RABU , 22 AGUSTUS 2018

AMF 2015: Terompet Pun Berbunyi

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 10 September 2015 14:39
AMF 2015: Terompet Pun Berbunyi

ADNAN PURICHTA IYL

Oleh: Adnan Purichta IYL
Politisi

Perhelatan Asean Mayors Forum (AMF) yang berlangsung di Makassar, tanggal 8-10 September pada tahun ini, adalah momentum yang sangat penting dan menarik bagi kita semua untuk dipikirkan.

Penting dan menarik karena implementasi kerjasama yang dibangun para pemimpin kota-kota se-Asean itu, kedepan akan memberikan banyak implikasi langsung pada kehidupan masyarakat kita di Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai bagian dari koneksitas masyarakat global.

Salah satu implikasi umum yang akan kita rasakan antara lain, meneguhnya trust masyarakat ekonomi internasional terhadap iklim investasi di Sulawesi Selatan. Sehingga akan berdampak luas pada kemajuan-kemajuan ekonomi di berbagai sektor, yang tentu saja berefek positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Terlebih, 150 wali kota, duta besar, bupati dan gubernur yang bertemu dalam forum terhormat tersebut telah menyepakati 5 poin kerjasama, yang salah satunya berisi kerjasama koneksitas dan jaringan antar-kota di Asean.

Kerjasama tersebut secara signifikan akan mendorong arus lalu lintas kunjungan masyarakat antar-negara di wilayah regional ini, termasuk ke Makassar dan kota/kabupaten lainnya di Sulawesi Selatan. Kapital dan sumber daya akan semakin terdistribusi ke wilayah-wilayah yang memiliki potensi pasar dan pengelolaan ekonomi.

Tapi perlu diingat, ada satu hal penting lainnya yang perlu kita renungkan. AMF 2015 bukan hanya sekadar pertemuan para pemimpin kota yang akan membawa angin segar ekonomi bagi kita. Sebagai masyarakat yang awas, AMF 2015 sejatinya tidak hanya dinilai sebagai peristiwa yang diangan-angankan akan membawa kebahagian regional.

Forum itu menjadi sinyal penting bagi kita pada tataran lokal: bahwa pelaksanaan blue print Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau pasar bebas ASEAN 2015 yang telah ditandatangani sepuluh kepala negara di Singapura pada tahun 2007, sudah di depan mata.

Pada pelaksanaan MEA nanti, pasar menjadi terbuka, pun di sektor ketenagakerjaan. Kita tidak hanya akan dibanjiri oleh produk-produk buatan luar negeri, tetapi juga oleh sumber daya manusianya.

Jika tak siap bersaing, pasar-pasar kerja kita akan diisi oleh tenaga kerja asing dari negara-negara tetangga. Mereka tak lagi menjadi “asing”, karena kita telah menyepakati terbentuk sebuah wilayah ekonomi regional.

Karenanya pertemuan wali kota se-Asean ini harus kita maknai lebih dalam: menjadi terompet peringatan bagi kita semua agar dari sekarang mempersiapkan dan meningkatkan kualitas diri. Karena ketika pasar bebas Asean dimulai, idiom individu tak berketerampilan dilindas zaman, akan benar-benar terjadi. Salamakki’ ta pada salama’. (*)


Tag
  • voxpopuli
  •  
    div>