JUMAT , 19 OKTOBER 2018

Apa Dosa Negeri Ini

Reporter:

Armansyah

Editor:

Iskanto

Kamis , 04 Oktober 2018 09:34
Apa Dosa Negeri Ini

ilustrasi (Dok Rakyatsulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Bencana alam yang melanda negeri ini seakan tidak ada habisnya. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, atau pun letusan gunung berapi datang silih berganti.

Korban jiwa tak terhitung lagi. Tanggapan manusia pun beragam, ada yang menyebut hal ini adalah fenomena alam. Namun tak sedikit mengaitkannya dengan dosa-dosa manusia.

Masih teringat di benak manusia banjir bandang yang menerjang wilayah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Rabu (7/3/2018). Kemudian gempa 7 SR yang mengguncang wilayah Lombok Utara terasa hingga Sumbawa dan Bali, Minggu (5/8). Kurang lebih 500 orang meninggal dunia dalam peristiwa itu.

Dan yang terbaru adalah gempa dan tsunami yang meluluhlantahkan Kota Palu, Sulawesi Tengah. Gempa magnitudo 7,4 yang terjadi Jumat, 28 September lalu mengakibatkan ribuan bangunan rusak dan lebih dari seribu orang meninggal.

Bahkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) mencatat, hingga Rabu (3/10/2018), terjadi 362 kali gempa bumi susulan yang terjadi pasca-gempa besar mengguncang Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Dari jumlah tersebut, 12 gempa yang dirasakan oleh warga.

Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel, Prof Muhammad Galib mengatakan, bencana alam yang terjadi belakangan ini harus dilihat dari dua hal. Pertama kata dia, ummat harus mengetahui hukum-hukum Allah. Artinya, ummat harus menjaga alam dengan tidak merusaknya.

“Hukum alam itu harus kita pelajari. Misalnya kalau gempa, jangan tinggal dekat-dekat gunung. Jadi kalau gempa lantas kita disitu berarti kita langgar ketentuan hukum Allah karena kita sudah tahu gempa itu berada di gunung,” katanya, Rabu (3/10).

Yang kedua, kata Galib, bencana alam yang terjaid karena adanya pelanggaran-pelanggaran hukum syariah. Dimana, jika hukum syariah dilanggar maka hukum Allah pasti datang.

“Bencana alam harus dilihat dari dua perspektif, boleh jadi pelanggaran terhadap hukum syariah, yang kedua boleh jadi pelanggaran hukum-hukum Allah yang ditetapkan di jagat raya ini,” cetusnya.

Galib meminta kepada ummat untuk cepat belajar dan memahami hukum-hukum Allah. “Jadi jangan melakukan pelanggaran atau melanggar hukum Allah yang menyebabkan Allah menurunkan bencana,” ungkapnya.

Galib menambahkan, ummat muslim di Indonesia harus bersatu mewujudkan negara yang beriman dan bertaqwa, agar Allah menurunkan berkah dari segala penjuru. “Allah kan sudah berjanji, apabila dalam suatu bangsa seluruh ummatnya beriman dan bertaqwa maka akan diberikan berkah dari semua penjuru,” katanya.

Ketua Forum Kerukunan Umat Bersatu, Prof Rahim Yunus mengatakan, bencana yang menerpa bangsa Indonesia merupakan suatu hal yang sudah diatur dalam ketetapan Allah, seperti manusia mempunyai waktu sendiri soal hidup, rejeki dan meninggal.

“Kalau dosa dan bencana dikaitkan, maka bencana terusmi itu di kota yang tidak beriman. Kalau tidak menjaga alam, itu bisa rusak, maka ada sunnahtullah yang memerintahkan manusia menjaga alam ini agar tidak rusak,” katanya.

Menurut Rahim, menjaga ekosistem alam menjadi hal utama ummat manusia, sebab bencana hadir karena ulah manusia itu sendiri. Meski begitu, ummat juga dituntut untuk melindungi dirinya dari bencana.

Lebih jauh ia mengatakan, kemajuan teknologi tidak menutup kemungkinan bencana akan datang, meski saat ini ada pendeteksi gempa namun belum ada alat yang menentukan kapan terjadinya. Olehnya itu, masyarakat harus banyak berdoa dan bertaubat.

“Namanya manusia kita dituntut untuk selalu bertaubat tidak menunggu setelah ada bencana baru mau bertaubat. Bertaubat itu bukan untuk tuhan tapi untuk diri kita pribadi,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Pusat Gempa Regional IV BMKG Syarifuddin mengatakan, wilayah Sulsel memiliki potensi gempa, utamanya di utara Sulsel. Namun, belum bisa dipastikan kapan akan terjadi. “Kalau kita lihat peta, rawan gempa bumi di utara Sulsel karena masuk patahan walanae,” ungkapnya.

“Termasuk di bagian selatan seperti Bulukumba dan Sinjai karena masuk wilayah patahan walanae,” lanjutnya.

Syarifuddin mengatakan, di Indonesia selama tahun 2018 telah terjadi gempa sebanyak 8693 kali. Khusus di Sulsel telah terjadi gempa bumi sebanyak 1051 kali. 53 kali diantaranya dirasakan oleh masyarakat. (*)


div>