• Jumat, 01 Agustus 2014
Iklan | Privacy Policy | Redaksi | Citizen Report

Ambil Handuk Lagi, Tamsil Pilih Anis Kama

Siap Turun Gunung, Susun Strategi Pemenangan

Senin , 27 Mei 2013 11:40
Total Pembaca : 393 Views
Grafis : Mauluddin/rakyatsulsel

Baca juga

Dalam hitungan hari, politik bisa berubah kapan saja. Seperti yang dialami PKS dan Tamsil Linrung. Dikabarkan mundur dari bursa Cawalkot Makassar, pimpinan Banggar DPR RI tiba-tiba saja menyatakan maju dan sedang mencari pendamping atau 02.

Ya, sejak kemarin, PKS telah resmi mengusung kadernya Tamsil Linrung sebagai Cawalkot Makassar. Kini, PKS sedang menjaring calon wakil walikota yang paling ideal. Padahal sebelumnya, Tamsil dikabarkan telah membuang handuk di Pilwalkot dan hanya fokus pada pencalegan.

Majunya Tamsil, konon setelah PKS gagal menggaet Irman Yasin Limpo. Sebelumnya, PKS menggadang-gadang None untuk mengendarai partai ini, dengan syarat wakilnya harus dari kader PKS. Namun, None lebih memilih untuk mengendarai PAN dan memilih Busrah Abdullah sebagai pendampingnya.

Informasi yang dihimpun Rakyat Sulsel, 3 nama masuk radar PKS; bekas Sekda Kota Makassar Anis Zakaria Kama, bekas Kadis Tata Ruang dan Bangunan Makassar Andi Oddang Wawo, dan Pembantu Dekan III Pertanian Unhas Prof Dr Itji Diana Daud. Namun, nama Anis Kama paling menguat.

Sinyal ini datang dari Tamsil Linrung sendiri saat ditanya soal calon pendampingnya di Pilwalkot mendatang.

Menurut Anggota DPR RI asal Sulsel ini, ia cukup terkejut mendengar hasil rapat pleno DPP PKS yang menetapkan dirinya sebagai cawalkot. Padahal ia tidak pernah berharap dipilih menjadi calon orang nomor 1 di Makassar.

“Tiba-tiba saya diminta DPP untuk maju di Pilwalkot Makassar. Padahal saya pikir biar yang lain saja yang ditunjuk. Jadinya sekarang saya harus siap-siap menyusun langkah dan strategi pemenangan,” aku Tamsil saat dihubungi Rakyat Sulsel di Jakarta, malam tadi.

Wakil Ketua Banggar ini membeberkan, untuk calon wakil sebenarnya belum diekspose secara resmi oleh partai. Karena saat ini PKS sedang menunggu hasil survei siapa yang calon wakil paling ideal  mendampingi dirinya.

“Sudah ada beberapa nama yang dijaring, dan yang paling berpeluang menurut saya adalah Pak Anis Kama. Hal itu, sesuai dengan data survei dari teman-teman di Makassar. Dalam waktu dekat insya Allah paketnya akan diumumkan,” lugasnya.

Partai berlambang bulan sabit kembar ini, juga berkomitmen untuk menang pada pesta demokrasi 5 tahunan sekali. Karena itu, PKS sedang menyusun koalisi besar dengan menjaring beberapa partai, seperti  Partai Hanura, PBB dan PBR. Tidak hanya itu, PKS juga sedang giat melakukan konsolidasi dengan partai lain untuk bergabung menjadi satu koalisi gajah.

Tamsil juga meyakinkan, jika partainya tidak terlambat dalam menentukan paket dan memulai start di Pilwalkot Makassar yang tinggal 3 bulan. Menurutnya, PKS solid, meskipun diumumkan sehari sebelum jadwal yang ditentukan KPU, tetap komitmen dengan pilihan yang ditetapkan PKS.

“Kami tidak terlambat, karena calon yang diusung juga telah melakukan sosialisasi sejak awal. Jadi tidak ada yang terlambat,” ujarnya.

Ia juga yakin jika, berbagai masalah yang dihadapi partainya, tidak akan berpengaruh di Pilwalkot Makassar. Terbukti, di beberapa Pilkada, seperti di Pilgub Jawa Barat, dan Sumatera Utara, PKS mampu menang.

“Saya kira jika masyarakat mampu melihat capaian yang diperoleh PKS di beberapa daerah, tidak akan mempengaruhi suaranya di Makassar. Seperti yang terjadi di Jabar, dimana PKS dicitrakan sebagai yang terzalimi dan masyarakat memilih calon dari PKS, maka bukan hal mustahil terjadipula di Pilwlkot Makassar,” harapnya.

