JUMAT , 14 DESEMBER 2018

Basli Ali Dibajak Golkar – La Tinro “Buang Badan”

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 06 Desember 2016 11:24
Basli Ali Dibajak Golkar – La Tinro “Buang Badan”

int

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Aksi saling bajak kader kini lagi trend di Sulsel. Setelah kehilangan banyak kader, giliran Partai Golkar yang beraksi.

Adalah Basli Ali yang merupakan kader Partai Gerindra yang “dicuri” Golkar. Bahkan beringin kabarnya mengiming-imingi jabatan Ketua Golkar di Selayar.

Terkait hal itu, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulsel, Idris Manggabarani mengatakan Basli Ali masih berada kader Partai Gerindra. Oleh karena itu, kata dia, yang beredar bahwa Basli sudah ke Golkar masih sekedar wacana.

“Pak Basli itu masih kader kami, jadi kalau mengenai wacana-wacana yang beredar itu masih sekedar isu saja. Belum ada yang pasti, buktinya kan Pak Basli masih bersama kami,” kata Idris, Senin (5/12).

Bukan hanya itu, Idris mengklaim jika Bupati Selayar tersebut akan terus bersama Partai Gerindra. “Perlu saya sampaikan bahwa Pak Basli masih akan bersama Gerindra dan akan terus bersama Gerindra,” ucapnya.

Ia menambahkan, banyaknya kader Partai Gerindra yang diklaim oleh partai lain adalah sebuah bukti bahwa Partai Gerindra berhasil melakukan kaderisasi. Menurutnya, dirinya tidak akan mempermasalahkan jika ada kader partai lain yang melakukan pengklaiman terhadap kader Partai Gerindra.

“Memang Partai Golkar begitu, mencari kader terbaik dari partai lain seperti di Gerindra. Tapi kami tidak akan masalahkan, sebab itu membuktikan bahwa kami di Gerindra kaderisasi berjalan dengan baik. Sebab kader kami laris jika akan berpindah pada partai lain,” jelasnya.

[NEXT-RASUL]

Lanjut, Idris mengatakan Partai Gerindra sangat menghargai kader yang berproses. “Kami di Gerindra itu sangat menghargai proses kaderisasi dan tahapan kader, sehingga tentu kami tidak akan mudah merelakan kader kami yang memiliki potensi,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua DPD Gerindra Sulsel, La Tinro La Tunrung yang dihubungi melalui telepon selulernya tidak memberikan jawaban yang lugas. Meski demikian, mantan Bupati Enrekang dua Periode itu mengklaim Basli Ali masih di Gerindra.

“Sepengetahuan saya, Pak Basli itu masih di Gerindra. Tidak pindah sesuai pembicaraan saya,” kata La Tinro melalui pesan singkat yang dilayangkannya.

Wakil Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPD I Golkar Sulsel, Kadir Halid mengatakan Basli Ali sudah bersedia berseragam Golkar. Bahkan, Kadir mengklaim jika Basli sisa menunggu pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) DPD II Golkar Selayar.

“Beliau (Basli Ali) telah bersedia untuk masuk ke Golkar, bahkan beliau juga sudah bersedia maju pada Musda DPD II Golkar Selayar, jadi ini sisa menunggu Musda saja,” kata Kadir ketika ditemui di Gedung Tower Komisi D DPRD Sulsel, Senin (5/12).

Selain Basli, Kadir juga mengaku bahwa pihaknya akan terbuka kepada Wali Kota Makassar, Danny Pomanto untuk masuk dan bergabung dengan Partai Golkar. “Partai Golkar akan terbuka kepada Pak Danny,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Adapun mengenai posisi Danny yang bisa menempati Ketua DPD II Golkar, Anggota Komisi D DPRD Sulsel tersebut mengatakan hal tersebut nantinya akan dikembalikan kepada Danny. Menurutnya, jika Danny bersedia menjadi ketua DPD II Golkar Makassar maka dirinya akan diberikan diskresi dari Ketua Umum.

“Jika memang Pak Danny bersedia, kenapa tidak. Iya kan, apalagi Pak Danny itu bisa diberikan diskresi dari Ketua Umum langsung. Yang terpenting benar-benar mau serius dalam membangun dan membesarkan partai,” terangnya.

Pakar Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Adi Suryadi Culla mengatakan, klaim antar partai terhadap kepala daerah membuat wajah politik di Sulsel semakin menarik. Menurutnya, hal itu juga membuat elektabilitas partai tersebut menguat.

“Saya pikir ini menarik, jika partai ini saling klaim terhadap kepala daerah. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap elektabilitas partai yang ada di daerah,” kata Adi.

Menurut Adi, hal itu juga bagian dari kampanye publik bagi partai yang bersangkutan. “Posisi kepala daerah itu akan memberikan pengaruh dalam hal investasi politik dalam figur, karena kan secara politik kepala daerah akan memiliki kekuatan dalam hal mengamankan suara partai di daerah ketika moment politik seperti Pileg,” ucapnya.

Oleh karena itu, kata dia, saling klaim antar Gerindra dan Golkar tersebut adalah buntut dari perkembangan partai politik akibat dari adanya perpindahan sejumlah kasus kader partai yang menyeberang ke partai sebelumnya. Menurut Adi, hal ini tidak akan berhenti pada satu figur saja tapi akan berembes pada pejabat publik lainnya.

[NEXT-RASUL]

“Kasus ini kan akibat dari pengaruh dari kasus-kasus kader partai yang berpindah sebelumnya, dan saya pikir ini tidak akan berhenti sampai disini atau berhenti pada Pak Basli saja, tapi ini akan terus bergulir pada pejabat publik lain,” terangnya.

Ia menambahkan, secara etika politik, partai seharusnya tidak melakukan klaim terhadap figur tertentu apalagi kader dari partai lain. Meski kader tersebut dianggap sebagai kader yang memiliki potensi yang kuat.

“Mestinya partai itu harus menahan diri, jangan saling mengklaim terhadap figur tertentu. Karena kan kesannya tidak beretika secara politik. Apalagi kalau figur yang dicomot itu adalah sudah menjadi kader partai lain,” jelasnya.

Selain itu, bagi kepala daerah yang belum berpartai atau sudah menjadi kader partai tertentu untuk memiliki integritas politik. Adi menilai, kepala daerah juga mesti konsisten dan menolak ketika namanya dicomot oleh partai lain sedang dirinya telah menjadi kader partai tertentu.

“Integritas dalam berpolitik itu sangatlah penting, sebab selama ini banyak kader partai yang hengkang karena dipengaruhi oleh faktor integritas dan sikap pragmatis yang justru membuat hal itu tidak elok,” ulasnya. (E)


div>