SELASA , 25 SEPTEMBER 2018

Bandara Sultan Hasanuddin Beroperasi Non Stop

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 14 Maret 2013 11:20
Bandara Sultan Hasanuddin Beroperasi Non Stop

ist / Bandara Internasional Sultan Hasanuddin

RAKYATSULSEL.COM, JAKARTA – Kementerian Perhubungan menyatakan telah mengalokasikan miliaran rupiah untuk sistem pelayanan terpadu satu pintu atau National Single Window (NSW). Selain Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, ada empat bandara utama lainnya di Indonesia yang akan menerapkan NSW, yakni Bandara Kuala Namu (Medan), Bandara Ngurah Rai (Denpasar), Bandara Juanda (Surabaya), serta Bandara Internasional Sultan Hasanuddin (Makassar).

“Untuk kali ini, Rp 7 miliar, dari DIPA  Kementerian Perhubungan. Setelah Jakarta kami akan mengembangkan ke bandara lain, karena di sini baru pertama kali dan kita buka yang terbesar di (bandara) Soekarno-Hatta,” ujar EE Mangindaan, Menteri Perhubungan, dalam rilisnya, Rabu (13/3).

Ia menyebut ada dua manfaat NSW. Pertama, adanya pengumpulan informasi mengenai pengiriman barang secara terintegrasi. Kedua, terjadi sinergi proses ekspor dan impor, mulai dari keluar-masuknya barang dari dan ke pesawat hingga pendistribusian kepada publik.

“NSW ini melibatkan lintas instansi. Ada 15 instansi yang sistemnya harus diseragamkan,” ujar mantan Gubernur Sulut ini.

Ia berharap penerapan NSW dapat mempercepat proses ekspor dan impor. Ia menuturkan, Bandara Soekarno-Hatta menjadi bandara pertama di ASEAN yang menerapkan NSW. Setelah itu disusul empat bandara lainnya.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan, menyatakan, NSW menjadi sinergi antara penyedia jasa kargo serta bandara untuk menyediakan informasi secara terpadu.

“Selain itu, juga memastikan bahwa barang yang beredar itu aman untuk masyarakat,” kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Agung Kuswandono.

Agung mengatakan, yang menjadi tantangan dalam NSW adalah memberi pemahaman kepada para pemangku kepentingan mengenai pentingnya sistem airportnet tersebut. Ia menuturkan, yang harus dipikirkan adalah langkah untuk menggabungkan lembaga pemerintahan (government agency) serta penyedia jasa kargo dalam airportnet di semua bandara internasional di Indonesia.

Dengan penerapan NSW, kata dia, penanganan kargo diharapkan bisa berlangsung singkat. Sistem tersebut mutlak harus diikuti pengguna jasa kargo untuk menjalankan bisnis di bandara. Ia pun menyebut impor surat kabar sebagai contoh proses yang memerlukan waktu cepat.

“Misalnya, media mengimpor koran dari luar negeri. Itu butuh pelayanan segera,” ujarnya. (fmc/dul)


Tag
div>