Terpisah, Sekretaris DPD PKS Makassar, Mudzakkir Ali Djamil, yang dikonfirmasi terkait dengan hal ini menyatakan, kalau sampai saat ini belum ada kesepakatan dipaketkan Tamsil Linrung dan Anis Kama. “Kalau Pak Tamsil memang sudah fix diusung oleh PKS sebagai calon wali kota, tapi untuk wakilnya, sampai saat ini belum ada figur yang pasti,” ucapnya, malam tadi.

Hanya saja, Mudzakkir mengakui kalau nama Anis Kama, memang menjadi salah satu figur yang dipertimbangkan untuk menjadi calon Wakil Wali Kota mendampingi Tamsil Linrung. “Ada juga nama Andi Oddang Wawo serta Itji Diana Daud,” ungkapnya.

Mudzakkir yang merupakan Ketua Fraksi PKS di DPRD Makassar, menyatakan PKS masih melakukan penggodokan terhadap sejumlah nama dengan berbagai pertimbangan, termasuk hasil survei yang sudah dipaparkan DPP PKS, pekan lalu. “Proses masih berjalan, yang mana yang dianggap memberikan pengaruh jika berpasangan dengan Pak Tamsil, tentu itu yang akan dipertimbangkan,” jelasnya.

Terkait dengan partai yang akan menjadi pengusung Tamsil Linrung selain PKS, menurut Mudzakkir, sampai saat ini pihaknya masih terus menjalin komunikasi. “Insya Allah, sebelum pendaftaran partai yang akan menjadi pengusung sudah kita rampungkan,” tandasnya.

 

Amin Syam: Makassar Maju Kalau Dipimpin AZ

 

Sementara itu, kemarin, pasangan Apiaty Kamaluddin Amin Syam-Zulkifli Gani Ottoh (AZ) mendeklarasikan diri di Anjungan Pantai Losari. Bekas Gubernur Sulsel, Amin Syam, yang juga suami dari Apiaty, menyatakan dukungannya kepada calon  wali kota dan wakil wali kota Makassar ini.

“Kalau Makassar mau maju, pilih AZ. Mendukung semua kandidat itu hak demokrasi, tapi mendukung satu kandidat itu hak asazi. Ayo, gunakan hak asasi kita dengan memilih AZ,” pungkas Amin di hadapan pendukung AZ dan pengunjung yang memadati anjungan Losari.

Sebelum orasi Amin Syam, terlebih dahulu 21 parpol nonparlemen pengusung menyatakan dukungan dan kesiapannya memenangkan pasangan AZ. “Kami memang pasangan terakhir yang berpaket. Tapi itu tidak masalah. Strateginya sudah kami siapkan untuk langsung tancap gas. Intinya, tidak ada kata terlambat,” tegas Apiaty, kepada wartawan usai deklarasi.

Seperti kandidat-kandidat lainnya, Apiaty juga melontarkan program-programnya jika kelak memimpin Makassar. Salah satunya adalah memajukan Makassar lewat pendekatan yang lebih humanis. Menurut mantan Asisten IV Pemkot ini, pendekatan itu bisa ditempuhnya sebagai figur perempuan. “Jangan ada diskriminasi. Makassar memang maju karena pemimpin-pemimin sebelumnya. Tapi saatnya perempuan diberi kesempatan. AZ siap mengemban amanah itu,” tandasnya lagi.

Sikap optimistis juga ditunjukkan Apiaty. Meski baru menetapkan pasangan jelang pendaftaran dirinya tetap akan mampu mengungguli pasangan lainnya. Menurutnya, trend survey dirinya bersama Zulkifli terus mengalami peningkatan. Sebagai represntase kaum perempuan, Apiaty yakin akan memenangkan Pilwali.

Senada, hal yang sama dilontarkan Zulkifli Gani Ottoh. Meski tak banyak yang disampaikannya kepada awak media usai deklarasi, namun Zugito–sapaan akrabnya–akan membangun Makassar lewat pengalamannya di dunia jurnalistik.

“Sebagai wartawan, kan kita kerjanya mengkritisi dan memperhatikan kinerja pemerintah. Dan lewat modal itulah kami ingin membawa Makssar lebih maju lagi. Bersih, bersih dan bersih,” tandasnya. Saat disinggung akan memanfaatkan simpul-simpul organisasi kewartawannya sebagai mesin pemenangan, Zugito dengan tegas menampiknya. “Di kesempatan ini pula saya tegaskan, teman-teman pers supaya tetap netral. Sebagai calon pemimpin, saya selalu siap untuk dikritik,” tegas Ketua PWI Sulsel ini.

