SENIN , 16 JULI 2018

Barisan Sakit Hati Angkat Kaki

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Senin , 25 Januari 2016 12:01
Barisan Sakit Hati Angkat Kaki

int

PENULIS: ASHAR – SOPHIAN
EDITOR: LUKMAN

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – DPW NasDem Sulsel akhirnya mengumumkan nama-nama pengurusnya yang baru dibawah kendali Luthfi A Mutty. Sejumlah nama pengurus yang sebelumnya menjabat posisi strategis di tubuh partai besutan Surya Paloh ini pun bergeser.

Diantaranya Sekretaris DPW NasDem Sulsel yang sebelumnya dijabat Arum Spink digantikan Syahruddin Alrif. Arum Spink sendiri ditempatkan sebagai anggota Dewan Pertimbangan DPW NasDem Sulsel. Selain itu juga ada nama Wahyudi Muchsin yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris DPD NasDem Makassar, menempati posisi di wilayah sebagai wakil sekretaris. Untuk jabatan Bendahara, Fajar Misbah Pratama Harun digantikan Andi Imran Mappasonda.

Namun reposisi pengurus ini ternyata memakan korban. Adalah Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPW NasDem Sulsel Syamsu Bachri Sirajuddin yang memutuskan mengundurkan diri dari partai berlambang rotasi biru berbalut warna jingga itu.

Daeng Ancu–sapaan karib Syamsu Bachri Sirajuddin ini menyatakan mengundurkan diri dari kepengurusan saat pengumuman reposisi. Dirinya mengatakan bahwa surat pengunduran dirinya sebagai pengurus DPW NasDem Sulsel akan disampaikannya secara langsung kepada Ketua Umum DPP Surya Paloh. “Besok (hari ini) saya akan antar langsung surat pengunduran diri sebagai pengurus, ke pak Surya Paloh,” ujarnya, Minggu (24/1).

Daeng Ancu mengatakan bahwa pengunduran dirinya sebagai Ketua Bappilu telah dipertimbangkannya secara matang. Ia mengatakan bahwa pengunduran dirinya tersebut, dikarenakan adanya sejumlah kebijakan strategis partai yang selama ini dijalankan oleh Luthfi A Mutty dinilainya tidak sejalan dengan semangat restoratif NasDem. “Salah satunya tidak adanya ruang komunikasi yang dibuka mengenai kebijakan reposisi ini,” tegasnya.

Daeng Ancu benar-benar tak bisa menyembunyikan kekecewaannya dengan adanya reposisi kepengurusan baru yang dilakukan oleh DPP NasDem itu.

“Partai ini tidak bisa seenaknya memenuhi keinginan DPP, terus apa gunanya DPW.  Masa kita tidak bisa musyawarah. Saya selalu pegang prinsip-prinsip lokal yang ada. Di Bugis-Makassar ada namanya tudang sipulung, rakyat bisa protes kepada rajanya, itulah yang saya mau. Bagi saya tidak ada persoalan untuk menjadi menjabat apa saja, saya hanya inginkan membantu keder untuk menjadi sukses,” kata dia.

[NEXT-RASUL]
Menurut Daeng Ancu, DPW NasDem sudah memberika contoh yang buruk kepada kader-kadernya karena tidak adanya musyawarah dengan reposisi pengurus yang sudah dilakukan.

“Sekarang mereka tidak memberikan contoh yang sangat bagus, kalau seperti ini kita mau bikin apa di Sulawesi Selatan, niat saya mau jadikan Sulsel bagus. Pak Luthfi bilang tidak mengenal musyawarah. Mau jadi apa kita, dasar negara kita musyawarah mufakat, semua teman-teman dipindahkan semua seperti, Arum Spink diberi amanah sebagai dewan pertimbangan, Abbas dewan pakar, pak Muin pun sebagai mantan wakil ketua tidak di kasih tempat, ini contoh berpolitik yang kurang bagus,” ungkapnya.

Pada konfrensi pers kemarin, Daeng Ancu sempat memperdengarkan rekaman hasil rapat internal DPW NasDem Sulsel ke awak media. Dalam rekaman tersebut, Daeng Ancu mengaku sangat kaget dengan sikap Surya Paloh yang mengabaikan jalur musyawarah.

“Teman-teman sebagai orang yang masuk dalam jajaran deklator sejak dari ormas menjadi partai saya ikut. Saya mencoba untuk menyatakan sesuatu khusus kepada pak Luthfi dan teman-teman kalau kita bicara aturan organisasi rasa-rasanya kaget juga kalau tokoh seperti pak Surya Paloh menyatakan tidak ada urusan musyawarah.Saya pikir bangsa apa kita ini kalau ada orang seperti pak Surya Paloh yang mengaku tidak ada urusan musyawarah,” kata Daeng Ancu dalam rekaman.

