Sabtu, 24 Juni 2017

Ema Sofyan (Aktivis Perempuan)

BALON GUBERNUR

Rabu , 19 April 2017 10:14

Bakal calon (Balon) Gubernur Sulawesi Selatan sudah memunculkan beberapa kandidat  setahun belakangan, dengan banyak sosialisasi yang dilakukan para Balon, dengan banyaknya baliho di pinggir-pinggir jalan dan pemberitaan media cetak dan media sosial lainnya. Sosialisasi telah dilakukan oleh Balon dengan strategi masing-masing ada yang mengintenskan pemasangan tanda gambar, dan iklan lewat media cetak dengan memperkenalkan diri sebagai Balon Gubernur Sulawesi Selatan periode 2018-2023.  Adapula yang mempergunakan sosialisai dengan mempergunakan lembaga sosial dan ormas sebagai media sosialisasi.

Dari sekian nama yang telah gencar bersosialisasi, nampaknya Pilgub di Sulawesi Selatan yang akan masuk pada Pilkada serentak gelombang III yang sedianya akan digelar pada Juni 2018, akan menegerucut pada 4 nama. Adapun nama-nama bakal calon (Balon) tersebut adalah Nurdin Halid (NH), Ichsan Yasin Limpo (IYL), Nurdin Abdullah (NA) dan Agus Arifin Nu’mang (AAN). Tentu saja dari 4 kandidat Balon tersebut belum ada yang aman 100% untuk memastikan Final untuk mengendarai  Parpol tertentu. Semisal NH yang santer bakal mulus mengenadari Partai Golkar sepertinya dengan isyu yang “menimpa Ketum” DPP Golkar terkait E-KTP, maka bukan tidak mungkin akan ada perubahan terkait usungan Golkar di Pilgub Sulawesi Selatan. Sehingga kepastian Parpol mengusung siapa bakal terjawab pada saat tahapan pendaftaran Pilgub telah berjalan. Dan berita terakhir yang viral dimedia cetak adalah hijranya AAN ke Gerindara.

Nampaknya alternative Balon seperti IYL dan NA adalah independen menjadi pilihan tepat jika saja ada Balon yang akan memboyong kursi untuk menutup rivalitas atau dengan kata lain calon ingin menjadi tunggal.

Syarat jumlah kursi untuk dapat mengusung Balon di Pigub Sulawesi Selatan adalah 17 kursi, sebagaimana ketentuan UU Pilkada yang mensyaratkan 20% dari Jumlah kursi di DPRD atau 20% dari 85 anggota DPRD yang setara dengan 17 kursi, atau 25% dari akumulasi perolehan suara sah dalam Pemilu Legislatif dan hanya Partai Golkar yang memenuhi syarat mengusung tanpa berkoalisi. Maka dengan kalkulasi tersebut disertai dengan gencarnya lobi-lobi yang dilakukan Balon terhadap partai pengusung maka beralasan jika prediksi 4 calon adalah wajar.

Tentu saja pilihan antara mengendarai Parpol atau lewat independen ada plus minusnya. Disamping kendaraan yang menjadi paktor penting, juga adalah penentu pendamping Balon, dalam hal ini adalah wakil gubernur. Dan yang sejak awal menetukan paketnya hanya NA. Balon yang menggunakan jalur independen untuk Pilkada Sulawesi Selatan membutuhkan dukungan 7,5% dari jumlah penduduk yang termuat dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), sebab kisaran DPT Sulawesi Selatan berada pada kisaran 6-12 Juta jiwa sebagai yang diatur dalam UU No. 10 Tahun 2016 tentang Pilkada.

Tentu saja NA sudah punya pertimbangan yang matang sehingga sejak awal telah mendeklarasikan Balon Wakilnya. Bisa jadi faktor geo politik menjadi salah satu pertimbangannya.

Parpol pengusung tentu saja punya kalkulasi dan mekanisme tersendiri untuk dapat mengajukan Paslon. Jika Parpol tidak mengusung kadernya sebagai 01, kemungkinan akan diajukan sebagai 02 atau Balon Wakil. Dan itu pulah yang nantinya akan menentukan kepastian dari 4 nama yang punya kans untuk menjadi calon.

Sebelum pendaftaran dibuka oleh KPU, maka tidak ada jaminan 4 orang tersebut sebagai Calon, bisa saja 10 Bulan terakhir akan menentukan siapa figure sesungguhnya yang akan bertarung pada 2018. Sebab nama-nama seperti Rusdi Masse, Abdul Riva Ras, Burhanuddin Andi, Akbar Faisal dan nama lainnya seperti ketua Partai pada tingkat Provinsi juga masih punya kans sebagai kandidat Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur.

Berita Terkait