SABTU , 15 DESEMBER 2018

Balimagis Kolaborasi Desain Motif Tenun Antara Bali dan Sulsel

Reporter:

Editor:

Lukman

Senin , 13 Agustus 2018 11:25
Balimagis Kolaborasi Desain Motif Tenun Antara Bali dan Sulsel

Penjabat Gubernur (Pj) Sulsel, Soni Sumarsono,saat berkunjung di Lokasi Tenun Ikat Puteri Ayu, Blahbatu, Kabupaten Gianyar, Bali, Sabtu (11/8).

BALI, RAKYATSULSEL.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Bali menjalin kerjasama dalam pengembangan tenun dan songket, khususnya dalam menciptakan motif kolaborasi antara Sulsel dan Bali. Motif itu di amakan #Balimagis yang artinya kalaborasi antara Bali dan Bugis Makassar.

Prakarsa munculnya motif baru di bidang produksi tekstil ini diawali dengan Penandatangananan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemprov Sulsel dan Pemprov Bali tentang Pengembangan Tenun dan Songket Kolaborasi Motif Sulsel dan Bali. Acara itu, berlangsung di Lokasi Tenun Ikat Puteri Ayu, Blahbatu, Kabupaten Gianyar, Bali, Sabtu (11/8).

Dalam MoU yang ditandatangani kedua belah pihak, Pemprov Sulsel akan menyiapkan bahan baku setengah jadi dalam bentuk benang sutera, menyiapkan SDM untuk dilatih, dan menyiapkan sarana promosi dan pemasaran di Sulsel dan Bali.

Sedangkan, Pemprov Bali akan menyiapkan desain khusus yang merupakan kolaborasi antara motif khas Sulsel dan Bali, menerima dan menampung SDM untuk dilatih dalam proses penenunan (magang), hingga memasarkan produk tenun dan songket di Bali dan di luar Bali.

Untuk kerjasama tersebut, Pemprov Sulsel menunjuk Anna Mariana, House of Marsya, Spesialis Kain Tenun dan Songket Nusantara, untuk membuat dan menciptakan desain kain tenun dan songket perpaduan motif Bali dan Sulsel, yang selanjutnya diberi nama Tenun dan Songket Bali Magis (Bali – Makassar Bugis).

Selanjutnya, House of Marsya dimandatkan melalui nota kesepahaman tersebut, untuk melakukan pelatihan dan pembinaan para penenun melalui kerjasama dengan usaha pertenunan Puteri Ayu Gianyar Bali, yang merupakan mitra binaan dan partner dari House of Marsya.

Penjabat Gubernur (Pj) Sulsel, Soni Sumarsono, mengatakan Indonesia memiliki ribuan budaya yang harus tetap dijaga sebagai kekuatan pertahanan negara. Salah satu bagian dari upaya pelestarian budaya ini adalah melalui tenun dan songket.

“Melalui MoU ini, ada budaya Bali dan Sulsel yang kita ikat. Saya memberikan nama Bali Magis atau Bali Makassar Bugis,” ujar Soni.

Ia berharap, motif Bali Magis ini bisa menjadi motif tenun songket baru yang diminati masyarakat. Soni optimistis, Anna Mariana selaku Spesialis Tenun dan Songket Nusantara, mampu menciptakan desain yang laku di pasaran, sehingga bisa berpengaruh langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Pasca MoU ini, harus ditindaklanjuti dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS), untuk mengkonkritkan MoU ini. Misalnya, secara substansi, kita harus mampu meningkatkan SDM penenun Bugis Makassar melalui program magang, atau instruktur dari Bali didatangkan ke Sulsel. Kemudian juga dalam hal pemasarannya, harus secepatnya dibahas soal teknisnya,” terangnya.

Sementara, Kepala Dinas Perindustrian Bali, I Putu Astawa, mengatakan, Bali merupakan daerah yang sangat kecil, hanya 0,29 persen dari seluruh Indonesia dan tidak memiliki tambang. Bali hanya memiliki pariwisata, pertanian dalam arti luas, dan Usaha Kecil Menengah (UKM), yang mengenergi masyarakat Bali.

“Berbagai program telah dilakukan Pemprov Bali, mulai dari mengurangi beban orang miskin, dan untuk menambah pendapatannya. Selain itu, ada juga program untuk sekolah bagi warga miskin bertaraf internasional, yakni SMA/SMK Bali Mandara, yang berlokasi di Buleleng. Sekolah ini adalah boarding school yang dibiayai pemerintah, yakni Rp50 juta per orang per tahun,” jelasnya.

Khusus UKM, lanjutnya, ada anggaran khusus yang diberikan kepada setiap desa, khususnya desa yang miskin untuk peningkatan UMKM. Jumlahnya mencapai Rp 1 miliar per tahun per desa. Program inilah yang kemudian berhasil menekan angka pengangguran dan kemiskinan.

“Pengangguran di Bali terendah di Indonesia, hanya 0,86 persen. Sedangkan kemiskinan di Bali turun menjadi 4,01 persen,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Owner House of Marsya, Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, mengaku kagum dengan Sumarsono yang begitu mencintai Bali. Sebelumnya, saat menjabat Penjabat Gubernur DKI Jakarta dan Sulawesi Utara, Sumarsono juga menggagas kerjasama budaya dengan Bali.

“Saya kenal dengan Pak Sumarsono sudah cukup lama. Kami sama-sama dilantik sebagai tokoh kehormatan Betawi. Kali ini, sebagai Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan, Sumarsono menggagas kerjasama dalam hal desain tenun dan songket, yang diberi nama Bali Magis, singkatan dari Bali – Makassar Bugis,” tuturnya.

Ia berharap, motif tenun dan songket Bali Magis ini bisa menjadi motif baru yang diminati, dan bisa bermanfaat bagi kedua belah pihak.

Sekedar diketahui, penandatanganan MoU dilakukan Kepala Dinas Perindustrian Sulsel Ahmadi Akil dan Kepala Dinas Perindustrian Bali I Putu Astawa, disaksikan Penjabat Gubernur Sulsel Dr Sumarsono. (*)


div>