RABU , 14 NOVEMBER 2018

Bayi Tersangkut di Pohon 18 Jam, Kisah Ini Bikin Merinding

Reporter:

Editor:

Iskanto

Rabu , 17 Oktober 2018 15:00
Bayi Tersangkut di Pohon 18 Jam, Kisah Ini Bikin Merinding

Arsya Putra Umara diapit kedua orangtuanya di lokasi pengungsian Desa Padende, Kecamatan Maraola, Kabupaten Sigi, Jumat (12/10). foto : Edwin Agustyan, Kaltim post

RAKYATSULSEL.COM – Seiring gulungan ombak tsunami di Palu yang meluluhlantahkan daratan, kalimat Syahadat terus diucapkan. Memberi keajaiban pada makhluk yang belum lama merasakan kehidupan.

EDWIN AGUSTYAN – Palu

AMALIA Nursam sudah tidak bisa lagi berdiri tegak. Rumahnya bak kapal di tengah lautan berombak. Tangannya terus mendekap Arsya Putra Umara. Si bungsu yang baru berusia 55 hari itu sedang disusui ketika gempa mengguncang Palu, Sigi, dan Donggala, Jumat (28/9) pukul 18.02, dengan kekuatan 7,7 magnitudo itu.

Belum sepenuhnya sadar dari guncangan, Amalia dan suaminya, Burhanuddin (30), diminta kerabatnya bergegas ke luar rumah. Teluk Palu sedang tak bersahabat. Kekuatan gempa menimbulkan tsunami.

“Saya lihat ada dua ombak besar. Yang pertama cuma sampai tanggul. Yang kedua mungkin sampai 10 meter. Posisinya seperti kepala ular kobra yang mengembang,” kata Amalia.

Kediaman Amalia hanya berjarak 12 meter dari bibir pantai. Cuma terpisah tanggul penahan ombak. Bersebelahan dengan rumah orangtuanya. Masuk wilayah Kampung Nelayan, RT 1, RW 2, Kelurahan Talise.

Sebelum menyelamatkan diri, Amalia menyerahkan Arsya kepada Burhanuddin. Baru beberapa langkah, perempuan 39 tahun itu terjatuh. Belum sempat dibangunkan Burhanuddin, tsunami sudah menerjang.

“Arsya saya gendong di tangan kiri, tangan kanan mau membantu mamanya (Amalia). Tapi belum sempat berpegangan,” kata Burhanuddin.

Tsunami memisahkan ketiganya. Burhanuddin terempas 600 meter di Jalan Yos Sudarso. Dada, perut, punggung, lengan, kakinya luka seperti tersayat. Dia menyelamatkan diri dengan menaiki lantai dua ruko melalui kanopi. Rasa waswas masih menggelayut, karena gempa masih mengguncang.

Lafaz syahadat tak berhenti keluar. Sujud syukur dilakukan. Sembari memanjatkan doa untuk keselamatan keluarganya.

Di ruko, pria berambut cepak itu bersama dengan dua perempuan. Salah satunya tanpa busana. Sementara yang lain menggunakan jins dan bra.

“Baju yang saya pakai, saya kasihkan. Ada juga orang lewat pakai mobil boks saya minta jaketnya untuk dua perempuan itu,” jelasnya. Setelah benar-benar aman, Burhanuddin baru turun lalu dievakuasi ke RS Undata.

Sementara, Amalia yang hanya bisa pasrah diombang-ambing tsunami terbawa arus hingga samping kantor harian Radar Sulteng, grup Kaltim Post (Jawa Pos Group).

Pemilik kulit sawo matang itu mencoba menjauh dari gedung, akibat gempa selepas tsunami. Dia berlari ke Jalan Soekarno-Hatta, tak jauh dari kampus Universitas Muhammadiyah Palu. Amalia bertemu dengan anak pertamanya, Muhammad Fajar (18), yang saat gempa berada di rumah kakeknya. “Kami lalu dievakuasi polisi ke Mapolda (Sulteng),” ujarnya.

Perasaaan Amalia campur aduk. Dia memikirkan keselamatan suami dan bayinya yang lahir baru 3 Agustus lalu, juga anggota keluarganya yang lain. Dengan kondisi yang tak berdaya, Amalia bertemu dengan kakaknya.

“Kakak saya itu yang mengumpulkan kami semua. Saat gempa dia di Desa Kalukubula, Kabupaten Sigi, jelasnya.

