SABTU , 17 NOVEMBER 2018

Bawaslu Gandeng Ormas Islam Cegah Politik Uang dan SARA

Reporter:

Fahrullah

Editor:

Iskanto

Rabu , 03 Oktober 2018 11:00
Bawaslu Gandeng Ormas Islam Cegah Politik Uang dan SARA

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulsel menggandeng Ormas Islam untuk mencegah kampanye SARA, money politic dan ujaran kebencian pada Pemilu 2019.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sulsel menggandeng Ormas Islam untuk mencegah kampanye SARA, money politic dan ujaran kebencian pada Pemilu 2019.

Hal itu dibuktikan saat Bawaslu Sulsel, khususnya Bawaslu Maros melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) dengan sejumlah Ormas Islam seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, DDI di Hotel Grand Mall Maros Selasa (2/10).

Kordiv Pengawasan Partisipatif Bawaslu Sulsel, Saiful Jihad mengatakan, nota kesepaham dibuat untuk membangun kerjasama antara tokoh dan ormas keagamaan dalam melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tahapan Pemilu 2019.

“Kesepahaman ini akan ditindaklanjuti dengan mengembangkan kegiatan yang sifatnya memberikan pendidikan politik kepada warga masyarakat agar dapat menjamin dan mengawal proses demokrasi, Pemilu 2019 berjalan dengan baik, berkualitas dan bermartabat,” kata Saiful Jihad.

Dirinya juga menyebutkan dalam pertemuan tersebut lebih banyak membahas bagaimana upaya mencegah tindak pelanggaran Pemilu, seperti money politic, SARA, ujaran kebencian.

“Untuk itu, peran tokoh agama dan ormas keagamaan menjadi sangat penting. Tokoh agama dan para ustadz, jika menyampaikan ke masyarakat dengan bahasa agama tentang bahaya politik uang (sogok), bahaya politisasi SARA dan menyebarkan berita hoax dalam kampanye, tentu masyarakat akan lebih faham dan menerimanya,” tuturnya.

Sementara, Ketua MUI Maros, Syamsuddin Khalik menjelaskan bahwa jika umat dan masyarakat diajak dalam bahasa agama, sebagai sebuah ajaran dan konsep yang dituntun oleh syariat agama maka pasti akan lebih efektif.

Olehnya itu dirinya berharap program kedepan mesti lebih banyak lagi melibatkan tokoh-tokoh agama, para muballigh dan pengurus masjid. “Usaha kita dalam mencerdaskan calon pemilih tentang sistem demokrasi yang kita anut dapat lebih efektif,” jelasnya. (*)


div>