SELASA , 22 MEI 2018

Banteng Bidik Bupati Bantaeng

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 30 Mei 2017 11:53
Banteng Bidik Bupati Bantaeng

int

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sulsel resmi membuka pendaftaran bakal calon Gubernur Sulsel 2018 Jumat (26/5) lalu.

Dalam penjaringan tersebut, ada dua model yang dilakukan partai yang dikendalikan Megawati Soekarnoputri itu. Pertama adalah sistem jemput bola dengan cara mengantarkan langsung formulir pendaftaran ke kandidat, serta menerima kandidat atau perwakilannya di sekretariat partai.

Sejauh ini, sudah ada sejumlah kandidat yang mengambil formulir. Diantaranya Nurdin Abdullah (NA), Burhanuddin Andi, serta Abdul Rivai Ras. Khusus untuk NA, para pentolan partai berlambang kepala banteng tersebut mendatangi rumah kediaman pribadi miliki Bupati Bantaeng itu di Makassar.

Perlakuan berbeda ini juga disebut-sebut isyarat dari PDIP jika pilihannya tak akan jauh dari NA. Apalagi beredar kabar kalau Bupati Bantaeng itu sudah berulangkali bertemu khusus dengan si empunya partai, Megawati dan Sekjen DPP PDIP Hasto.

Lalu, benar kah pendaftaran PDIP ini hanya formalitas belaka demi menonjolkan ke publik jika partai ini masih terbuka?.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDIP Sulsel, Iqbal Arifin mengaku hingga saat ini belum ada usungan resmi dari PDIP. Namun, secara komunikasi PDIP sudah melakukan komunikasi dengan figur yang memikiki elektabilitas tinggi.

“Ini baru tahap penjajakan mengantarkan formulir. Tapi untuk kandidat pasti kami (PDIP) belum pastikan siapa diusung,” ujarnya, Senin (29/5).

[NEXT-RASUL]

Iqbal Arifin menuturkan, jika DPD PDIP bakal tetap mempertimbangkan kandidat yang telah mendaftar. Selain pendaftaran terbuka, Iqbal mengungkapkan, partainya juga menggunakan pola penjajakan khusus atau jemput bola. Dimana pengurus PDIP mendatangi tokoh yang dianggap cukup layak untuk didorong sebagai calon gubernur sebagai usungan.

Ia mengaku sengaja mengantarkan langsung formulir ke Nurdin Abdullah karena dianggap punya peluang atau elektabilitas tinggi. “Jemput bola ini khusus untuk figur yang punya elektabilitas tinggi,” jelasnya.

Ketika ditanya perihal kader internal PDIP yang di dorong maju bertarung, ia menyatakan hanya membidik 02, bukan, 01. “Khusus Pilkada serentak 2018, kami prioritaskan mendorong kader internal untuk 02, sekitar 8 daerah kita akan menangkan,” tegasnya.

Sekretaris DPD PDIP Sulsel, Rudi Pieter Goni mengatakan, bahwa alasan PDIP Sulsel mendatangi Nurdin Abdullah dengan pertimbangan bahwa Nurdin Abdullah sebagai kandidat yang memiliki kans untuk meraih elektabilitas tertinggi di Pilgub Sulsel.

“Kita tahu Pak NA adalah figur yang tidak kita ragukan lagi, alumni perguruan tinggi luar negeri dan seorang guru besar serta bupati dua periode. Itu menjadi alasan kuat kami untuk mendatangi beliau dan Alhamdulillah beliau menerima kita dengan terbuka dan berkomitmen mengembalikan formulir ke PDIP,” singkat legislator Sulsel ini.

Nurdin Abdullah sendiri merasa terharu dan menganggap langkah politik yang dilakukan DPD PDIP Sulsel untuk mendatangi kandidat membawakan formulir pendaftaran adalah sebuah kemajuan demokrasi. “Suatu kebanggan bagi saya dan keluarga, saya sangat apresiasi dengan mekanisme seperti ini,” tuturnya.

[NEXT-RASUL]

Menurut Bupati Bantaeng dua periode tersebut, pola jemput bola PDIP merupakan sesuatu hal yang tak lazim dan luar biasa di dunia politik. Oleh sebab itu ia pun berharap dukungan dan kerjasama oleh PDIP untuk kemenangan di Pilgub Sulsel.

“Menurut saya ini tidak lazim dan sesuatu yang luar biasa. Saya mengapresiasi PDIP sebagai partai pemerintah yang memulai proses seperti ini,” jelasnya.

Bahkan NA mengklaim memiliki tingkat elektabilitas dan popularitas tertinggi dibanding figur lain yang ingin bertarung pada Pilgub Sulsel 2018 mendatang.

NA mengaku, berdasarkan survei yang dirilis salah satu lembaga di Jakarta pada 3 Mei lalu, tingkat elektabitasnya tumbuh sebesar 3 persen. “Popularitas kita naik signifikan. Kemarin di posisi 25,9 persen. Sementara bakal calon diurutan kedua hanya 13 persen,” ungkapnya.

