SELASA , 23 JANUARI 2018

Aru: Masa Cuma Kosong Dua

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 09 Mei 2017 11:05
Aru: Masa Cuma Kosong Dua

int

MAKASSAR, RakyatSulsel.com– Wacana paket bakal calon (balon) wali kota dan wakil wali kota pada Pemilihan Wali Kota Makassar tahun 2018 mendatang makin gencar dihembuskan.

Jika sebelumnya ada wacana paket Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Irman Yasin Limpo (None) dengan Ketua NasDem Makassar Andi Rachmatika Dewi (Cicu), kali ini wacana serupa muncul dengan paket None yang berpasangan dengan Farouk M Betta.

Namun wacana tersebut secara tegas dibantah oleh Farouk M Betta. Aru,–sapaan akrab Farouk M Betta telah menyatakan sikap akan maju sebagai bakal calon wali kota, bukan sebagai wakil atau kosong dua.

Hal tersebut memang masuk akal mengingat Aru adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Golkar Makassar serta Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar.

“Kalau dari karier politik saya, matang. Jika ada katakan kosong satu atau dua, saat ini partai sedang melakukan survei.  Tapi, saya sosialisasikan diri sebagai kosong satu. Partai besar sekelas Golkar masa mau sosialisasi kosong dua,” ujar Aru usai mengambil formulir pendaftaran usungan di DPD PAN Makassar, Jalan Toddopuli Raya Timur, Senin (8/5).

Aru telah memantapkan diri sebagai calon wali kota Makasar meskipun ke depan bila Partai Golkar meminta harus melawan petahana Moh Ramdhan Pomanto. “Hanya saja kondisi belum tahu ujungnya karena ini kondisi politik kita tidak tahu, tapi saya sosialisasikan diri sebagai calon wali kota karena saya ketua Golkar. Masak ketua partai sosialisasi kosong dua,” jelasnya.

Aru menegaskan, bersedia berhadap-hadapan dengan lawan pasangan calon lainnya. Sebab, dia mengaku diamanahkan oleh partai untuk maju sebagai bakal calon wali kota. Begitu pun perihal pasangan. Aru menyatakan, kemungkinan akan berduet dengan siapapun masih dapat terjadi. Sebab, tahapan dianggap masih cukup panjang. “Saya siap head to head,” tegasnya.

[NEXT-RASUL]

Saat ditanya terkait isu yang tengah beredar yakni, dimana dirinya akan di paketkan dengan None, Aru mengatakan bahwa saat ini perpolitikam jelang Pilwalkot masih sangat dinamis. Sehingga, siapa figur yang akan mendampinginya pun juga masih sangat terbuka lebar.

Meski demikian, Aru mengaku tunduk akan perintah partai. Baik itu nantinya ia maju sebagai 01 maupun 02. Bahkan, saat disinggung terkait apakah ia siap menjadi 02 mendampingi None, Aru menuturkan itu semua nantinya tergantung petunjuk teknis yang dikeluarkan oleh DPD I Golkar Sulsel maupun DPP Golkar.

“Semua kemungkinan bisa terjadi, saya sebagai kader mau itu 01 atau pun 02 saya patuh akan hal itu. Saya cuma menjalankan amanat partai dan amanat rakerda, karena rakerda tertinggi ke dua setelah musda. Jadi itu dipahami keputusan dari sebuah organisasi partai,” terangnya.

Lebih jauh Aru mengatakan dirinya maju atas dorongan kader Golkar se-Kota Makassar. Dimana, kata dia, Golkar Makassar telah memutuskan dirinya sebagai bakal calon tunggal Golkar pada saat Rapat Kerja (Raker) Golkar Kota Makassar.

“Ini adalah amanah ditingkat Golkar Makassar (menentukan calon wali kota), kita tinggal menunggu dari DPD I (Golkar Sulsel),” ungkap Aru.

Konsultan Politik dari Jaringan Suara Indonesia (JSI) Arif Saleh menuturkan, keinginan Aru maju bertarung di Pilkada Makassar bukan kali ini saja. Pasalnya, di Pilkada 2013, nama ketua DPRD Makassar itu sempat masuk bursa sebagai bakal calon wakil wali kota.

