JUMAT , 17 AGUSTUS 2018

Anton Setiadji Bilang Mahasiswa Makassar Memang Anarkistis, Tapi

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Rabu , 09 September 2015 17:31
Anton Setiadji Bilang Mahasiswa Makassar Memang Anarkistis, Tapi

Irjen Pol Anton Setiadji

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Irjen Pol Anton Setiadji sebentar lagi menduduki jabatan Kepala Polda Jawa Timur (Jatim) menggantikan Irjen Pol Pudji Hartanto yang sebelumnya menjabat Gubernur Akpol. Serah terima jabatan (Sertijab) akan dilaksanakan di Mapolda Sulselbar, Jumat (11/9/15).

“Kurang lebih satu tahun saya bertugas di Polda Sulselbar. Mungkin saya kurang berhasil dan masih banyak pekerjaan rumah, tetapi saya sudah berupaya bekerja maksimal. Mudah-mudahan, pelanjut saya dapat bekerja maksimal lagi dan saya yakin beliau (Pudji Hartanto) akan lebih baik dari saya,” ujar Anton di sela-sela kesibukannya di ruang kerjanya, Rabu (9/9).

Pada kesempatan itu, Anton mengharapkan, pemerintah pusat memberikan kepercayaan kepada Sulsel sebagai tuan rumah atau menggelar kegiatan nasional dan internasional, sebab sarana infrastruktur di Sulsel sudah sangat mendukung. Tetapi, image orang luar terhadap Sulsel masih ada kendala pada trauma anarkisme, terutama yang kerap dilakukan mahasiswa saat turun berunjuk rasa.

“Aksi anarkis adek-adek mahasiswa sebenarnya bisa diantisipasi. Caranya dengan menerapkan budaya lokal Sulsel. Seperti, Sipakainga (saling mengingatkan), Sipakala’bi dan Sipakatau (saling menghargai dan menghormati), dan lainnya. Itu semua tidak boleh hanya sebatas slogan dan petuah, tetapi betul-betul diterapkan pada diri masing-masing, termasuk menamkannya kepada adek-adek mahasiswa. Petuah tersebut juga jangan dikedepankan dari sisi negatifnya, tetapi positifnya,” terang Anton.

“Pendidikan politik di mahasiswa sudah bagus, tapi masih kurang penerapan budaya daerah tersebut. Inilah yang saya titipkan juga kepada pelanjut saya, supaya memperhatikan budaya tersebut dan saya juga titipkan adek-adek mahasiswa supaya dibina serta diarahkan dengan baik. Civitas akademika juga harus menanamkan budaya lokal dan leadership atau kepemimpinan kepada adek-adek mahasiswa di bangku kuliah,” tambahnya.

Anton mengatakan, mahasiswa juga harus memposisikan dirinya dan mematuhi prosedur yang ada, terutama saat hendak turun berunjuk rasa.

Mahasiswa yang akan turun berunjuk rasa, kata dia, seharusnya menerapkan budaya lokal seperti Sipakatau dan lainnya). Kalau itu diterapkan, lanjutnya, maka aksi anarkis akan dapat dihindari.

“Namun, selama ini mereka (pengunjuk rasa) tiba-tiba saja turun aksi, alasannya sudah menginfokan Kapolda melalui Short Message Service (SMS), tetapi tidak demikian prosedurnya. Seharusnya, dengan cara harus menyurat dan jelas, siapa yang akan turun, berapa orang, di mana lokasinya, siapa akan ditemui. Kalau perlu akan dimediasi ,” jelasnya.

“Kita tidak melarang adek-adek mahasiswa berunjuk rasa, tetapi harus melalui prosedur dan berlangsung aman,” tambah lulusan terbaik Akpol 1983 ini.

Anton menjelaskan, penanganan mahasiswa itu harus dilakukan secara arif dan bijaksana, agar aksi anarkis dapat diredam dan kalau perlu dihilangkan.

 


div>