SENIN , 22 OKTOBER 2018

Australia Tawarkan Bantuan Untuk Korban Tsunami Palu

Reporter:

Editor:

Iskanto

Minggu , 30 September 2018 19:10
Australia Tawarkan Bantuan Untuk Korban Tsunami Palu

Tumpukan besar puing mobil dan sepeda motor diantara puing-puing sampah Tsunami di Kota Palu, Sulawesi Tengah. (AP: Tatan Syuflana)

Pemerintah Australia menyampaikan simpati sekaligus menawarkan bantuan kepada warga Indonesia yang menjadi korban bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda Kota Palu dan Donggala di Sulawesi tengah

Perdana Menteri Scott Morrison dalam wawancaranya di Program Insider ABC mengatakan dirinya telah berkomunikasi dengan Presiden Joko Widodo dan menyatakan simpatinya dan telah menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk menyikapi bencana gempa bumi dan tsunami yang melanda Kota Palu dan Donggala di Sulawesi tengah.

“Jika dia [Presiden Joko Widodo] membutuhkan bantuan kami, dia akan mendapatkannya,” kata Morrison.

PM Scott Morrison juga menambahkan bahwa “Indonesia memang tidak meminta bantuan itu tetapi Presiden sangat menghargai empati yang disampaikan warga Australia.”

“Tantangannya adalah … ketika Anda menghadapi bencana yang dapat terjadi dengan sangat cepat sehingga memberikan dukungan yang diperlukan untuk mengamankan lokasi dan memastikan bahwa masalah tidak semakin memburuk saya pikir itu akan menjadi tantangan yang sangat besar,” katanya.

Sementara itu dalam konferensi persnya Minggu (30/9/2018) siang, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengonfirmasi jumlah korban tewas dalam bencana gempa bumi dan tsunami di Kota Palu telah meningkat menjadi 832 orang dan diperkirakan jumlah ini masih akan terus meningkat tajam dan meyakini area yang terkena dampak menjadi lebih besar dari yang diperkirakan semula.

Banyak warga dilaporkan masih terperangkap di antara puing-puing bangunan yang hancur akibat gempa berkekuatan 7,5 SR, yang melanda Jumat (28/9/2018) dan memicu gelombang tsunami setinggi enam meter, kata jurubicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho pada konferensi pers Minggu (30/9/2018).

Sementara korban tewas yang berhasil dikonfirmasi saat ini jumlahnya sudah lebih dari dua kali lipat yakni sebanyak 821 yang berasal dari Kota Palu, pihak berwenang mengaku masih kesulitan untuk menilai situasi di Donggala, kota yang paling dekat dengan episentrum gempa.

Dia mengatakan, masih belum ada laporan komprehensif tentang korban di daerah pesisir dan sekitarnya.

“Jumlah korban tewas diyakini masih terus meningkat karena banyak mayat masih di bawah reruntuhan, sementara banyak yang belum berhasil ditangani,” katanya.

Sutopo juga mengatakan pemakaman massal akan diadakan di Palu karena alasan kesehatan.

Selain itu ia juga menambahkan sebanyak 61 warga asing dilaporkan tengah berada di Palu selama periode gempa dan tsunami.

Tiga warga Perancis, satu Korea Selatan, dan satu orang Malaysia masih hilang, kata Nugroho.

Warga Korea Selatan itu diyakini masih terperangkap di reruntuhan Hotel Roa-Roa, di mana sekitar 50 orang lainnya diyakini juga masih terperangkap di bawah reruntuhan bangunan hotel tersebut.

Tidak ada warga negara Australia yang masuk daftar orang asing. Para korban akan dievakuasi ke kota Makassar.

Sementara itu menurut Sutopo Purwo Nugroho layanan darurat membutuhkan alat berat untuk membersihkan puing-puing.

Dia mengatakan bahan bakar sangat terbatas dan jalanan rusak, membuat upaya pencarian dan penyelamatan semakin menantang.

Makanan, air, obat-obatan, tenda, obat-obatan, dan persediaan bayi juga terbatas, katanya.

Sutopo menambahkan bahwa dia berharap listrik akan bisa beroperasi hari ini.

Sebelumnya BNPB juga mengatakan “puluhan hingga ratusan” orang mengambil bagian dalam festival pantai di Palu ketika tsunami melanda pada senja pada hari Jumat. Nasib mereka tidak diketahui.

Pihak berwenang percaya bahwa longsoran bawah laut yang disebabkan oleh gempa telah memicu gelombang tsunami yang membuat pendaratan di bagian barat laut pulau Sulawei, dimana kota Palu menjadi kawasan yang paling parah terkena gelombang mematikan itu.

Palang Merah mengatakan hingga saat ini pihaknya juga belum mendapat kabar apapun dari Donggala.

“Ini sangat mengkhawatirkan,” katanya dalam sebuah pernyataan.

“Ini sudah menjadi tragedi, tapi bisa jadi jauh lebih buruk.”

Sejumlah gambar menunjukkan dinding air yang bergerak cepat membanjiri kota Palu, menghanyutkan mobil, pohon dan bagian-bagian bangunan bersamanya.

Sejumlah besar infrastruktur di pulau itu musnah, sehingga sulit untuk mengobati luka dan mendapatkan gambaran lengkap tentang tingkat kerusakan.

Presiden Joko Widodo tiba di Kota Palu pada hari Minggu (30/9/2018) untuk memeriksa kerusakan dan upaya penyelamatan yang sedang berlangsung.

Militer Indonesia juga telah mulai mengirim pesawat dengan membawa bantuan logistik dari Jakarta dan kota-kota lain, kata pihak berwenang.

Bandara Palu rusak akibat gempa, tetapi telah dibuka kembali untuk penerbangan komersial terbatas, menurut pihak berwenang. (jpnn/ABC Australia)


div>