Pikiran Amalia masih belum tenang. Nasib Arsya belum diketahui. Ditambah pula dengan kepastian bahwa dia harus kehilangan ibunya, Zainab (68), akibat terseret tsunami.

Dengan kondisi itu, Amalia berharap banyak kepada Arif (30), adiknya. Arif lah yang keliling ke rumah sakit di Palu selama tiga hari. Seperti RS Undata, RS Bhayangkara, dan posko di Mapolda Sulteng.

Selasa (2/10), Amalia dan Burhanuddin melapor ke Polda Sulteng. Dia memberikan identitas Arsya dan ciri-cirinya. Keduanya sudah pasrah dan meminta jika jenazah bayi itu ditemukan, agar dikuburkan secara massal.

Harapan datang ketika Andika (34), adik Amalia lainnya, mendapat informasi tentang ditemukannya bayi berusia sekitar dua bulan di Kampung Nelayan, Rabu (3/10). Bayi itu berada di RS Wirabuana. Saat dicek di lembaran ketiga daftar korban yang ditemukan selamat, info itu ternyata benar.

Namun, ketika ingin melihat keberadaan bayi tersebut, pihak rumah sakit mengatakan kalau sudah dibawa pulang oleh orangtuanya. “Jadi saya diberi tahu adik kalau jangan terlalu berharap itu Arsya,” kata Amalia.

Keesokan harinya sekira pukul 11.00, keduanya mendatangi RS Wirabuana. Mereka mendapat kabar kalau bayi tersebut sudah dibawa ke posko pengungsi di Perumahan Wirabuana. Di perumahan itu, orangtua yang sedang galau tersebut bertemu dengan Bidan Anita dan Bidan Novi. Keduanya istri anggota TNI.

“Kami ditanya dari mana tahu informasi soal penemuan bayi. Soalnya info itu dirasa tidak menyebar,” tuturnya.

Pertanyaan pertama yang diajukan Novi dan Anita kepada mereka adalah ciri-ciri Arsya. Meski sudah dijawab dan sesuai dengan fisik si bayi, dua bidan itu masih tetap tidak percaya. Mereka seolah tidak ingin anak itu dirawat oleh orang yang salah. “Saya sampai tawarkan tes DNA,” sahut Burhanuddin.

Ketika mereka berdebat, Arsya sedang disusui oleh Novi. Kebetulan bidan itu juga memiliki anak berumur 2,5 tahun. Amalia sempat diminta untuk menggendong Arysa, untuk membuktikan ikatan antara anak dan ibu. “Arsya tersenyum waktu saya gendong,” kata Amalia.

Anita, Novi dan suaminya, Serka Rudi, yang datang belakangan, baru percaya setelah Burhanuddin meminta mengecek foto-foto Arsya di akun Facebook An’nur Clasic milik Amalia.

“Saya memang sempat upload foto Arsya waktu baru lahir, umur satu minggu, dua minggu, sebulan, dan dua hari sebelum kejadian gempa,” jelasnya.

Dari pengakuan Novi, siang itu Arsya rencana akan dibawa ke Surabaya untuk berobat. Bayi yang belum genap dua bulan itu akan dirawat petinggi TNI di Sulawesi Tengah. “Ibu (menyebut nama petinggi TNI) titip nama Manggala Sakti untuk anak saya,” katanya.

Padahal, mereka sudah memberi nama kepada si bayi. Namun, untuk menghargai dan tanda terima kasih Arsya telah dirawat, permintaan itu dituruti. Arsya Putra Umara pun berganti Putra Manggala Sakti. “Kami pertahankan Putra karena itu pemberian neneknya yang sudah meninggal,” ungkapnya.

Dari pengakuan Serka Rudi, Putra ditemukan aparat Brimob Polda Sulteng menyangkut di pohon trambesi. Sekitar 600 meter dari rumahnya. Sekira pukul 12.00. Dengan kata lain, bayi malang itu berada di pohon itu selama 18 jam.

“Saya tidak bisa bayangkan bagaimana bayi sekecil itu bisa bertahan. Saya ingin sekali bertemu dengan Brimob yang menemukan anak saya. Hanya terima kasih yang bisa saya berikan,” tutup Amalia, ditemui di pengungsian di Desa Padende, Kecamatan Maraola, Kabupaten Sigi, Jumat (12/10). (far/k16)


div>