KAMIS , 18 OKTOBER 2018

Anggiat Sinaga: Pelajari Pengelolaan Pariwisata Banyuwangi

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Minggu , 04 Desember 2016 17:05
Anggiat Sinaga: Pelajari Pengelolaan Pariwisata Banyuwangi

Ketua PHRI Sulsel, Anggiat Sinaga. foto: dok rakyatsulsel.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sepuluh tahun sebelumnya Banyuwangi hanyalah sebuah kabupaten yang seperti biasanya dan tidak hal yang istimewa. Kehidupan 1.6 juta penduduk berjalan secara normatif tanpa banyak sorotan media, baik media nasional dan internasional.

Namun, demikian pasca pelantikan Abdullah Aswar Anas menjadi bupati terpilih sejak 21 Oktober 2010, Banyuwangi berubah secara total dengan mengusung pariwisata menjadi sektor yang akan menggerakkan sektor ekonomi Banyuwangi dan kesejahteraan masyarakat Banguwangi. Hal ini terlihat dari PDRB 2014 sebesar Rp53,3 triliun dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi 7.5 persen, bandingkan data PDRB 2010 hanya Rp32,4 triliun.

Banyuwangi telah menjelma menjadi salah satu destinasi terbaik di Indonesia yang mampu mensejajarkan diri dengan Bali dan Yogyakarta.

Dengan latar belakang itu, Badan Promosi Pariwisata Makassar melakukan studi banding ke Banyuwangi, 1 Desember 2016, bertemu dengan Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi dan para stakeholder pariwiasata Banyuwangi, diantaranya Badan Promisi Pariwisata Banyuwangi, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), dan Asita Banyuwangi.

Pada pertemuan yang digelar di Aula Kanto Dinas Pariwisata Banyuwangi ini, turut dihadiri Badan Promosi Pariwisata Makassar yang langsung dipimpin Andi Ilhamsyah Mattalatta selaku Ketua Badan Promosi Pariwisata Makassar (BP2M) Anggiat Sinaga yang juga Ketua PHRI Sulsel, Didi Manaba Ketua Asita Sulsel, Muhammad Roem Kepala Bidang Pariwisata Makassar, Farid Said Sekretaris BP2M, dan Nasrullah Karim Sekretaris BPD PHRI Sulsel.

“Kami sangat terperangah ketika Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi, Bramuda, memaparkan 53 even pariwisata 2016. Artinya setiap pekan ada even dan hebatnya digelar tanpa melibatkan pihak ketiga atau Event Organizer (EO), akan tetapi semuanya dikerjakan para Satuan Kerja Perangkat Dearah (SKPD). Inilah yang unik yang memberi perbedaan dengan daerah lainnya bahwa seluruh SKPD memiliki pemahaam yang sama dan dikerjakan secara bersama dengan satu tujuan demi kemajuan pariwisata Banyuwangi bahkan dalam politik anggaran-pun para SKPD kreatif menganggarkan untuk membantu even dan festival pariwisata serta sekaligus melibatkan masyarakat untuk mengelola even masing-masing dengan anggaran yang difasilitasi Dinas Pariwisata,” jelas Anggiat Sinaga, Ketua PHRI Sulsel, Minggu (4/12).

“Misalkan saja seperti biaya pasang tenda akan dibantu Dinas Perlengkapan, jumpa pers atau hotel untuk tamu-tamu oleh Humas dan Protokol serta masih banyak contoh-contoh lainnya, sehingga tidak heran Banyuwangi berhasil mewakili Indonesia menerima penghargaan terbaik dari Badan Pariwisata Dunia atau United Nation World Tourism Organization (UNWTO) di Madrid, karena Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi berhasil melakukan langkah inovasi kebijakan publik dan tata kelola pemerintahan yang mampu melibatkan semua stakeholder dan SKPD membangun pariwisata tanpa memiliki ego sektoral dari masing-masing dinas. Bahkan, semua birokorat piawai menjadi sales dan pemandu pariwisata Banyuwangi,” tambahnya.

Anggiat menjelaskan, dengan merancang even yang berkesibambungan Banyuwangi telah berhasil ‘menyulap’ arus kunjungan wisatawan mancanegara yang awalnya di tahun 2010 hanya 7.000 wiswan, tapi 2015 mampu mendatangkan 35.000 atau naik 500 persen dan 2016 ditargetkan akan masuk wisatawan mancanegara 50.000 orang dan wisatawan nusantara 2 juta orang.

“Even dan festival untuk 2017 juga telah dirancang 70 even, sehingga tidak salah Banyuwangi dijuluki ‘The City of Event and Festival’. Rasanya patut untuk belajar dengan Banyuwangi agar pariwisata Indonesia bisa jauh lebih baik,” terangnya. (***)


div>