RABU , 17 OKTOBER 2018

Bamsoet Nilai Pasangan Ideal adalah Jokowi-Prabowo

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Senin , 26 Februari 2018 15:30
Bamsoet Nilai Pasangan Ideal adalah Jokowi-Prabowo

Presiden Joko Widodo berkunjung ke Hambalang. (Dok. JawaPos.com)

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto kemungkinan besar akan kembali bersaing di pemilihan presiden (pilpres) 2019 mendatang.

Hal ini menyusul Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang telah mengusung Jokowi di 2019 mendatang. Saat ini para kader Partai Gerakan Indonesia Raya (‎Gerindra) pun terus mendorong Prabowo untuk bisa ikut serta di pilpres.

Wakil Koordinator Bidang Pratama Partai Golkar, Bambang Soesatyo mengatakan, yang dinilai sebagai pasangan ideal saat ini memang Jokowi dan Jusuf Kalla (JK). Namun jika JK tidak bisa lagi maju sebagai cawapres, maka dia berharap Prabowo Subianto bisa menggantikan.

Sebagaimana diketahui JK sudah dua kali menjadi wakil presiden. Sesuai ketentuan perundang-undangan, JK tidak bisa lagi mencalonkan diri sebagai cawapres.

“Kalau Pak JK tidak boleh maka yang ideal adalah pasangan Jokowi dan Prabowo,” ujar pria yang akrab disapa Bamsoet di Gedung DPR, Jakarta, Senin (26/2).

Bamsoet punya alasan tersendiri mendukung Prabowo sebagai cawapres Jokowi. Menurutnya, jika keduanya berpasangan, maka potensi perpecahan di masyarakat akan bisa diredam.

Harapannya, tidak terulang kembali luka Pilpres 2014 silam. “Jadi supaya tanpa ada pertarungan sengit yang berpotensi menimbulkan luka terhadap kelompok bangsa-bangsa,” kata Bamsoet.

Lebih lanjut dia mengatakan, butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka akibat Pilpres 2014. Di parlemen sendiri, butuh waktu hingga dua tahun lamanya ‘mendamaikan’ Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP).

“Akhirnya kinerja pemerintahan satu tahun kemarin paska pilpres kan agak stuck, tidak langsung bisa berlari karena parleman ada perpecahan,” imbuh Bamsoet.

Oleh sebab itu, dia berharap kejadian di Pilpres 2014 tidak terulang lagi di Pilpres 2019 mendatang, sehingga potensi perpecahan bisa ditekan jika Prabowo menjadi pendamping Jokowi.

“Saya pikir dibutuhkan kesadaran bagi anak bangsa mendahulukan kepentingan rakyat dan mendorong pasangan yang minim potensi perpecahan,” pungkasnya.

(ce1/gwn/JPC)


div>