“Saya memang terus terang agak kecewa dengan reposisi ini karena tidak pernah kita bicarakan, sementara ada DPW saya tidak tahu kalau yang dimaksud itu sentralisasi adalah kebijakan penuh bahwa kemudian keputusan de jure itu adalah kewenangan DPP itu iya, tapi Fakta De factonya adala pertimbangan, DPP harus mempunyai pertimbangan kalian diberikan mandat oleh pak Surya Paloh untuk menyusun struktur, kita duduk sama-sama. Kita menyusun fraksi, kita juga duduk sama-sama. Kita undang ketua fraksi dan komisi,” tambahnya.

Sementara Ketua DPW Partai NasDem, Lutfi A Mutty mengatakan bahwa pengunduran diri Daeng Anchu sebagai pengurus NasDem merupakan hak politik yang mesti diapresiasi. “Kami menghargai hak politik seseorang. Secara lisan tadi, Syamsul Bachri Sirajuddin sudah menyatakan mundur dan akan mengirim secara resmi suratnya ke DPP Partai NasDem,” ucap legislator DPR RI asal Sulsel ini.

Luthfi pun mengaku segera mencari figur lain yang dinilai memiliki kualifikasi untuk menjabat sebagai ketua Bappilu. ” Kita akan cari kader yang akan mengisi posisinya,” terangnya.

[NEXT-RASUL]
Terkait reposisi, Luthfi mengaku jika semua nama-nama pengurus baru tertuang dalam Surat Keputusan DPP NasDem Nomor 002-SK/DPP-NasDem/1/2016 tanggal 20 Januari 2016.

“Saya ingin mengatakan partai ini dari AD/ART nya didesign secara sentralistik, karena kita tidak mau melalui musyawarah ada faksi atau kubu yang muncul. Kalau anda tanyakan kepada saya, didesign sentralistik, tanyakan pada DPP,” ujarnya.

Menurut Luthfi, DPW dan DPD tidak punya hak menentukan kebijakan. Pihaknya kata dia hanya sebagai pelaksana dari rapat harian dan kerap melakukan rapat internal.

“Saya pun setiap saat siap untuk di reposisi, kalau DPP menilai kalau tidak bekerja dengan tulus dan tidak memiliki tanggung jawab, saya siap. Dan saya berharap teman-teman juga seperti itu,” jelasnya.

Luthfi menambahkan, DPW NasDem tidak pernah melarang orang meninggal partai, sebaliknya juga begitu. Selama orang yang mau masuk mempunyai ketulusan dan tanggung jawab untuk membesarkan partai.

“Apakah orang-orang ini diyakini bisa berjuang dan bekerja sama sebagai pengendali partai untuk menmbesarkan partai, saya berharap itu bisa. Kenapa karena sebelum mereka saya rekrut di partai ini saya akan mengajak mereka berdialog apa visi dan misnya,” papar Luthfi.

“Sebagai partai baru, layar saya akan kembangkan, kemudi saya pasang, meskipun gelombang datang menghadang. Saya tidak akan menyerah untuk membesarkan partai ini,” tegasnya.

[NEXT-RASUL]
Terkait kegaduhan yang terjadi internal NasDem Sulsel, pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Firdaus Muhammad menilai mundurnya Syamsu Bachri Sirajuddin sebagai ketua Bappilu menjadi cerminan kekecewaan kader terhadap sikap dan kebijakan Luthfi A Mutty terkait dengan reposisi.

Menurut Firdaus, selama ini prestasi NasDem di Sulsel tidak lepas dari kerja-kerja politik yang selama ini dilakukan Daeng Ancu. “Sehingga adanya pengunduran diri yang didasari kekecewaan akibat kebijakan yang tidak terkomunikasi secara baik, menjadi kerugian tersendiri bagi NasDem. Sejauh ini saya melihat peranan Daeng Ancu di NasDem cukup besar dalam mengantarkan partai ini memenangi agenda politik di Sulsel,” terangnya.

Firdaus menambahkan, meskipun NasDem Sulsel cukup berhasil dalam memenangkan sejumlah usungannya di pilkada serentak lalu, namun prestasi tersebut tidak terlepas dari banyaknya resistensi yang sebelumnya timbul di internal partai. Mulai dari penentuan usungan di pilkada yang banyak mendapat tantangan, dimana pada pilkada lalu banyak kader NasDem yang menginginkan agar figur internal diprioritaskan untuk bertarung di pilkada. Resitensi itu kemudian berlanjut, saat reposisi kepengurusan ini.

“Semestinya hal-hal seperti ini tidak perlu muncul, jika ada ruang komunikasi yang baik yang dibangun oleh Luthfi. Apalagi tantangan NasDem semakin besar untuk menghadapi event politik selanjutnya. karena tidak mudah mencari pengganti sekaliber daeng Anchu yang cukup hebat dalam mengatur kerja-kerja pemenangan,” terangnya.


Tag
  • NASDEM
  •  
    div>