RABU , 14 NOVEMBER 2018

Bangkit dari Rasa Capek

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 03 Agustus 2017 10:23
Bangkit dari Rasa Capek

int

EMPAT hari di Pulau Dewata, Bali, menyempatkan bermain di Pantai Kuta. Lalu kami terbang ke Jakarta, Rabu, 26 Juli 2017, kemarin, bersama rekan Komisi III DPRD Maros

Dua hari di Ibukota DKI. Sejenak saya napaktilas saat di Jalan Diponegoro, gedung YLBHI masih berdiri. Terlintas kekerasan politik yang pernah terjadi di Ibukota RI ini. Saya menghentikan mengingat peristiwa kejam itu.

Aiiiii.. Puluhan Tahun yang lalu, ketika saya bermain di atas pasir putih pantai Kuta bersama kawan-kawan aktifis AMPD, jujur saja, saya tak bisa menikmati keindahan payudara para bule. Pikiran tertuju pada agenda: menggalang kekuatan agar serentak bergerak menumbangkan rezim Pak Harto yang menamakan dirinya Orde Baru.

Hingga kami ke Semarang dengan naik Bus — dan berseteru pencopet di jalan — kami membawa semangat revolusi. Kami kabarkan kepada aktifis di Jawa, kalian harus melawan rezim anti demokrasi. Zaman telah menuntun kita memenangkan demokrasi, melawan Presiden Soeharto dan menumbangkan rezimnya.

Mereka punya tentara dengan bayonet, kita punya Pena dan akal sehat. Jika ditimbang, kekuatan pena yang digerakkan bersama akal sehat, sekuat apapun Rezim Soeharto, pasti tumbang jika diperhadapkan dengan akal sehat.

Saya tak hendak berpikir masa lalu. Tiba-tiba saja rasa capek menyelimuti usai melakukan perjalanan dinas; Kunker ke Bali lalu lanjut ke Ibu kota.

Cerita tentang Bali, Semarang, Jogya dan Jakarta hanya sebuah kisah romantik dalam hidup saya. Kisah perjuangan reformasi dan kisah percintaan mahasiswa awut-awutan yang tak pandai mengurus diri.

Suatu malam di Kota Jogya, di alun-alun, saya duduk bersama kekasih ditemani Rahman Pina (sekarang dia Anggota DPRD Kota Makassar). Saya membayangkan kehidupan Sultan di dalam Istana itu. Sejak zaman Belanda hingga zaman pentungan tentara Orba berkuasa, Sultan selalu nyaman di dalam Istananya.

Di pikiran saya, andaikan Sultan HB itu mau keluar dari istananya dan turut dalam barisan demo mahasiswa menuntut Turunkan Presiden waktu itu, tentu agenda reformasi bisa lebih cepat. Ah…. pikiran saya masih nakal saja.

Jihaat. Pikiran berat itu saya buang. Saya kembali fokus pada agenda: bersama kekasih malam itu: berjalan sambil menutup mata dengan kain hitam, melintasi sela dua pohon di alun-alun Keraton. Saya genggam tangannya dan menyampaikan hajat, bahwa kita berjuang untuk bersama, menjadi pasangan serasi di alam demokrasi tanpa campur tangan antek-antek Orde Baru.

Dan kami gagal melalui sela-sela dua pohon beringin itu. Rahman Pina mentertawai saya yang gagal. “Kalian tidak sejodoh!”

Saya menepis mitos leluhur itu : bahwa barang siapa yang mampu melalui sela dua pohon di alun-alun keraton itu, maka dia bisa lancar berjodoh. “Jodoh diatur sama Tuhan, bukan sama mitos nenek moyang,” kata saya pada kekasihku, yang juga aktifis yang tak menyukai Presiden Soeharto.

Biarlah kekasih ini tak saya sebut namanya. Biarlah dia terlupakan oleh sejarah, sebagaimana kami berusaha melupakan masa lalu yang kumuh dan awut-awutan.

Capek. Tubuh saya yang lebih berbobot dibanding puluhan tahun yang lalu, kini terasa mudah capek. Mungkin terlalu manja dengan fasilitas. Tidur di hotel berbintang, dilayani dan disajikan makan yang enak-enak. Berseteru mengejar posisi empuk dan meraup uang yang banyak. Saya berdiri di depan cermin: melihat wajah saya yang berkacamata. Pakaian dari kain wall dengan ukuran yang pas di badan.

Saya meneropong isi kepala sendiri. Mencari serpihan pikiran yang pernah ada, mencari semangat dan kepercayaan diri yang kuat. Masih tersisah sedikit. Biarlah yang sedikit ini menjadi moral forces bagi saya bangkit.

Lalu pagi tadi saya beranjak meninggalkan wilayah Pecenongan. Memutar di Jalan Juanda bersama dua orang staf DPRD Maros, Alam Pasadjuri dan Ahmar –kami melalui kediaman Presiden Jokowi– menuju Bandara, Cengkareng.

Sejenak saya melirik ke Istana. Suasana di Istana masih sepi. Di sanalah Pak Jokowi memikirkan akan di bawah ke mana bangsa ini.

Saya enggan menulis banyak soal kekuasaan dan politik. Saya masih terganggu dengan pikiran masa lalu. Masih banyak agenda yang belum terlaksana. Demokrasi sudah jalan, tapi masih tertatih-tatih.

Tiba di Maros, badan saya sangat letih. Saya tertidur dan bermimpi. Terbangun lalu menulis status ini sebagai bahagian dari mimpi saya: I Love Indonesiaku!. (*)


div>