Apindo Dorong Pengembangan Komoditas Unggulan Daerah

Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Kelembagaan DPN Apindo Eko Budi Santoso (ki-ka), Sekretaris DPP Apindo Sulsel Yusran IB Hernald, Dewan Pakar DPP Apindo Sulsel Prof Dr Ir Baharuddin Patanjengi, dan Ketua DPP Apindo Sulsel La Tunreng di sela-sela rapat pengurus di Grand Clarion Hotel Makassar, Kamis (13/7). foto: doelbeckz/rakyatsulsel.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Dewan Pengurus Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulsel melakukan terobosan baru dalam mendukung pengembangan ekonomi di Sulsel. Yaitu dengan membentuk dewan bisnis yang akan melakukan pemetaan, kajian, dan mengorganisir potensi bisnis yang ada di daerah.

“Pembentukan dewan bisnis di tingkat provinsi ini merupakan mandat dari pusat (Dewan Pengurus Nasional/DPN Apindo). Mudah-mudahan ide bagus ini dapat menunjang pengembangan komoditas unggulan yang ada di daerah,” jelas La Tunreng, Ketua DPP Apindo Sulsel di sela-sela rapat pengurus di Grand Clarion Hotel Makassar, Kamis (13/7).

La Tunreng mengatakan, dewan bisnis yang akan dibentuk ini, menggodok setiap potensi bisnis yang agar dapat dikelola secara maksimal, mulai dari produksi, pengelolaan, packing hingga pemasaran.

“Nantinya teman-teman daerah DPK (Dewan Pengurus Kabupaten/Kota Apindo) di daerah jadi pelaksana di lapangan,” ungkapnya diberitakan Rakyat Sulsel, Jumat (14/7).

“Sekarang bukan lagi bicara ide, tetapi pelaksanaan di lapangan. Di sinilah peran dewan bisnis. Contohnya, teman-teman di daerah beli kopi 1 Kilogram (Kg) Rp20.000, kemudian ada biaya transportasi, tetapi di pusat belinya Rp27.000 kalau harga itu, maka kita masih rugi, makanya akan dikaji harus ada untungnya. Bisnis simpel saja, ada selisihnya,” tambah La Tunreng.

Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Kelembagaan DPN Apindo, Eko Budi Santoso, yang turut hadir pada rapat ini, menjelaskan, dewan bisnis nantinya bertujuan mengorganisir potensi bisnis anggota Apindo yang ada di daerah.

“Anggota Apindo itu multi sektor, ada bergerak di bidang usaha pertanian, perdagangan, transportasi, dan lainnya. Perlu ada pemikiran supaya berkesinambungan. Melalui dewan bisnis ini diharapkan menjadi wadah teman-teman di Apindo dalam mengembangkan usaha yang ada,” jelasnya.

[NEXT-RASUL]

Eko mencontohkan, Tana Toraja memiliki kopi sebagai komoditas andalan, tetapi selama ini belum terkelola secara maksimal. Hal itu, mungkin dipengaruhi tengkulak atau teknologi yang kurang memadai. Nah, di sinilah peran dewan bisnis akan berperan mulai di tingkat produksi, pengelolaan hingga pemasaran.

“Nantinya dibuatkan proposal supaya diketahui apa kebutuhan dan kendalanya dalam mengembangkan suatu potensi bisnis di lapangan. Pusat (DPN) akan membantu mencarikan solusinya, apakah itu dari sektor teknologi, pendanaan, maupun pemasaran,” terangnya. (***)