MINGGU , 21 OKTOBER 2018

Banjir, Puluhan Rumah Terendam di Daerah Ini

Reporter:

Editor:

hur

Jumat , 15 April 2016 15:35
Banjir, Puluhan Rumah Terendam di Daerah Ini

int

ENREKANG, RAKYATSULSEL.COM – Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Kabupaten Enrekang, Kamis (14/4) malam, membuat air sungai Saddang dan Sungai Mata Allo meluap. Akibatnya, puluhan rumah di kelurahan Juppandang Kecamatan Enrekang terendam banjir.

Banjir mulai merendam sejumlah wilayah di dalam kota Enrekang, Jum’at (15/4) dini hari, yaitu di wilayah kelurahan Juppandang. Ketinggian air bervariasi, mulai dari 30 cm hingga 1 meter. Sebanyak 13 rumah warga terendam air. Selain itu, ada sekitar 100 hektare kebun ikut terendam.

“Air mulai naik dan merendam sebagian rumah pada saat warga sedang menunaikan shalat subuh. Jadi kejadiannya diperkirakan sekitar pukul 5 lewat,” kata Camat Enrekang, Arlansyah.

Personil BPBD Kabupaten Enrekang setelah memperoleh laporan, langsung turun ke lokasi. Dipimpin langsung Kepala Bidang Kedaruratan dan Losgitik, Sutrisno, personil BPBD tersebut membantu warga mengevakuasi barang-barang yang ada di dalam rumah.

“Beberapa personil BPBD ikut membantu mengangkat barang-barang milik warga yang sudah mulai terendam. Sementara, personil lain melakukan pemantauan di sepanjang sungai Mata Allo dan sungai Saddang,” kata Sutrisno.

Pada hari itu juga, BPBD Kabupaten Enrekang memberikan bantuan logistik berupa bahan makanan dan pakaian.

Kelurahan Juppandang memang sangat rawan bencana banjir karena wilayahnya berada persis diantara pertemuan sungai Saddang dan Sungai Mata Allo. Bahkan, pada tahun 80-an, wilayah ini dan sebagian besar kota Enrekang terkena banjir besar dengan ketinggian air mencapai dua meter.

Banjir di Tanete
Sehari sebelumnya, banjir terlebih dahulu merendam rumah dan kebun warga di Kelurahan Tanete Kecamatan Anggeraja. “Ada tiga rumah dan sekitar 150 hektare kebun bawang milik warga yang terendam yang mengakibatkan gagal panen,” lanjut Sutrisno. Menurut Sutrisno, di Tanete bukan saja banjir tapi bencana tanah longsor juga terjadi akibat deras hujan yang mengguyur wilayah tersebut.

Salah seorang korban, Tahir menjelaskan, banjir berasal dari air sungai Banaka yang meluap. “Diperkirakan air meluap sekitar pukul 17.30 Wita dan. Air tersebut sudah bercampur dengan lumpur,” jelas Tahir.

Penangananpun langsung dilakukan BPBD Kabupaten Enrekang. Sekitar 10 orang personil TRC diturunkan untuk membersihkan lokasi.

Saat ini, warga yang ada di Tanete maupun di kota Enrekang merasa cemas, karena jika kembali turun hujan maka banjir susulan akan kembali terjadi.


div>