengan daerah-daerah lain? harusnya Pemprov yang mengambil alih sebagai Pemprakarsa dengan menyiapkan formasi,” kata Awal, sapaan alumni utusan Kabupaten Bone.

Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, Irman Yasin Limpo mengaku, pihaknya telah mengusulkan sebanyak 150 formasi Bahasa Daerah untuk CPNS 2018, namun tak satupun yang diakomodir Kementerian Pendayagunaan Aparatur Sipil Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB).

“Kami heran, kok yang dibuka formasi bahasa Jerman sementara bahasa daerah tidak ada. Padahal ini sangat urgen untuk pengembangan bahasa daerah. Kami sudah mengirim usulan kami untuk 150 formasi bahasa daerah, bahkan lengkap dengan data guru yang kami siapkan,” beber None, sapaan Irman Yasin Limpo.

None berharap, Kongres Internasional III Bahasa-bahasa Daerah di Sulsel dengan tema “Reaktualisasi Bahasa-bahasa Daerah Sulsel sebagai Penguatan Kebinekaan dan Jati Diri Bangsa” ini dapat melahirkan sejumlah rekomendasi yang menguntungkan dalam pengembangan, pembinaan dan pelestarian bahasa daerah. (*)


div>