SELASA , 13 NOVEMBER 2018

Anak Kita

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 16 Desember 2016 13:19
Anak Kita

Arifuddin Saeni

APA sesungguhnya yang terjadi dengan anak-anak kita. Kekerasan yang kerap terjadi seakan tiada habis-habisnya. Untuk yang kesekian kalinya media lagi-lagi mempertontonkan kepada kita semua, bagaimana anak-anak kita menjadi korban kekerasan yang tak terperikan, yang justru dilakukan oleh orang dewasa.

Bagaimana kasus tujuh siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur harus menjadi korban penikaman di dalam kelasnya sendiri. Belum lagi seorang ibu kandung yang dengan tega membunuh anak kandungnya sendiri, M Azka. Kejadiannya di Grobongan Jateng. Sedangkan bocah Bryan Adita Fahillah, di Palembang, harus meregang nyawa di tangan ibunya sensiri.

Rentetan kejadian ini menunjukkan kalau masyarakat kita sedang sakit. Traumatik sosial barangkali yang menjadikan orang tua tak menghargai nyawa anaknya sendiri. Atau, apakah kematian ujung dari penyelesaian dari persoalan yang kita hadapi. Toh, anak yang dinilai membandel pun dianggap sebagai pembangkangan dan harus dihukum dengan keras.

Apa yang dikatakan Kahlil Gibran, seorang sastrawan, pujangga dari Lebanon sudah tak cocok dengan kondisi sekarang ini. “Anak mu adalah anak panah mu, dia akan kemana tergantung kemana engkau mengarahkannya”. Tapi anak kita, tak kan lepas dari busurnya—mencari jalannya sendiri, ia telanjur kehilangan harapan pada orang tuanya.

Anak kita sesungguhnya bukanlah milik kita. Dia menjadi milik dan masa depannya sendiri. Kita tak bisa meracui sikap dan pikirannya—tentang yang namanya masa lalu, kini dan yang akan datang. Dia akan menulis dan menciptakan sejarahnya sendiri. Tapi itu menjadi baik, ketika kita semua jujur kepada anak-anak kita.

Mungkin benar apa yang dikatakan, Stuart dan Sundeen, 1995, dan Van Zander, bahwa kekerasan yang dialami oleh seorang anak justru dilakukan orang mengasuhhya selama ini. Dalam kondisi ini, anak mengalami kekerasan secara fisik, emosional dan seksual.

Jika kemudian anak-anak kita mengalami kekerasan terhadap orang tuanya, lalu di mana mereka harus berlindung, kemana harus menaungkan diri. Apakah pada lingkungan yang sewaktu-waktu akan memangsa masa depan mereka ataukah bertahan menghadapi kekerasan demi kekerasan dari orang terdekatnya sendiri.

Kita tentu tak ingin seperti Nurlaela di Cirebon yang dengan teganya membunuh anaknya sendiri, Nur Qoidatul Zakiyah 1,5 tahun, ataukah sepasang suami istri Surni (25) dan Ahsi Avei (27), Bogor, yang menyiksa anaknya, Yeol Ghi Nichiardo (3) hingga meninggal dunia.

Tak bisakah anak-anak kita menjadi permata hati kedua orang tuanya. Tak bisakah mereka menjadi pelipur lara dikala sedih—ataukah memang kita sudah tak mengharapkan doa-doa mereka untuk menyentuh pintu-pintu arazi, yang selalu memuja kebesaran Allah-nya. Ataukah kita harus berpaling. (*)


div>