Bedanya untuk saat ini, Aru yang sudah menjabat dua periode, menjabat ketua DPRD Makassar, kansnya lebih terbuka dibanding suksesi sebelumnya. Mengingat, posisi Aru sebagai pengendali Partai Golkar.

[NEXT-RASUL]

“Sebagai ketua partai, posisi Aru tentu layak diperhitungkan untuk masuk menjadi kandidat di pilkada. Jika mekanisme Golkar sama yang diterapkan di Pilgub Sulsel dengan menunjuk langsung kandidat usungannya, peluangnya pasti terbuka tercatat sebagai kontestan,” ungkap Arif.

Lalu bagaimana jika Golkar membuka penjaringan dan penentuannya berdasar survei? Arif menilai, Aru harus bekerja keras. Alasannya, beberapa kader Golkar lainnya punya popularitas dan jejaring yang mumpuni. Seperti Rusdin Abdullah dan Haris Yasin Limpo.

Di samping itu, di survei empat bulan lalu, elektabilitas Aru masih tertinggal dari sejumlah nama. Diantaranya Moh Ramdhan Pomanto, Syamsu Rizal dan Irman Yasin Limpo. “Aru memang punya modal untuk diusung oleh Golkar. Meski memang harus bekerja keras jika mengincar posisi calon wali kota,” terangnya.

Kendati demikian, posisi Aru layak diperhitungkan jika memilih maju menjadi calon wakil wali kota siapapun yang didampinginya. Sebab selain modal partai pemenang pemilu, alumnus UMI ini juga punya ketokohan yang bisa saling melengkapi dengan pasangannya. “Aru bisa saling melengkapi kalau disimulasikan dengan Danny, None atau Deng Ical. Termasuk figur lain,” papar Arif.

Ditanya wacana None-Aru, Arif menganggap kemungkinan tersebut bisa terjadi, terutama jika keinginan Golkar menduetkan Danny-Aru tidak terealisasi. Apalagi baik None maupun Aru selama ini memiliki kedekatan, terutama pasca-Pilgub Sulsel 2013.

“Komunikasi keduanya sejauh ini sangat cair. Cuma memang yang bisa menjadi penghambat utama adalah partainya. Karena pasti Golkar berpikir dua kali merekomendasikan duet ini. Mengingat Golkar di Pilgub Sulsel hampir pasti mendorong Nurdin Halid yang diprediksi bakal beririsan dengan Ichsan YL yang tak lain kakak None. Itu yang menjadi kendala,” tuturnya.

[NEXT-RASUL]

Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto, mengatakan, gejolak perpolitikan saat ini jelang Pilwalkot saling lempar keunggulan masing-masing figur. Baik dari segi popularitas maupun elektabilitas yang seyogyangnya dapat menjadi modal utama untuk ikut berkontestasi. Bahkan tidak jarang, akibat berlebihan memasarkan diri sebagai bakal calon akhirnya merugi pada akhir kontestasi.

“Politik elektoral memang seperti biasa situasi pasar malam. Banyak permainan di sajikan, dan di awal acara setiap peserta berusaha menawarkan “dagangan” dengan harga yang terbaik, dan seiring larutnya malam, sang pedagang pun semakin realistis. Prinsip pun berubah, tidak harus untung tapi minimal modal awal dagangan bisa kembali, atau pun kalau terpaksa harus rugi, tidaklah rugi besar,” ungkapnya.

Luhur menuturkan, sejauh ini Aru yang merupakan salah seorang yang memiliki popularitas serta elektabilitas yang cukup baik memang layak menjadi 01. Tetapi, melihat pada kondisi perpolitikan saat ini tidak menutup kemungkinan akan ada perubahan yang dapat merubah secara signifikan mekanisme paket figur nantinya kedepan.

“Di beberapa kesempatan, Pak Aru sebagai ketua DPRD dan ketua Partai Golkar, yang mengontrol infrastruktur partai, selalu menunjukkan optimismenya running di posisi 01. Bahkan berani menantang incumbent head to head. Sebagai tawaran awal “permainan” sah-sah saja di lakukan, yang penting sebenarnya adalah pergerakan politik setelah deklarasi dan setelah mendaftar pada beberapa partai politik di luar Golkar,” jelas Luhur.

