KAMIS , 13 DESEMBER 2018

Anak Kepala Daerah Belum Aman

Reporter:

get_the_user_login

Editor:

Iskanto

Kamis , 06 Desember 2018 09:20
Anak Kepala Daerah Belum Aman

Ilustrasi (rakyatsulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Anak kepala daerah (Bupati) beberapa daerah di Provinsi Sulsel, ramai-ramai ikut mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif (Caleg) pada Pileg 2019 mendatang.

Mereka di antaranya, Azizah Irma Irwan (Putri Bupati Pinrang, Andi Irwan Hamid), Arham Basmin (Putra Bupati Luwu terpilih Basmin Mattayang), Windy Biringkanae (Putri Bupati Tana Toraja Nico Biringkanae).

Selanjutnya ada anak dari Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar, Isman Triyadi Iksan. Tak ketinggalan putra dari Bupati Enrekang Muslimin Bando, Mitra Fachruddin MB dan Aura Aulia Imandara yang tak lain adalah anak Wali Kota Makassar, Danny Pomanto.
Namun perjalanan untuk menjadi wakil rakyat di parlemen tak semudah itu meski menyandang status anak kepala daerah.

Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus mengatakan, anak kepala daerah masih rawan dalam hal persaingan bersama caleg petahana. Namun mereka punya peluang lolos lebih besar jika mampu memanfaatkan pengaruh orang tuanya. “Rawan, tapi mereka punya keunggulan elektoral yang diwariskan orang tuanya,” ujar Nurmal.

Jika dilihat fakta saat ini, kata Nurmal, timbul pertanyaannya, apakah mereka (anak kepala daerah) mampu memanfaatkan kelebihan itu. Kan tidak. “Faktanya, tak semua anak kepala daerah selama ini mampu memanfaatkannya,” tutur Nurmal.

Direktur IPI, Suwadi Idris dengan singkat mengatakan, status anak kepala daerah itu bukan jaminan akan terpilih. Namun anak kepala daerah cukup diuntungkan. Sebab mereka punya back up cost politik dan jaringan orang tuanya.

“Walaupun anak pejabat. Figur juga jadi rujukan pemilih. Sebab pemilih makin cerdas dan makin kritis dalam memilih,” singkatnya.

Pakar Politik Unhas Makassar, Azwar Hasan berpendapat, dalam percaturan politik, baik Pileg mapun Pilkada, jika anak kepala daerah ikut bertarung tidak selamanya mulus.
Menurut dia, banyak jalan terjal dilewati. Oleh sebab itu, pada Pileg 2019 anak kepala daerah yang ikut bertarung belum tentu semuanya lolos.

“Indikatornya banyak. Misalnya banyak caleg, ada juga caleg petahana. Jadi banyak tantangan dilalui,” tuturnya.

Ia menambahkan, para anak kepala daerah berpeluang lolos jika dibantu oleh kekuatan dan jejaring yang dibangun orang tuanya saat Pilkada.

“Pertanyaannya, apakah jejaring yang dibangun saat Pilkada masih setia, atau ada juga sebagian punya keluarga atau kerabat caleg, ini juga tantangan,” tutup Azwar.

Aura Aulia Imandara mengatakan, maju sebagai caleg merupakan keinginannya secara pribadi. Meski baru di dunia perpolitikan, dirinya akan tetap berjuang dan berusaha.

“Sebagai anak kepala daerah tidak membuat GR, tetap saya dan tim berusaha untuk dipilih masyarakat,” ucap Aura.

Pasca ditetapkan sebagai calon legislatif, Aura mengaku sudah mematangkan persiapan termasuk pembentukan tim. Meski begitu, dirinya masih melalukan sosialisasi dan membentuk basis secara perlahan-lahan.

“Untuk saat ini, tim sudah dibentuk di Makassar. Saya dan tim masih koordinasi untuk wilayah Gowa, Takalar dan Jeneponto,” cetusnya.

Kata Aura, pihaknya akan fokus bagaimana menggaet pemilih milinial sesuai dengan jiwanya yang masih muda, tanpa melupakan pemilih tua. “Intinya kita sasar dulu kaum milinial karena kan banyak anak muda yang salah arah, nah ini kita akan berikan ke merka agar bisa meraih sukses dimasa muda,” ungkapnya.

Mitra Fachruddin MB mengatakan jika saat ini dirinya sudah mulai melakukan sosialisi dengan mengunjungi sembilan kabupaten di Sulsel. “Sudah masuk ke pelosok dengan menemui masyarakat dan kita menerima masukan-masukan dari mereka sekaligus mencarikan solusinya,” katanya.

Ia optimis bisa mendapat kursi di Senayan meski harus bersaing dengan sejumlah politisi senior. “Tetap optimis, dan kita harus sadari, satu partai orang-orang hebat semua, tokoh masyarakat dikenal di Sulsel, tapi ini tidak mengurunkan niat dan usaha saya,” ujarnya.

Ia mengaku jika orang tuanya yang juga Bupati Enrekang, Muslimin Bando tak akan ikut campur dalam meraih kursi di parlemen. Sebab kata dia, Muslimin Bando adalah ketua Partai Golkar, sementara dirinya adalah politisi PAN.

“Saya tidak terlalu berharap dukungan orang tua. Karena dia juga memiliki tanggung jawab untuk Partai Golkar. Tentu ada etika di partai masing-masing. Biarlah masyarakat menilai dan kita paham politik. Pak Bupati (Muslimin Bando) jalan untuk Partai Golkar dan saya juga jalan untuk PAN. Beliau sebagai Ketua Golkar, tidak akan mencampuri partai lain,” tutupnya. (Yad/Fah/Arm)


div>