SABTU , 18 AGUSTUS 2018

Aziz Tawarkan SYL Jabatan di DPP

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 12 April 2016 10:45
Aziz Tawarkan SYL Jabatan di DPP

MDFAJAR/RAKYATSULSEL LOBBY POLITIK. Dua bakal calon Ketua Umum Partai Golkar, Syahrul Yasin Limpo dan Aziz Syamsuddin berbincang di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Jl Jendral Sudirman Makassar, Senin (11/4).

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Dua Calon Ketua Umum (Caketum) Partai Golkar, Aziz Syamsuddin, dan Syahrul Yasin Limpo (SYL) saling bertemu. Keduanya tampak serius membahas Munaslub Golkar 7 Mei mendatang.

Kedatangan Aziz, di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Senin (11/4) kemarin, untuk mengajak Syahrul berkoalisi. Jika berhasil menang, Aziz menjanjikan Ketua DPD I Golkar Sulsel itu jabatan sebagai pengurus kabinet besar di DPP Golkar.

Aziz mengaku berterima kasih karena Syahrul yang juga akan bertarung di Munaslub Golkar, bersedia menerima kedatangannya sekaligus berkomitmen untuk membangun Partai Golkar ke depan, serta menciptakan munas secara objektif, transparan, dan berkeadilan.

Aziz menyebutkan, program prioritas yang disepakati bersama SYL adalah menjadi pemenang pilkada 2017 dan 2018. Ia mengklaim dirinya dan SYL sama-sama memiliki peluang besar untuk menjadi Ketua Umum Golkar. Selain itu, Aziz mengaku telah membicarakan seperti apa idealnya struktur Partai Golkar ke depannya bersama SYL. “Saya sudah bicara, tapi jangan sekarang dulu dibuka,” katanya.

Ketua Komisi III DPR RI ini juga menyatakan, jika dirinya dan Syahrul sepakat untuk merangkul semua faksi-faksi, semua calon yang ada nanti untuk masuk dalam pengurusan di DPP.

“Jika bersama-sama, kita bisa membesarkan Partai Golkar, membantu pemerintah, untuk bersama-sama pemerintah membangun bangsa. Apalagi, berdasarkan hasil rapat konsultasi dan rapat pimpinan Partai Golkar, kita bersepakat untuk bergabung dengan pemerintah, mendukung pemerintahan Jokowi untuk pemerintahan ini berjalan lancar,” kata Aziz.

[NEXT-RASUL]

Ia menegaskan, bersama-sama seluruh calon akan berkoalisi. Siapapun yang menang, tentunya akan didukung. “Kalau Pak Syahrul menang, saya akan bergabung dengan beliau. Mudah-mudahan kalau saya menang, beliau juga mau bergabung dengan saya, sama-sama membesarkan partai dan seluruh calon akan bergabung di kepengurusan DPP Partai Golkar. Saya sama Pak Syahrul peluangnya sama,” tuturnya.

Sementara Syahrul Yasin Limpo menuturkan, Aziz merupakan bagian dari fungsionaris Kosgoro. Aziz sekarang memimpin Kosgoro nasional, meskipun masih kontraksi dengan Kosgoro yang dipimpin Agung Laksono. Tetapi, ia merasa jika Aziz adalah orang-orang yang termasuk senior di Kosgoro yang kemudian datang menyampaikan pikiran-pikirannya dalam rangka munas.

“Yang saya senang dengan aziz, dia tetap menganggap saya kakaknya, dia sangat merendah diri. Dia bilang ke saya, kak kamu maju sebagai ketua umum, saya juga maju, tapi kalau bisa kita sama-sama. Saya bilang, pikiran saya satu untuk Golkar saja. Masalah ketua umum itu adalah alternatif kesekian, bukan yang utama. Yang terpenting, Golkar harus besar karena Golkar adalah milik negara, harus berpihak pada rakyat. Kalau kau pegang itu, bagi saya kamu jadi ketua umum juga tidak jadi masalah,” terangnya.

