SENIN , 18 DESEMBER 2017

Anak Makassar Jaman Now

Reporter:

Editor:

Lukman

Minggu , 12 November 2017 16:30
Anak Makassar Jaman Now

Haidar Majid

MENDENGAR angka “empat ratus sepuluh”, hampir pasti kita berada di kesimpulan yang sama, “sangat tua”, jika ukurannya menggunakan kalender. Bayangkan, angka itu merujuk ke “empat ratus sepuluh tahun”, atau sama dengan “empat ribu sembilan ratus dua puluh bulan” atau setara dengan “seratus lima puluh tiga ribu tiga ratus hari”, wow !

Tentu deret angka-angka itu bukanlah sesuatu yang statis. Angka-angka itu sesungguhnya bisa bercerita tentang betapa panjang jalan yang telah dilalui dan meski tak mudah, Kota Makassar yang hari ini genap berusia “empat ratus sepuluh tahun”, terus eksis, terus tumbuh dan berkembang. Sesuatu yang patut disyukuri, sesuatu yang harus membuat kita bisa bangga.

Jalan panjang itu telah dirintis oleh para pendahulu kita dengan susah payah, dengan penuh suka dan duka, sehingga patut kiranya kita mengapresiasi dan berterima kasih kepada mereka, sekaligus berkomitmen untuk terus menjaga dan merawat kota ini agar terus kondusif, aman, nyaman dan tenteram sebagaimana yang telah mereka rintis.

Sebagai kota yang terus tumbuh dan berkembang, Makassar tak lepas dari berbagai masalah dengan tingkatan yang lebih kompleks. Jumlah kendaraan yang terus menerus bertambah dan infrastruktur jalan yang belum mampu mengimbangi secara kwantitatif, membuat kita seringkali berhadapan dengan kemacetan.

Begitu juga dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, yang disebabkan antara lain karena semakin derasnya arus urbanisasi, akibat ‘kehidupan’ kota yang menjanjikan banyak hal, terutama semakin luasnya kesempatan kerja yang tersedia; menjadikan kota ini dilirik oleh banyak pihak, baik untuk ‘sekedar’ berinvestasi ataupun memilih untuk menetap.

Dua contoh problematika ini adalah konsekuensi dari sebuah “kota”.. Dimana-mana, kota selalu menjadi ‘magnet’. Macet dan padat penduduk, memang “ada” di setiap “kota”, sehingga dua hal ini tidak musti menyeret kita pada ‘polemik’. Pemecahannya butuh kerjasama dari semua pihak dan tentu saja dukungan dari seluruh lapisan masyarakat.

Agar kota kita bisa terawat, menjadi penting untuk ikut merawat interaksi, dengan meminimalisasi potensi terjadinya perdebatan-perdebatan yang banyak menyita energi. Perdebatan-perdebatan yang seringkali kita temui pada percakapan lepas di warung-warung kopi atau juga di dunia maya.

Berbeda pendapat itu ‘sehat’, toh kita memiliki masing-masing perspektif yang juga berbeda. Perbedaan pendapat juga bisa memperkaya khazanah, membuat cakrawala lebih luas. Kita tidak menjadi terperangkap dalam gagasan kita sendiri. Berbeda pendapat juga membuat kita jadi ‘mafhum’, bahwa ternyata kita tidaklah selalu benar.

Namun perdebatan yang “menyeret” ego secara berlebihan, menganggap diri paling pintar dan benar, bisa membuat kita menjadi “tidak sehat”. Bukan apa-apa, merasa diri paling pintar dan paling benar, seringkali membuat kita lupa diri, terlena dan terkungkung, ibarat katak dalam tempurung. Pada posisi itu, orang cenderung menghindar dari kita dan jadilah kita makhluk kesepian di tengah keramaian.

Nah, sebagai Anak Makassar jaman now, tentu kita enggan hidup sepi di tengah keramaian. Tentu kita tak ingin kemacetan membuat kita jadi suntuk. Tentu kita ‘ogah’ sesak di kepadatan. Kita tentu berharap bisa hidup saling memahami, saling menghormati dan saling menghargai.agar hidup kita menjadi nyaman, harmoni dan indah. Caranya, hindari perdebatan yang tak penting, kumpulkan energi untuk hal-hal yang konstruktif. (**)


div>