MINGGU , 21 OKTOBER 2018

Bahan Bakar dari Limbah Aren

Reporter:

Editor:

pkl uim

Selasa , 24 Juli 2018 12:10
Bahan Bakar dari Limbah Aren

int

RAKYATSULSEL.COM – Limbah industri kerap dibuang begitu saja dan bahkan bisa menyebabkan kerusakan lingkungan. Namun di tangan mahasiswa Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, limbah bisa menjadi bahan bermanfaat.

Adalah Anastasia Sandra Dewi, Richie Andyllo Stefanus, dan Maria Amelia Sandra. Mereka menemukan bahwa limbah padat aren mengandung bahan yang berlignoselulosa (lignin, selulosa, dan hemiselulosa).

Zat selulosa dan hemiselulosa dapat dihidrolisa atau dipecah molekul airnya menjadi gula reduksi kemudian difermentasi menjadi bioetanol. Namun kandungan zat lignin yang cukup tinggi telah membungkus kaku keberadaan selulosa dan hemiselulosa. Sehingga diperlukan proses pretreatment (perlakuan pendahuluan).

Menurut Anastasia Sandra Dewi, proses pretreatment berguna untuk melarutkan lignin agar zat selulosa dan hemiselulosa dapat dipakai secara maksimal. “Pada proses ini, kami menggunakan kombinasi pretreatment asam (asam sulfat 5 persen, red) dan organoslov (etanol 51,29 persen, red),” jelas mahasiswi yang akrab disapa Sandra tersebut dalam keterangannya, Selasa (23/7).

Seusai melalui tahap pretreatment, penelitian dilanjutkan dengan tahap hidrolisa enzim. Hidrolisa enzim berguna untuk menghidrolisa selulosa dan hemiselulosa yang diperoleh dari proses pretreatment menjadi gula reduksi, yakni glukosa dan xylosa. “Kami menggunakan dua enzim. Yaitu, enzim selulase dan xylanase serta surfaktan tween 80 untuk melakukan proses ini,” imbuhnya.

Setelah mendapatkan gula reduksi, terdapat tahap terakhir. Yakni, proses fermentasi. Melalui fermentasi, tim menggunakan jamur saccharomyces cerivisae yang berguna untuk mengkonversi atau mengubah gula reduksi menjadi bioetanol. “Proses ini dilakukan di inkubator shaker selama 72 jam pada suhu 35 derajat celcius agar memperoleh hasil yang maksimal,” tutur perempuan asal Jakarta tersebut.

Sandra mengaku, karya penelitian Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini membutuhkan total waktu sekitar delapan hari. Dihitung tanpa analisa dengan perolehan 0,42 persentase volume per volume (0,42 persen v/v) bioetanol dari 50 gram limbah padat aren. “Itu hanya skala laboratorium. Untuk skala besar bisa menghasilkan beberapa liter bioetanol,” paparnya.

Ke depan, tim berharap hasil karya penelitiannya bisa dikembangkan lagi. Serta diaplikasikan dalam skala yang lebih besar oleh pelaku industri. Limbah padat aren yang telah menumpuk dan menjadi sampah lingkungan itu bisa dimanfaatkan kembali pihak industri menjadi bahan bakar alternatif dan ramah lingkungan. (did/JPC)


div>