Ketua DPD I Golkar Sulsel ini mengaku telah memiliki komitmen dengan Aziz. “Siapapun yang jadi ketua umum, akan jadi bagian dari kabinet besar. Kalau saya yang jadi ketua umum, Aziz akan masuk. Kalau Aziz jadi ketua umum, Syahrul akan masuk. Apakah dengan koalisi ini akan menjadi kekuatan bagi Aziz atau Syahrul, kita lihat nanti,” paparnya.

Syahrul menegaskan, dirinya akan mundur dari munaslub jika ada indikasi politik uang. “Cuma yang saya pesankan dimana-mana, kapan ada orang main uang, saya tidak ikut. Saya tidak biasa main uang, saya tidak main dengan cara-cara bayar. Kalau itu terjadi, saya tidak ikut munas. Itu karakter kita orang Sulsel. Bagi saya, ketua umum bukan sesuatu yang luar biasa, bagi saya adalah pengabdian,” tegasnya.

Sementara, Ketua Tim Pemenangan SYL di Munaslub, HM Roem, menilai, pertemuan antara Aziz Syamsuddin dan Syahrul Yasin Limpo merupakan sesuatu yang positif. Sebab kata dia, keduanya menyadari perlunya membangun sebuah kebersamaan sebelum munas. Roem menjelaskan, hal yang paling utama dari munas adalah bagaimana seluruh komponen Golkar terutama para calon ketua umum bisa duduk bersama, dan mempunyai pikiran yang sama untuk membesarkan partai berlambang pohon beringin ini.

[NEXT-RASUL]

“Siapapun nanti yang terpilih akan dipilih secara demokratis, tapi penting untuk membangun sebuah komunikasi untuk menyamakan pikiran, membangun kebersamaan sehingga Golkar sesudah munas, siapapun yang terpilih tetap bisa menyatu dengan semua calon. Tetap bisa membangun sebuah bangunan kerjasama dengan pemerintah,” tuturnya.

Roem menilai, pertemuan antara Syahrul dengan Aziz lebih terbuka dan kekeluargaan karena keduanya mempunyai pikiran yang sama. Bagaimana desentralisasi kewenangan yang selama ini ada dipusat dikembalikan ke daerah dan bagaimana meningkatkan kualitas kader.

Ketua DPRD Sulsel ini juga menyebutkan, ada upaya Aziz untuk membangun kerjasama lebih awal dengan Syahrul, dibanding kandidat lain yang sudah pernah ketemu.

“Kalau posisi sekarang, Aziz dan Syahrul sama. Tapi keduanya menyadari, siapapun diantara mereka yang berhasil masuk dalam proses, nanti bisa saling mendukung. Yang kecil mendukung yang besar. Intinya, Pak Syahrul akan tetap maju, tetapi disamping itu akan membangun kebersamaan dan kerjasama,” jelasnya.

Ia menambahkan, Syahrul sangat terbuka untuk bertemu kandidat lain. Hingga saat ini, masih ada tiga kandidat yang belum menemui Syahrul. Masing-masing Idrus Marham, Ade Komaruddin, dan Mahyuddin.

“Ini kan masih ada tiga yang belum ada komunikasi. Ada Idrus Marham, Ade Komaruddin, dan Mahyuddin. Kami tunggu kedatangan mereka,” kata Roem.

[NEXT-RASUL]

Pakar politik Universitas Hasanuddin Makassar Adi Suryadi Culla mengatakan bahwa koalisi antara Aziz Syamsudin dan Syahrul Yasin Limpo itu dianggap masih modus. Apalagi pelaksanaan Munaslub masih lama.

“Saya pikir pertemuan keduanya masih saling penjajakan. Dinamika politik masih bisa terjadi, apalagi Munaslub masih lama,” jelasnya.

Sementara Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Firdaus Muhammad menilai koalisi Azis Syamsudin dan Syahrul Yasin Limpo di Munaslub nantinya itu kurang menguntungkan.

Menurut dia, SYL seharusnya membidik Setya Novanto atau Ade Komaruddin jika memang ingin berkoalisi. “Jika pak Syahrul ditawarkan Sekjen itu sangat paling tepat atau wakil ketua umum,” ujarnya. (E)


div>