KAMIS , 20 SEPTEMBER 2018

Apindo MoU dengan Menristek Dikti dan Forum Rektor

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 21 Januari 2015 21:54
Apindo MoU dengan Menristek Dikti dan Forum Rektor

int

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM  – Disaksikan Wakil Presiden (Wapres) HM Jusuf Kalla (JK), Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) M Natsir dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman terkait pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), penelitian pengabdian kepada masyarakat di lingkungan perguruan tinggi dan dunia usaha.

Kemudian, juga melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Forum Rektor Indonesia dengan Apindo.

Natsir menjelaskan, MoU ditandatangani agar terbangun kerja sama antara Perguruan Tinggi (PT) dan dunia kerja. Sehingga, akhirnya hasil riset PT dapat diimplementasikan dalam dunia kerja.

“Banyak hasil penelitian yang dilakukan di kampus hanya menjadi penghias perpustakaan, terutama industri dan pemerintah,” kata Natsir dalam sambutannya pada penandatanganan MoU di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (21/1).

Selain itu, melalui nota kesepahaman Natsir berharap, mampu mendorong dan memfasilitasi peningkatan relevansi perguruan tinggi, sumber daya dan program akademik di perguruan tinggi, sehingga akhirnya tercipta kesesuaian antara lulusan kerja dengan pekerjaannya.

Natsir memaparkan kesepahaman, meliputi pemagangan kerja bagi mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi untuk bidang-bidang keilmuan yang relevan.

Kemudian, penelitian dan pemanfaatan hasil penelitian. Serta, pelatihan dan jasa konsultasi dan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara, untuk implementasinya, Natsir mengatakan, akan dibuat beberapa kebijakan.

Pertama, membentuk sistem yang mengatur kemitraan sinergis dengan dunia usaha dan dunia industri. Kedua, mengotimalisasi pemanfaatan dan Corporate Social Responsibilitu (CSR) untuk bidang pendidikan dan penelitian.

Ketiga, membentuk sistem yang mengatur kemitraan sinergis dengan perguruan tinggi agar hilirisasi hasil-hasil penelitian perguruan tinggi dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.

Keempat, memanfaatkan potensi yang ada di masyarakat, dunia usaha dan dunia industri untuk peningkatan kualitas pendidikan.

Ketua Forum Rektor Indonesia, Ravik Karsidi, mengatakan, kerja sama itu juga dalam rangka mendorong dan memfasilitasi peningkatan mutu serta relevansi perguruan tinggi, sumber daya, dan program akademis di perguruan tinggi yang perlu difasilitasi perkembangannya.

“Perlu ada usaha yang kuat mendorong pertumbuhan sektor yang memberi nilai tambah. Untuk mendorong itu, perlu ada pengembangan yang mengacu pada link dengan dunia usaha dan pendidikan,” jelas Ravik Kasidi yang juga Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Ravik Kasidi menyebutkan, kerjasama ini juga mampu mengembangkan beberapa sektor yang mempunyai nilai tambah tinggi dan melepaskan masyarakat Indonesia dari jebakan negara mengenai penghasilan yang sedang.

“Dalam integrasi ini, universitas dan industri harus benar-benar sinergi mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Sementara, Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional (DPN) Apindo, Hariyadi B Sukamdani, mengatakan, kerja sama ini mampu menciptakan tenaga kerja yang jarang diminati.

 

“Seperti, manufaktur, pertambangan, perkebunan, jasa, dan sektor lainnya sering kesulitan mendapat tenaga kerja yang memenuhi kualifikasi yang memenuhi keperluan,” jelasnya.

 

Hariyadi mengatakan, lemahnya link and match setiap perguruan tinggi masih menjadi kendala utama dalam menyalurkan lulusan.

“Banyak pengamat mengatakan pengetahuan dan keterampilan teknis yang dihasilkan dunia pendidikan kualifikasi, dunia usaha dan industri,” jelasnya.

 

Hariyadi menambahkan, oleh karena itu, nota kesepakatan dengan Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi menjadi penting.

 

“Dunia usaha memerlukan institusi independen dengan kemampuan andal, seperti dalam hubungan industrial. Kami representasi dunia usaha dalam mekanisme tripartit bersama pemerintah dan pekerja dalam terkait ketenagakerjaan,” katanya.

 

Hariyadi mencontohkan, salah satu masalah yang perlu dijembatani adalah mengenai pengupahan. Setiap tahun dalam penentuan upah minimum selalu ada perbedaan pendapat. Sehingga, perlu perguruan tinggi untuk menjadi pihak independen untuk melaksanakan survei secara tepat.

 

Selain itu, lanjutnya, memang sudah saatnya dunia usaha di tanah air memanfaatkan hasil riset perguruan tinggi untuk meningkatkan daya saing perusahaan Indonesia dan mendorong lahirnya penelitian unggulan.

 

“Apindo siap meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih baik,” janji Hariadi.


Tag
  • JK
  •  
    div>