“Kita akan lihat, apakah stamina dan konsistensi “harga” yang di bangun Pak Aru akan bertahan hingga akhir “permainan” tahapan Pilwalkot. Ataukah beliau bersedia menurunkan “tawaran” menjelang akhir “malam” persaingan,” lanjutnya.

Lebih lanjut, kata luhur, mekanisme perpolitikan saat ini penuh dengan kejutan. Yang dimana, kata dia, baik siapapun saat ini belum bisa menerka secara pasti siapa-siapa figur yang telah pasti akan berpaket di Pilwalkot nantinya, bahkan Aru-None sekalipun.

“Politik selalu penuh dengan kemungkinan-kemungkinan, tergantung gerakan setelah seremoni pendaftaran dan deklarasi,” paparnya.

Untuk None sendiri, Luhur mengatakan, sebagai figur yang pernah maju di Pilwalkot 2013 lalu. Tentunya telah memiliki pengalaman-pengalaman yang cukup baik. Sehingga, kekuatan serta popularitasnya sangat baik untuk maju sebagai 01. Ataupun bisa dikatakan antara Aru dan None sama-sama memiliki kekuatan untuk maju sebagai 01. Ditambah lagi tentunya Golkar yang merupakan pemegang kursi terbanyak di Makassar akan sulit untuk melepas Aru sebagai 02.

“Adapun Pak None, saya kira juga belum menemukan “pasangan” yang pas. Setelah melihat respon dengan Cicu ARD, yang tidak begitu antusias, tentu perlu menjajaki kemungkinan-kemungkinan lain, termasuk dengan Pak Aru. Tapi saya kira level Pak Aru untuk jadi 02 dari Pak None, tidak akan mulus di terima Partai Golkar. Meskipun keduanya pernah bekerjasama dalam beberapa momentum kontestasi,” terangnya.

[NEXT-RASUL]

Daftar di PAN, PKS, Gerindra

Bakal calon Wali Kota Makassar dari Partai Golkar yang juga Ketua DPRD Makassar Farouk M Betta (Aru) resmi mendaftar di tiga partai, yakni Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Gerindra, Selasa (8/5/2017).

Wakil Ketua Tim Pemenangan Pilkada (TPP) PAN Makassar, Askari Umar Tatta mengatakan bahwa ada yang menarik pada hari pendaftaran Aru lantaran Aru tercatat sebagai pendaftar ke delapan sesuai nomor urut PAN.

“Pak Aru tercatat sebagai pendaftar ke delapan, dan ini ada hal yang menarik karena nomor 8 adalah nomor urut partai PAN, yang mestinya di siapkan untuk ketua PAN Makassar,” ungkap Askari.

Sementara Aru mengatakan, hal ini bukan hanya sekadar nomor PAN saja. Namun, pada waktu pendaftarannya ini terdapat nomor urut Golkar juga.

“Nomor urut Partai Golkar itu nomor urut 5, dan ini juga bulan Mei (5). Ini sebuah tanda  tanda. Amin,” terang Aru.

Usai mendaftar di TPP DPD PAN, Farouk berkunjung ke Kantor DPD PKS untuk silaturahmi dengan sejumlah tim Pemira PKS. Kemudian Farouk berlanjut ke Sekertariat DPC Gerindra Makassar Jalan Nuri Kecamatan Mamajang Makassar.

[NEXT-RASUL]

Aru diterima langsung oleh Sekretaris DPC Gerindra Arif Bahagiawan, Ketua Desk Pilkada Ansyar Manrulu beserta anggota tim Desk Pilkada Partai Gerindra.

Aru mengatakan, Partai Gerindra dapat memberikan dukungan pada dirinya untuk maju pada Pilwali 2018 mendatang bersama dengan Partai Golkar. “Kami datang mengajak Ijab qabul dengan Partai Gerindra. Kami berharap bisa berjuang bersama Gerindra pada Pilwali Makassar 2018 mendatang,” kata Aru.

Aru juga mengungkapkan keinginannya mendaftar sebagai bakal calon wali kota untuk memperbaiki Makassar. “Niat baik kami ingin mewujudkan Makassar lebih baik, bersatu dengan Gerindra dan Golkar bekerja untuk masyarakat,” pungkasnya. (E)


div>