SELASA , 13 NOVEMBER 2018

Awan Gelap Ekonomi Global Mengikuti Kita

Reporter:

Editor:

faisalpalapa

Sabtu , 10 Desember 2016 15:16

RAKYATSULSEL.COM— Awan gelap masih merundung perekonomian global. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan, dampaknya pasti terasa ke perekonomian dalam negeri. Meski begitu, kata dia, APBN 2017 dirancang tak hanya menciptakan daya tahan, tapi juga agar terus bertumbuh.

Hal itu disampaikan Sri Mul saat memberi sambutan dalam acara Economy Outlook 2017 yang digelar Ikatan Bankir Indonesia (IBI) di Plaza Bapindo, Jakarta, kemarin.

Sebelum menyampaikan berbagai strategi pemerintah menghadapi ketidakpastian ekonomi global, Sri Mul lebih dulu mengritik para bankir yang tergabung dalam IBI. Menurut eks Direktur Pengelola Bank Dunia itu, ada 70 persen dari 963 komisaris dan direksi yang belum memanfaatkan program tax amenesty.

Rinciannya, 215 komisaris dan dan 410 direksi yang belum ikut program pengampunan pajak. Sri Mul mengancam, jika para bankir ini tidak patuh, dia minta IBI mencabut sertifikat para bankir tersebut. “Saya tahu nama komisaris dan direksinya. Saya tahu nama banknya,” kata Sri mengawali pemaparannya.

Dia bilang, kalau sertifikat para bankir yang tak patuh tersebut tidak dicabut akan bikin jelek kredibilitas IBI. Sri Mul bilang, bankir itu bak malaikat. Membuat catatan detaik soal keuangan, seperti malaikat mencatat amal buruk dan kebaikan manusia. Nah, dia berharap, bankir juga menghitung dan mencatat laporan pajaknya secara benar. “Saya tidak minta jiwa raga anda. Saya hanya minta bayarlah pajak,” pintanya.

Sri Mul mengungkapkan, uang tebusan amnesti pajak per 8 Desember lalu sudah mencapai Rp 100,5 triliun. Jumlah tersebut terdiri atas wajib pajak orang pribadi non usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Rp 81,9 triliun, orang pribadi UMKM Rp 3,9 triliun, badan non-UMKM Rp 10,5 triliun; dan badan UMKM Rp 300 miliar. Dia menyayangkan, peserta amnesti pajak baru mencapai 482 ribu wajib pajak. Sedangkan jumlah bankir mencapai 150 ribu orang. “Kalau bankir ikut semua, pasti (jumlahnya) di atas ini,” katanya.

Soal ekonomi di tahun 2017, apa yang disampaikan Sri Mul tak jauh-jauh beda dari sebelumnya. Dia bilang, perekonomian global saat ini penuh ketidakpastian. Penyebabnya ada sejumlah perubahan kebijakan politik di sejumlah wilayah.

Misalnya terpilihnya Donald Trump sebagai Presdien AS, keluarnya Inggris dari Uni Eropa dan sebagainya. Pertumbuhan ekonomi global pun diprediksi masih akan melambat. Tahun 2017, pertumbuhan ekonomi global diprediksi ada di angka 3,1 persen, lebih rendah dari 2016 yang ada di angka 3,2 persen. Setelah krisis global, tren pertumbuhan ekonomi terus menurun. Indonesia dengan sistem ekonomi terbuka, pasti terkena imbasnya.

Karena itu, Sri Mul bilang, APBN 2017 disusun kredibel dan seefektif mungkin. Tidak hanya untuk menciptakan daya tahan, tapi juga bagaimana agar ekonomi terus bertumbuh. Misalnya, dalam APBN 2017, pertumbuhan ekonomi dipatok di angka 5,1 persen. Proyeksi ini lebih tinggi dari proyeksi Bank Indonesia yang mematok di angka 5-5,04 persen. “Target ini adalah asumsi yang hati-hati, namun tidak mengurangi optimisme,” kata dia.

Adapun pertumbuhan ekonomi 2016 diprediksi ditutup pada angka 5,0 persen. “Ini memang lebih baik dari tahun lalu, tapi itu bukan suatu yang terbaik yang bisa kita lakukan, kita masih bisa lakukan lebih baik lagi,” ujarnya.

Bisakah mencapai target itu? Sri Mul optimis mampu. Berbagai cara dilakukan. Misalnya dengan memanfaatkan investor dalam negeri. Dia bilang, pemerintah akan mendorong investasi baik dari konsumsi pemerintah secara langsung, BUMN, maupun dari pihak swasta. Di sisi sektoral, sektor manufaktur, konstruksi, pariwisata, perdagangan, transportasi, dan komunikasi masih bisa untuk tumbuh positif.

Belanja pemerintah masih sama dengan sebelumnya yaitu belanja yang bersifat produktif seperti infrastruktur dan sosial. Pembangunan infrastruktur diharapkan dapat menunjang investasi. sedangkan sosial seperti edukasi dan kesehatan diharapkan mampu menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, di mana mayoritas penduduk Indonesia saat ini didominasi oleh para anak muda. “Ini semua untuk memperkuat ekonomi Indonesia dalam menghadapi situasi yang tidak pasti di luar,” ucapnya. (RMOL(


Tag
div>