Juru Bicara Bro Rivai, Achmad Shabir mengatakan, jemput bola yang dilakukan oleh PDIP bukan hanya ke NA. Dimana, PDIP juga sebelumnya telah mengkomunikasikan hal tersebut untuk dilakukan ke Bro Rivai. Namun, kata Abe–sapaan akrab Achmad Shabir, Bro Rivai menolak metode jemput bola yang dilakukan PDIP, hal itu didasarkan pada prinsip Bro Rivai, yang butuh yang mendatangi. Sehingga, Bro Rivai mendatangi langsung kanto PDIP Sulsel.

“Yang kami tahu, bukan cuma NA yang didatangi langsung oleh PDIP. Bro Rivai juga didatangi langsung PDIP. Hanya saja, Bro Rivai merasa tidak nyaman sebagai orang timur, justru orang yang dibutuhkan yang mendatangi orang yang butuh. Olehnya sebagai orang yang butuh, dengan kerendahan hati dan tidak mengurangi rasa hormat kepada PDIP, Bro Rivai pada waktu itu meminta jika dibolehkan mendaftar langsung ke kantor PDIP,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Abe menegaskan, bahwa PDIP juga pernah menyampaikan bahwa tidak ada satupun bakal calon gubernur yang dinomorsatukan oleh PDIP. Hal itu, kata Abe, disampaikan oleh Ketua Bappilu PDIP beberapa waktu lalu.

“Adapun spekulasi bahwa PDIP ke NA, sudah pernah dijelaskan oleh Ketua Bapilu PDIP, Iqbal Arifin bahwa klaim-klaim seperti itu adalah bagian dari dinamika politik dan Iqbal kala itu memastikan bahwa PDIP belum condong ke kandidat manapun,” jelasnya.

Sementara Konsultan Politik Jaringan Suara Indonesia (JSI) Nursandy menyebutkan, bahwa memang PDIP mengadopsi dua metode penjaringan bakal calon gubernur. Dan memang hal itu merupakan salah satu strategi PDIP di Pilgub Sulsel nanti.

“Kita ketahui bersama ada dua pola yang ditawarkan PDIP Sulsel kepada siapapun figur yang ingin mendaftar di partai tersebut. Pertama, kandidat atau perwakilan datang sendiri mengambil formulir. Kedua, Pihak PDIP Sulsel mendatangi langsung kandidat yang ingin mendaftar,” ungkapnya.

Nursandy menjelaskan, adanya perbedaan pola pendaftaran PDIP antara NA dan bakal calon lainnya hanya persoalan kesiapan. Dimana, kata dia, perbedaan metode pendafataran tidak bisa dijadikan tolak ukur arah dukungan nantinya.

“Saya kira apa yang kita saksikan wajar saja situasi dan pola yang dijalankan PDIP tidak seragam. Bisa jadi pola yang dijalankan PDIP berbeda-beda karena tergantung permintaan dan kesediaan masing-masing kandidat,” jelas Nursandy.

[NEXT-RASUL]

Bahkan, kata Nursandy, hingga saat ini PDIP belum memperlihatkan sinyal kuat ke bakal calon yang akan di usung. Hanya saja, PDIP nampak fokus menjalankan mekanisme pendafataran yang ada saat ini.

“Saya belum melihat sinyal kuat dukungan PDIP pada kandidat tertentu. Sejauh ini masih sebatas menjalankan mekanisme semata yang berlaku di internal partai tersebut,” terangnya.

“Tetapi kalau melihat bangunan komunikasi dan manuver yang dilakukan oleh masing-masing kandidat terhadap partai tersebut maka arah dukungannya tidak akan jauh dari Agus Arifin Numang, IYL, Burhanuddin Andi, NA,” lanjutnya.

Sementara itu, Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto menuturkan, mekanisme yang dilakukan PDIP dengan membawakan formulir pendaftaran ke NA bisa dikategorikan sebagai sinyal arah dukungan. Namun, melihat mekanisme PDIP yang menggunakan dua metode pendaftaran itu menandakan hanya sebatas mengikuti mekanisme yang ada.

“Model Invitasi atau undangan berkompetisi yang di lakukan PDIP memang menjadi hal yang baru. Bisa saja hal ini menjadi signal dukungan bagi NA, tapi bisa juga karena proses ini belum selesai,” ungkapnya.

Dilain hal, kata Luhur, NA yang merupakan Bupati Bantaeng tentunya memiliki popularitas yang cukup baik. Sehingga, bukan menjadi hal yang tabu apabila PDIP sedikit mengarahkan pandangannya kesana (NA).

Namun, melihat kondisi perpolitikan jelang Pilgub yang kurang lebih satu tahun lagi, Luhur menegaskan semua kemungkinan masih dapat terjadi, atau dalam artian masih sangat dinamis. “Prototipe NA mungkin sesuai dengan profil usungan PDIP. Tapi pengalaman di Pilkada sebelumnya, selalu juga tersedia short-cut untuk merebut rekomendasi di DPP PDIP,” terangnya. (E)


div>