SABTU , 17 NOVEMBER 2018

Bahas Radikalisme, Ini Kata Rektor Unhas

Reporter:

Anti

Editor:

Lukman

Senin , 09 Juli 2018 17:40
Bahas Radikalisme, Ini Kata Rektor Unhas

Rektor Unhas, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA di acara Tudang Sipulung Kebangsaan pada Senin, 9 Juli 2018, di Gedung IPTEKS, Kampus Unhas, Tamalanarea.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar menggelar Tudang Sipulung Kebangsaan pada Senin, 9 Juli 2018, di Gedung IPTEKS, Kampus Unhas, Tamalanarea.

Acara yang mengangkat tema: “Bhinneka Tunggal Ika dalam Bingkai NKRI” ini menghadirkan nara sumber Yudi Latief, MA, Ph.D (penggagas Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, BPIP), Prof. Dr. Anhar Gonggong (sejarawan), dan Dr. Heri Santoso, M.Hum (dosen Filsafat UGM, Kepala Pusat Studi Pancasila UGM).

Tudang sipulung yang digagas oleh UPT Mata Kuliah Umum (MKU) dan Bidang Kemahasiswaan Unhas ini berangkat dari kepedulian civitas akademika Unhas terhadap maraknya isu radikalisme di dunia pendidikan tinggi, khususnya di kampus.

Acara ini digelar untuk mendorong agar nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, toleransi, dan keberagaman menjadi sesuatu yang terus teraktualisasi dalam kehidupan kampus.

Dalam sambutan pada pembukaan acara, Rektor Unhas, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA, menyampaikan bahwa sebagai pimpinan perguruan tinggi, dirinya cukup khawatir dengan maraknya isu-isu terkait radikalisme yang menerpa kampus akhir-akhir ini.

“Sejujurnya, ada kekhawatiran jangan-jangan memang kita sedang mengalami keroposnya nilai-nilai kebangsaan dari dalam. Oleh karena itu, ada kewajiban kami untuk terus-menerus mengokohkan nilai-nilai kebangsaan,” kata Dwia.

Untuk menjawab kehawatiran tersebut, Dwia Aries Tina mengajak untuk kembali menggali kekayaan dan keragaman bangsa ini manjadi sesuatu yang bermanfaat untuk memperkuat kebangsaan.

“Kita ingin agar anak-anak kita memiliki informasi yang terus-menerus yang kita siapkan, bukan berasal dari media sosial saja. Pengayaan kesadaran kebangsaan ini jangan hanya pada saat 17 Agustus atau 10 November saja. Kita perlu menjadikan pembicaraan tentang Pancasila itu menjadi sesuatu yang menarik, bukan sesuatu yang menakutkan. Bahkan, saya memiliki ide agar pembicaraan tentang Pancasila itu adalah pembicaraan yang menyenangkan seperti halnya kalau kita membicarakan sepak bola. Kita membicarakannya dengan penuh semangat dan antusias,” papar Prof. Dwia.

Menutup sambutannya, Prof. Dwia menegaskan bahwa keberagaman sebenarnya bisa digali dari berbagai sisi, misalnya dari pendekatan agama, keberagaman itu adalah sunatullah. (*)


div>