SELASA , 18 SEPTEMBER 2018

Bandar Besar Narkoba Kijang Diringkus di Perbatasan Indonesia – Malaysia

Reporter:

Ramlan

Editor:

Lukman

Kamis , 24 Mei 2018 23:55
Bandar Besar Narkoba Kijang Diringkus di Perbatasan Indonesia – Malaysia

Polda Sulsel saat menggelar konfrensi pers terkait penangkapan DPO bandar narkoba Kijang.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Direktorat Reserse Narkoba (Dit Resnarkoba) Polda Sulsel berhasil meringkus seorang buronan bandar besar narkoba sejak tahun 2016.

Kasubdit I Ditres Narkoba Polda Sulsel AKBP Ucuk Supriadi mengungkapkan, Syamsul Rizal alias Kijang (32) diamankan saat berada di perbatasan Indonesia dan Malaysia.

“Pada saat itu, kami duluan di TKP menunggu pelaku. Saat Kijang datang, langsung dilakukan penangkapan. Tak perlawanan karena mungkin dia sadar tidak bisa berbuat bayak dengan kondisinya,” terangnya, Kamis (24/5).

AKBP Ucuk menyebutkan sejauh ini, bandar besar sabu DPO Polres Pinrang ini hanya menggunakan tangan kanan palsu. Dan selama manjadi burunon, Kijang tidak pernah tertangkap dan baru kali ini berhasil ditangkap.

“Sudah berulang kali kita dapatkan informasi tapi baru kali ini berhasil ditangkap,” ungkapnya.

Selama dua tahun terakhir tercatat dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) bandar besar narkoba Syamsul Risal alias Kijang ini akhrinya ditangkap di Pulau Nyamuk, Desa Bambanga, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Minggu (20/5) lalu.

Kijang diketahui adalah seorang Bandar Besar yang mengendalikan jaringan peredaran Narkoba lintas negara.

Ia menjadi DPO sejak 2016 lalu. Bermula pada Kamis (7/4/2016) sekitar pukul 19.30 Wita, ditemukan Narkotika jenis Sabu seberat 3,4 Kilogram (Kg) di kediaman Tersangka SD di Desa Leppangan, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang.

Setelah tertangkap, SD mengaku memperoleh barang haram itu dari Tersangka EW dan rekannya AR, sementara EW dan AR mengaku memperoleh sabu tersebut dari Tersangka EC.

Hingga saat ini keempat tersangka SD, EW, AR, dan EC saat ini tengah menjalani Vonis Hukuman di Rutan Kelas 2 B Pinrang. Bahkan peredaran di dalam Lapas ataupun Rutan masih terus berlanjut hingga saat ini.

Direktur Reserse Narkoba Polda Sulsel, Kombes Pol Hermawan mengatakan peredaran Narkoba di dalam Lapas masih marak terjadi.

“Pengendalian Lapas, Dirjen Lapas dan Polri sudah ada kerjasama, hanya saja kondisi Lapas yang memang sulit terpantau dengan maksimal,” katanya

Menurutnya, upaya yang dilakukan sebagai langkah mengantisiapasi peredaran Narkoba di dalam Lapas, pihaknya telah berkerjasa oleh pihak Kemenkumhan. Hanya saja dalam penjagaan tersebut belum begitu maksimal.

“Memang antara Polri dan Lapas sudah ada kerjasama, Polri, Dirjen Lapas dan Kemenkumham. Namun kondisi lapas memang sulit terpantau secara maksimal, Sebab yang jaga cuma 5 sedangkan yang di jaga ada 100 otomatis dengan kondisi seperti itu tidak bisa maksimal. Namub dengan adanya kasus-kasus begini semoga bisa teratasi dengan adanya kerja sama ini,” jelasnya

Sementara, tersangka Kijang saat ini masih akan menjalani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Polda Sulsel untuk mengetahui sejauh mana sepak terjang dan heroiknya sang Bandar Besar Narkoba asal Kabupaten Pinrang ini.

“Karena baru tertangkap kita baru akan BAP, nanti kita tanyakan sejauh apa sepak terjang si Kijang ini,”pungkasnya

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani menceritakan pada tahun 2017 lalu, di rumah tersangka berinisial SD oknum anggota Polri dari Polres Pinrang, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, ditemukan sabu seberat 3,4 kg.

Dari hasil keterangan SD, dirinya memperoleh sabu tersebut dari rekannya berinisial EW dan AR. Kemudian kedua mengaku memperoleh sabu itu dari EC yang sebagai anggota Polri bertugas di Polres Mamasa.

“Dari keterangan keempat pelaku yang sementara menjalani hukuman di Rutan Kelas 2 B Pinrang mengatakan barang haram itu dari Kijang,” terangnya.

Barang bukti yang telah diamankan yakni tiga bungkus plastik besar berisi sabu masing-masing seberat 1 kg, delapan bungkus berisi sabu berat 50 gram.

“Dengan jumlah keseluruhan adalah 3,4 kg yang telah dimusnahkan di Polres Pinrang,” sambungnya.

Akibat perbuatannya pelaku akan dikenakan pasal 112 ayat (2) dan 114 ayat (2) dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati. (*)


div>