 

JSP: Adil-Isradi Unggul 30,5 Persen

 

Dari sekitar 10 pasangan yang akan maju di Pilwalkot, pasangan Adil Patu-Isradi Zainal kembali diunggulkan untuk menang. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Jaringan Suara Publik (JSP), pasangan yang diusung PDK dan Gerindra ini unggul dengan tingkat keterpilihan atau elektabilitas mencapai 30,5 persen.

Untuk urutan kedua ditempati pasangan Supomo Guntur-Kadir Halid yang diusung Partai Golkar dengan tingkat elektabilitas mencapai 24,3 persen. Diurutan ketiga disusul pasangan Rusdin Abdullah-Idris Patarai yang masuk melalui jalur perseorangan dengan 7,6 persen.

Direktur Riset JSP, Iswanto, menjelaskan, untuk sementara posisi pasangan Adil-Isradi memang berada di posisi teratas. Jauh meninggalkan sejumlah pasangan lain yang ada saat ini.

Menurut dia, jika tren ini terus terjaga, pilwali Makassar berpeluang berlangsung satu putaran dengan Adil-Isradi keluar sebagai pemenangnya. “Hasil potret kita memberikan gambaran seperti itu,” kata Iswanto dalam keterangan persnya, Minggu (27/5).

Untuk posisi keempat, jagoan Partai Demokrat, Danny Pomanto-Syamsu Rizal, memiliki tingkat elektabilitas 6,5 persen, Muhyina Muin-Syaiful Saleh 5 persen, Apiaty jika berpasangan Irman YL 3,7 persen, Erwin Kallo-Hasbi Ali 3,2 persen, Tamsil Linrung jika berpasangan dengan Jafar Sodding 2 persen dan Herman Handoko-Lathif Bafadhal 0,7 persen. Sisanya belum menentukan sikap.

Dikatakan Iswanto, khusus untuk pasangan Apiaty Amin Syam-Zulkifli Gani Ottoh belum dilakukan simulasi pasangan saat survei karena waktu itu belum ada informasi resmi berpaket. Keduanya baru berpaket beberapa hari lalu. Begitu juga dengan Irman YL yang hingga kini belum menentukan sikap pasti dan pasangannya.

Dijelaskan Iswanto, popularitas yang dimiliki oleh para kandidat walikota dan wakil walikota yang memiliki elektabilitas tinggi sudah hampir mencapai level 90 persen.

Hal menarik, jelas dia, popularitas yang dimiliki Supomo-Kadir tidak berbanding lurus dengan elektabilitasnya.

Sementara sosialisasi masif paket Adil-Isradi pasca berpasangan membuat keduanya melejit cukup signifikan. Program listrik gratis yang menjadi andalan pasangan ini juga rupanya banyak menarik minat masyarakat, khususnya masyarakat yang tergolong ekonomi lemah.

Untuk pasangan Supomo-Kadir, kesimpulan sementara penyebab rendahnya elektabilitasnysa karena ketidakcocokkan pasangan ini. Hal ini terlihat dari elektabilitas personal Supomo yang mencapai 28 persen. Tapi pada elektabilitas pasangan hanya memperoleh 24,3 persen. “Hal ini juga mengindikasikan adanya harapan pemilih yang tidak terakomodasi pada pasangan ini,” katanya.

Pada sisi lain juga, tambah dia, dapat ditafsirkan sebagai akibat dari perseteruan internal dalam tubuh Partai Golkar. “Barangkali juga perseteruan itu sudah menyeruak dalam pikiran pemilih di Makassar,” katanya.

Untuk pasangan calon walikota dan wakil walikota dari jalur perseorangan, menurut dia, masih butuh kerja keras yang lebih ekstra untuk bisa menang atau tampil sejajar dengan pasangan Adil-Isradi dan Supomo-Kadir. Terlebih pasangan Herman Handoko-Lathif Bafadhal hampir pasti tidak bisa menang.

Survei JSP, untuk pengambilan data dilakukan pada 7-10 Mei 2013, menggunakan metode kuesioner dengan wawancara tatap muka. Jumlah responden 400 orang yang tersebar di 14 kecamatan di Kota Makassar. Penarikan sampel menggunakan stratifield random sampling dan proporsional random sampling. Margin of error plus minus 5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Beberapa waktu lalu, lembaga survei Cakra Politika juga menempatkan Adil-Isradi berada di posisi teratas dengan tingkat elektabilitas 26 persen lebih, disusul pasangan Supomo Guntur-Kadir Halid dengan 21 persen.

Hal yang sama terjadi pada hasil survei Biro Survei Nusantara (BSN) yang menempatkan Adil-Isradi di posisi teratas disusul Supomo-Kadir, Rusdin Abdullah-Idris Patarai dan Danny Pomanto-Syamsu Rizal. (FTR-awl-sul-upi)