SENIN , 24 SEPTEMBER 2018

Anjal dan Gepeng Makin Merejalela di Makassar

Reporter:

Armansyah

Editor:

doelbeckz

Selasa , 14 Agustus 2018 23:17
Anjal dan Gepeng Makin Merejalela di Makassar

Alwi Kattu.

Dinas Sosial Turunkan Tim Terpadu

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Masalah Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) serta Anak Jalanan (Anjal) di Kota Makassar nampaknya masih menjadi ‘penyakit’ yang susah diselesaikan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar. Pasalnya, hampir tiap hari para gepeng dan anjal memenuhi setiap sudut di Kota Makassar.

Salah satu tempat ‘favorit’ yang banyak dipadati para pengemis adalah Warung Kopi (Warkop). Seperti halnya terlihat di sejumlah warung kopi di Panakkukang, Makassar, Selasa (14/8). Mereka memasuki warkop dengan membawa anak kecil. Bahkan, tidak sedikit yang membawa balita (bawah lima tahun).

Hal ini dikeluhkan para pengunjung warung kopi, salah satunya Alwi Kattu. Menurutnya, seharusnya mereka ditertibkan pemerintah, karena sangat mengganggu ketertiban dan kenyamanan warga.

“Seharusnya, masalah ini (pengemis dan anak jalanan) menjadi perhatian Pemkot Makassar. Masalah ini sudah sangat memprihatinkan. Dimana kerjanya pemerintah kalau begini?,” ujar Komandan Komando Inti (Koti) Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila (PP) Sulsel ini.

Alwi menjelaskan, seharusnya Pemkot Makassar dalam hal ini Dinas Sosial(Dinsos) Makassar, melakukan penanganan dan penanggulangan terhadap masalah ini.

“Hal ini tidak dapat dibiarkan terus menerus. Mereka ini harusnya menjadi tanggung jawab pemerintah,” terangnya.

“Bukannya ditangani, tetapi makin hari makin banyak. Bahkan, terlihat jelas banyak diantara mereka yang justru muka-muka baru,” tambahnya.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Sosial Makassar, Mukhtar Tahir, mengatakan, pihaknya tidak menepis banyaknya anjal dan gepeng di Kota Makassar. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi pihaknya menurunkan tim terpadu, bahkan posko antisipasi sudah terpasang di tiga titik.

“Kita sudah mendirikan tiga posko antisipasi dan juga tim terpadu yang akan mobile,” ujarnya.

Mukhtar menjelaskan, tim terpadu ini akan bergerak, berkeliling dan menyisir kota Makassar untuk melihat anjal dan gepeng. Tidak hanya itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak kecamatan untuk memberikan informasi tentang anjal dan gepeng.

“Inilah susahnya, kadang kalau kita mencari mereka tidak muncul. Makanya kita massifkan tim terpadu ini,” ucapnya

Utta, sapaan akrab Mukhtar Tahir, mengakui, pihaknya juga menerima laporan dan aduan dari masyarakat jika menemukan anjal dan gepeng, untuk segera ditindaklanjuti.

“Kita menerima informasi terkait dengan siapapun masyarakat yang melihat anjal dan gepeng kita akan turun langsung untuk menyelesaikan. Hanya memang, lebih banyak anjal dan gepeng dibanding anggota kita dilapangan, jadi upaya kita adalah meminimalisasi,” jelasnya.

Utta mengakui, pihaknya masih kekurangan personil, namun tetap intens menyasar para anjal dan gepeng yang seringkali meresahkan masyarakat. Bahkan, pihaknya berencana akan mencari relawan yang bisa diajak kerjasama untuk ikut membantu pemerintah mengatasi anjal dan gepeng.
Pasalnya, pihaknya melihat anjal dan gepeng sudah banyak tersebar disejumlah titik, bukan hanya di jalan protokol tapi beberapa ruas jalan lainnya, seperti di Kompleks Perumahan Gubernur.

“Ini tetap menjadi perhatian kita, saya akan turunkan lagi tim disitu (kompleks perumahan gubernur) karena ini titiknya tambah banyak saya lihat, jadi kita akan intensifkan itu sehingga bisa segera kita selesaikan,” tuturnya.

Sementara, Kepala Seksi Anjal dan Gepeng, Kamil, mengatakan, pihaknya saat ini rutin melakukan patroli mobile untuk menjaring anjal dan gepeng yang masih berkeliaran di Kota Makassar.

“Sejak kita dirikan posko, Alhamdulillah bisa meminimalisir anjal dan gepeng, sejauh ini belum ada lagi yang terjaring,” ujarnya.

Kamil mengakui, pihaknya mencatat sejak Januari hingga 10 Agustus jumlah anjal dan gepeng yang terjaring oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) PMKS sebanyak 235 orang. Diantaranya, 163 anak jalanan, dan 72 gepeng.

“Kita rutin melakukan patroli. Hanya saja, kita tidak punya fasilitas pembinaan dan rehabilitasi sementara ini di rujuk ke lembaga provinsi,” tuturnya.

Sekadar informasi, berdasarkan data di Dinas Sosial Kota Makassar, di tahun 2017 TRC telah menjaring 1049 orang PMKS. Angka itu didominasi oleh anak jalanan sekitar 332 orang, disusul gepeng sebanyak 247 orang, orang yang kedapatan menggunakan obat-obatan/lem sebanyak 161 orang. Disusul pengamen sekitar 147 orang, psikotik 120 orang, Wanita Tuna Susila (WTS) sebanyak 33 orang, dan waria sekitar 9 orang.

Jumlah yang terjaring untuk tahun 2017 bahkan berada di bulan Juni sekira 158 orang. Angka ini terus mengalami penurunan, yaitu pada bulan Juli turun menjadi 85 orang. Namun dua bulan berikutnya naik menjadi 99 orang di Agustus dan 111 orang di September. Tetapi, pada Oktober hingga Desember angka itu mengalami penurunan, yaitu dari 68 orang di Oktober, 64 orang di November dan 13 di Desember. (****)


div>